Lita Ossiant Peserta Program PKW, Bangga dan Apresiasi terhadap Dekranasda NTT

Lita saat mempraktikkan cara menenun di Dekranasda NTT.

Simon Selly

Lita Ossiant (20), salah satu peserta dari program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) tenun ikat merasa bangga dan apresiasi terhadap PKW yang digelar Dekranasda NTT.

Hal tersebut disampaikan Lita, Rabu (24/11) siang, di Kantor Dekranasda NTT. Ia menjelaskan bahwa dirinya berawal dari rasa ingin tahu dalam proses pembuatan kain tenun.

Sebelumnya  ia mendapatkan informasi terkait pelatihan yang digelar oleh Dekranasda NTT, melalui grup keluarga.

“Saya sebelumnya tahu informasi ini dari grup keluarga yang disebarkan brosur ini, untuk ikut kegiatan pelatihan ini jadi saya tahu dari grup keluarga. Terus saya coba daftar, sebelumnya saya tiba di kupang itu kaget ada kain-kain seperti ini karena di Manado itu jarang melihat kain-kain seperti ini,” jelasnya.

Lita Ossiant gadis kelahiran Manado yang baru dua tahun menetap di Kota Kupang, ia ingin mengetahui cara pembuatan tenun ikat di NTT

“Jadi saya tanya di kawan-kawan sebenarnya ini kain apa sih, terus dikasih tahu kalau itu kain tenun dan dari bahan apa, dan mereka bilang hanya benang. Terus dari situ saya berfikir dari benang setipis itu bisa jadi kain sebagus ini dengan motif begitu. Jadi dengan adanya rasa ingin tahu makanya saya ikut dan mendaftarkan diri karena ingin tahu supaya mengenal lebih jauh tentang tenun,” jelasnya.

“Untuk pendaftarannya itu ke Dekranasda sini dengan persyaratan dari KTP, dengan foto jadi setelah dikirim langsung disuruh datang untuk mengikuti pelatihan di Dekranasda NTT,” tambahnya.

Setelah mengikuti PKW, ia mengaku, sudah menghasilkan satu kain tenun ikat). Kendala dalam  pelatihan menenun salah satunya, kata dia, ada benang kusut dan putus saat melakukan tenun dan juga rasa capek karena duduk terlalu lama.

“Saya ikut pelatihan ini tidak dengan keterpaksaan tapi inisiatif sendiri malahan saya senang ikut ini pelatihan dan dari hati yang ingin tahu tenun itu seperti apa,” tambahnya.

Lita berpesan bagi kaum muda, dalam membangun usaha tidak berpatokan terhadap usia maupun ras. Namun, yang menjadi prioritas ialah keinginan untuk berwirausaha.

“Saya baru 20 tahun. Pesan saya untuk anak-anak muda di luar sana itu untuk membangun usaha tidak pandang umur, orang apa, namun ini merupakan dari hati dimana bila ingin maju dan sukses harus usaha serta jangan pernah malu dengan usaha apapun itu yang dimulai dari hal-hal kecil,” tukasnya.

Sebelumnya Ketua Dekranasda NTT Julie Sutrisno Laiskodat, kepada awak media Rabu (24/11), di gedung Dekranasda NTT, l mengatakan peserta pelatihan merupakan anak milenial putus sekolah dan tidak melanjutkan kuliah atau bekerja. Peserta dilatih untuk membuat tenun ikat dan tenun sotis. Dari jumlah itu, 36 orang mengikuti pelatihan menenun di Dekranasda NTT, sedangkan peserta lainnya mengikuti pendidikan yang tersebar di 17 kabupaten.

“Mereka diajarkan mulai dari proses awal menenun seperti menggulung benang, membentangkan benang, mengikat benang sesuai pola dan motif, pewarnaan dengan menggunakan antiluntur hingga proses menenun menjadi kain yang indah,” ujar Julie selaku ketua Dekranasda NTT.

Selain itu, peserta PKW juga diajarkan untuk berwirausaha, memulai rintisan usaha serta pemasarannya, baik secara langsung maupun melalui e-e-commerce. Setelah mereka menyelesaikan program pelatihan, masing-masing akan diberikan bantuan dalam memulai usahanya.

“Mereka nantinya akan mendapatkan alat tenun full set, benang dan modal untuk memulai usaha. Tenunan hasil peserta PKW akan dibeli oleh dekranasda sehingga memotivasi mereka, karena pasarnya sudah ada,” terangnya.

Setelah program PKW ini selesai, Dekranasda NTT terus melakukan pendampingan bagi para peserta, baik itu yang berwirausaha secara kelompok maupun mandiri. (Yan/ol)

Leave a Comment