Low Base Effect dalam Tingginya Pertumbuhan Ekonomi

Marthin Fernandes Sinaga (Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Sumba Timur)

INDONESIA akhirnya terlepas dari jeratan resesi ekonomi yang sudah dialami selama setahun terakhir. Singkatnya, resesi ekonomi merupakan suatu kondisi ketika ekonomi mengalami kemunduran dan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) yang tumbuh negatif dalam dua kuartal atau lebih secara berturut-turut.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru pada kuartal kedua tahun 2021, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 7,07 persen secara Year-on-Year (YoY). Kondisi ini merupakan sebuah tanda pemulihan ekonomi kala pandemi virus Covid-19 yang masih merebak.

Ekonomi Indonesia saat Ini

Beberapa negara besar yang sebelumnya terpukul seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Singapura, maupun negara-negara di Uni Eropa mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi. Kondisi tersebut mendorong aktivitas perekonomian Indonesia yang lebih menggeliat. Hal tersebut tampak dari peningkatan aktivitas ekspor dan impor, masing-masing naik sebesar 31,78 persen dan 31,22 persen secara YoY.

Berdasarkan lapangan usaha, tiga sektor menjadi sumber terbesar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2021 yaitu industri pengolahan sebesar 1,35 poin, perdagangan dan reparasi sebesar 1,21 poin, serta transportasi dan pergudangan sebesar 0,77 poin. Dua sektor di awal tersebut termasuk dalam tiga besar sektor dengan nilai kontribusi terbesar dalam PDB, bersama dengan sektor pertanian. Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan nilainya tumbuh pesat sebesar 25,10 persen terhadap kuartal I/2020.

Beberapa Kebijakan Kunci

Terdapat beberapa kebijakan penting yang diterapkan pemerintah, salah satunya adalah program relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 100 persen untuk beberapa jenis mobil. Sektor yang terkait dengan kebijakan ini yaitu industri alat angkutan dan perdagangan. Dampaknya sangat terasa pada jumlah penjualan mobil di kuartal II/2021 tumbuh 758,68 persen dibandingkan kuartal II/2020. Peningkatan ini luar biasa mengingat di masa awal pandemi, daya beli masyarakat sangat menurun dan cenderung menahan diri untuk membeli kendaraan.

Selain itu, aktivitas masyarakat juga lebih meningkat secara YoY yang ditandai dengan peningkatan penumpang pada angkutan. Hal tersebut tampak pada bulan April-Juni 2021 terdapat 8,75 juta orang yang bepergian dengan pesawat udara, naik 464,51 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2020. Kemudian, relaksasi kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat juga mendorong peningkatan kunjungan wisatawan lokal di beberapa daerah sehingga berkontribusi positif pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 21,58 persen.

Adanya bulan puasa dan hari raya Idul Fitri juga menjadi momentum peningkatan aktivitas ekonomi di kuartal ini dimana konsumsi masyarakat lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasa. Hal tersebut juga didorong dengan adanya pembagian THR, baik dari pemerintah maupun swasta. Salah satu sumber lain dari peningkatan konsumsi masyarakat adalah adanya bantuan sosial sebesar 69,54 triliun rupiah yang telah direalisasikan oleh pemerintah hingga bulan Juni 2021.

Ilusi ‘Low Base Effect’

Pertumbuhan sebesar 7,07 persen pada kuartal II/2021 ini memang merupakan pertumbuhan ekonomi secara kuartalan tertinggi Indonesia sejak akhir tahun 2004. Kondisi tersebut merupakan angin segar di tengah kondisi sulit sebagai dari akibat dari pandemi yang berkepanjangan. Namun, euforia tersebut sejatinya tidak perlu dirayakan secara berlebihan.

Kenaikan yang tampak sangat besar tersebut berakar dari fenomena yang dinamakan low base effect. Singkatnya, fenomena tingginya pertumbuhan ekonomi ini adalah dampak dari rendahnya angka PDB pada kuartal II/2020, yang hanya sebesar 2.589,6 triliun rupiah dengan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun 2010. Nilai PDB ADHK yang tidak memperhitungkan pengaruh perubahan harga ini akan lebih tepat digunakan pada saat melihat pertumbuhan dari waktu ke waktu.

Jika kita tarik ke kuartal kedua tahun 2019, PDB ADHK Indonesia pada tahun 2021 hanya tumbuh sebesar 1,37 persen dalam waktu 2 tahun. Padahal, jika kita tarik ke waktu yang lebih panjang, sejak tahun 2016 hingga 2019, ekonomi Indonesia selalu tumbuh di atas 5 persen. Hal ini menjadi catatan penting yang menunjukkan perekonomian Indonesia belum sepenuhnya pulih dan kembali ke track record awal.

Beberapa sektor penting juga masih belum sepenuhnya pulih jika dibandingkan dengan tahun sebelum adanya pandemi. Sektor-sektor yang masih mencatatkan pertumbuhan negatif jika dibandingkan tahun 2019 yaitu transportasi dan pergudangan (-13,43 persen), akomodasi makan minum (-5,13 persen), jasa perusahaan (-3,36 persen), konstruksi (-1,21 persen) dan industri pengolahan (-0,01 persen).

Sektor transportasi dan pergudangan serta akomodasi makan minum memang mencatatkan pertumbuhan terbesar dibandingkan tahun 2020. Namun, ketika dibandingkan terhadap tahun 2019, sektor tersebut ternyata masih tumbuh negatif. Hal tersebut merupakan bukti lain adanya fenomena low base effect.

Jalan Masih Panjang

Bagaimanapun juga, momentum pertumbuhan ekonomi ini harus dilanjutkan di kuartal III/2021. Sebagai catatan, pada kuartal ini kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi akan mengalami goncangan akibat dari adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Hal tersebut sudah ditunjukkan dari angka indeks PMI Manufaktur Indonesia pada bulan Juli 2021 yang kembali di bawah angka 50, yaitu sebesar 40,1. Indeks ini erat kaitannya dengan aktivitas pada industri pengolahan. Selain itu, kondisi PDB di kuartal III/2020 juga lebih baik dibanding kuartal sebelumnya, sehingga fenomena low base effect tidak akan terjadi.

Masih banyak pekerjaan berat, khususnya pemerintah, dalam mengatasi hal ini. Salah satunya adalah memastikan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran. Hingga Juli 2021, realisasi anggaran dana PEN baru mencapai 41 persen dari total nilai pagu 744,75 triliun rupiah. Ini merupakan pekerjaan rumah yang harus segera dibereskan khususnya pada pos anggaran kesehatan yang masih direalisasikan sebesar 30,5 persen. Padahal pos ini mencakup pembiayaan kesehatan maupun vaksinasi.

Perlu diingat, musuh sesungguhnya dari sulitnya perekonomian adalah pandemi virus Covid-19 yang sangat membatasi aktivitas masyarakat. Satu fokus yang dapat dilakukan adalah menggenjot tingkat vaksinasi yang hingga 13 Agustus 2021, baru 13,14 persen dari 208 juta penduduk target mendapat vaksinasi dosis penuh. Vaksin memang tidak bisa membuat seseorang terhindar sepenuhnya dari virus Covid-19. Namun, setidaknya vaksin terbukti ampuh dalam menghindari dampak virus yang lebih berat.

Selain itu, masyarakat juga harus tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan 5M yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Sebab, sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, khususnya dalam menjalankan peran masing-masing, sangat diperlukan dalam keluar dari badai pandemi ini, secepat mungkin, sesegera mungkin.

Leave a Comment