Kultur Menentukan Penambahan Stunting dan Gizi Buruk

VO (5) tahun merupakan salah satu penderita stunting Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Foto: Rafael/VN

 

 

 

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penanganan dan Pencegahan Stunting Provinsi NTT Sarah Lery Mboeik, merespons peningkatan jumlah stunting dan gizi buruk di Sikka dan Malaka, sebagai bentuk masalah yang erat kaitannya dengan kultur atau budaya masyarakat setempat.
Penanganan kasus stunting di Sikka dan Malaka memang membutuhkan anggaran yang cukup demi lancarnya program penanganan.
Namun, selain anggaran, sebutnya, masalah relasi gender yang ia sebut sebagai kultur, sejatinya berpengaruh besar terhadap peningkatan jumlah stunting.

Tidak semua keluarga yang memiliki anak stunting merupakan keluarga miskin. Bukan semata masalah kemiskinan, tetapi ada pula masalah asuh dan perhatian dari keluarga kepada ibu dan kandungannya.
Apalagi daerah yang cukup kaya, seharusnya tidak boleh menjadikan anggaran sebagai alasan utama penyebab stunting.

“Ada pola asuh, pola makan, dan ada relasi gender di sana. Ingat juga, apalagi Malaka, Malaka itu cukup kaya,” kata Sarah kepada VN via WhatsApp, Selasa (18/5).

Menurutnya, anggaran yang disalurkan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehat, akan terasa kurang berarti bila dominasi gender lebih kuat.

Dia berpendapat, kuatnya dominasi gender seringkali menekan wanita. “Perempuan hamil kadang masih disuruh naik kuda dan kerja berat, ini juga berpengaruh pada kesehatan anak dan ibu,” tandasnya.

Pola asuh, khususnya para suami, harus memahami bagaimana menjaga ibu dan kandungannya. Menurut Sarah, Bapak Asuh ikut berperan mencegah dominasi gender dalam keseharian hidup keluarga.

Dalam Temuan Pokja Stunting NTT, relasi gender menjadi isu besar dari 5 isu lainnya yang berhubungan dengan belum optimalnya pemenuhan gizi.
Enam isu besar itu adalah kurangnya ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak, tidak berjalannya Bina Keluarga Balita (BKB), Paud dan Parenting, masalah JKN dan Jaminan Sosial, kualitas dan kepatuhan indikator spesifik serta konseling (Manfaat Vitamin A, TTD, Imunisasi), serta relasi gender.

Pokja Stunting NTT tetap optimistis mengurangi stunting dan gizi buruk pada tahun 2023, tutur Sarah, dan berbagai upaya tetap dilakukan, seperti bekerjasama dengan berbagai organisasi pemerintah daerah di berbagai Kabupaten/Kota di NTT.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dalam kunjungannya ke Kupang, mengatakan hal yang sama terkait kultur yang erat kaitannya dengan mindset.

Muhadjir mengimbau masyarakat untuk memiliki mindset hidup sehat melalui pembangunan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan. Kesadaran ini perlahan-lahan akan menjadi kebiasaan yang akhirnya membudaya, sehingga mengurangi dan mencegah jumlah stunting dan gizi buruk.

 

Bupati TTS Klaim Menurun
Bupati TTS Egusem Pieter Tahun mengklaim sejak 2018 hingga Februari 2021 angka stunting di TTS menurun drastis. Dari angka 16.904 atau 53,03 persen turun menjadi 14,247 atau 35,6 persen. Angka ini dipastikan menurun lagi setelah pengukuran Juni nanti.

“Saat pengukuran bulan Februari ada penurunan angka. Saya yakin akan turun lagi setelah pengukuran bulan Juni,” katanya.

Untuk menurunkan angka stunting, Bupati Epy mengaku salah satu program yang diterapkan adalah kembali ke desa. Setiap orang yang hidup di Kota Soe ketika kembali ke kampung wajib melakukan kegiatan secara swadaya untuk menurunkan sisa angka stunting.

Hal yang sama dikatakan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) TTS, Eirene Atte. Ia mengaku angka stunting di TTS sudah mulai menurun dari 53,03 persen pada tahun 2018 menjadi 35,6, persen setelah pengukuran pada Februari 2021. (mg-26/mg-12/ari)

Angka Penurunan Stunting TTS:
1. Tahun 2018-2019 : 4,9 persen
2. Tahun 2019-2020 : 7,5 persen
3. Tahun 2020-Februari 2021 : 5 Persen

Leave a Comment