Lagi, Kapolda NTT Digugat Mantan Anak Buahnya

Putra Bali Mula

 

Petrus Kopong Eban Ataklen, pecatan polisi pada 22 Agustus 2018 atau tiga tahun yang lalu ini menggugat Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur, Irjen Pol. Lotharia Latif.

Gugatan Petrus Kopong Eban Ataklen di PTUN Kupang tercatat dalam perkara nomor 30/G/2021/PTUN-KPG tanggal 22 September 2021.

Kapolda NTT, Irjen Pol. Lotharia Latif dalam keterangannya pada Rabu (24/11) membenarkan adanya gugatan tersebut.

Ia menyebut penggugat sebelumnya adalah anggota yang bertugas di Polres Lembata dengan pangkat terakhir adalah Briptu.

Petrus dipecat pada 22 Agustus 2018 karena disersi atau meninggalkan tugas tanpa ijin yang sah selama 123 hari. Rincinya, Petrus disebut meninggalkan tugas terhitung sejak 10 November 2015 hingga Maret 2016 atau lebih dari 30 hari.

Demikian menurut Lotharia pemecatan terhadap Petrus sudah melalui berbagai tahapan sidang etik dan disiplin anggota Polri.

“Yang bersangkutan (Petrus) disersi selama 123 hari dan sesuai aturan di kepolisian pantas untuk di-PTDH (pemberhentian tidak dengan hormat) atau dipecat,” tegas Lotharia.

Lotharia mengungkapkan seorang anggota Polri harusnya taat pada aturan yang berlaku di internal kepolisian.

“Bukan hanya mau haknya saja, tapi tidak mau melaksanakan kewajibannya,” lanjut Lotharia.

Lotharia sendiri mengaku siap menghadapi gugatan yang diajukan bekas anak buahnya karena setiap warga negara memiliki hak yang sama di depan hukum.

“(Soal PTUN) Biasa itu, kita hadapi sesuai aturan dan ini bertanda Polri patuh hukun dan demokratis,” tandasnya.

Ia menegaskan pemecatan terhadap oknum Polri bukan saja karena melakukan tindak pidana tetapi juga karena pelanggaran etik dan disiplin berat pun bisa mendapat sangsi pemecatan.

“Kalau tidak bisa ikut aturan jangan jadi anggota Polri karena menjadi anggota Polri harus bisa menjadi contoh bagi masyarakat dan mentaati kode etik dan aturan yang sidah ditetapkan,” tegas jenderal bintang dua ini.

Sebelumnya seorang pecatan Polri yakni Johanes Imanuel Nenosono juga menggugat Kapolda NTT karena tidak terima dipecat. Johanes sebelumnya adalah anggota Polres Timor Tengah Selatan dilakukan karena terlibat kasus asusila. Ia menghamili seorang perempuan hingga melahirkan seorang anak, namun Johanes justru tidak mau bertanggungjawab. Johanes bahkan berulangkali menyuruh wanita tersebut menggugurkan kandungannya.

Selain itu Johanes juga melakukan hubungan badan dengan wanita lain sebanyak tiga kali dan disersi atau meninggalkan tugas selama lebih dari 30 hari.

Johanes dipecat pada September 2021 lalu bersama 12 orang polisi lainnya. Namun pada 10 November 2021 Johanes mengajukan gugatan karena tidak terima dipecat. Gugatan Johanes terdaftar dalam perkara nomor 33/G/2021/PTUN-KPG. (Yan/ol)

Leave a Comment