Masyarakat Lebih Suka Beli Rokok daripada Beli Makanan Bergizi untuk Anak

Salah satu tangkapan layar penjelasan Prof. Fred Benu dalam materi Kearifan Pangan 'Salome' untuk Atasi Stunting.
Salah satu tangkapan layar penjelasan Prof. Fred Benu dalam materi Kearifan Pangan 'Salome' untuk Atasi Stunting.

Beverly Rambu

Salah satu penyebab masalah stunting di NTT yakni ketidakpedulian masyarakat dalam hal ini orangtua terhadap pola makan anak yang mengandung gizi cukup.

Hal ini ditegaskan Rektor Undana Fred Benu dalam kegiatan webinar nasional BKKBN 100 Profesor Bicara Stunting khusus mengamati situasi di NTT.

“Penghasilan yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan merokok, beli motor, bangun rumah, hp, pulsa dan lain-lain dibandingkan memenuhi kebutuhan makan anak,” ujar dosen senior Fakultas Pertanian Undana ini.

Dari sisi pangan, secara garis besar ia mengatakan stunting disebabkan oleh kemiskinan (poverty) dan mata pencaharian (livelihood). Menurutnya, terjadi perubahan mata pencaharian khususnya orangtua yang merupakan pasangan usia subur.

Jika dulu banyak pasangan usia subur beprofesi sebagai petani dengan rata-rata menerapkan sistem mix cropping, saat ini terjadi pergeseran dimana pasangan usia subur memilih profesi menjual jasa layanan tersier informal seperti menjadi tukang ojek, supir, tukang jual koran, ojek pengangkut mangan, dan lain-lain. Masyarakat lebih memilih mendapatkan uang cash daripada menanam kebutuhan pangan keluarga untuk kebutuhan harian. Sayangnya, penghasilan yang diperoleh lebih diprioritaskan untuk kebutuhan lain daripada memberikan alternatif komposisi pangan bagi anak atau ibu hamil.

Masyarakat juga cenderung memberikan makanan instan seperti biskuit dan mie instant daripada memberikan variasi makanan bergizi kepada anak. Pasangan usia subur dan ibu hamil juga banyak mengonsumsi makanan instan. Masyarakat juga sudah tidak mau bersusah payah memproduksi tanaman pangan atau membuat makanan yang lebih variatif bergizi untuk anak karena alasan pekerjaan, tidak ada waktu, dan lain-lain.

“Kita bisa lihat banyak anak diberi makan biskuit padahal di sisi lain ada sumber makanan dari alam yang sudah tersedia dari dulu di alam yang tampaknya tradisional tapi gizinya beragam. Daripada makan biskuit atau mie yang kesannya modern tetapi tidak memenuhi kebutuhan gizi anak. Ada jagung, ubi, labu, kacang tanah, kacang nasi dan lain-lain. Jadi, prinsipnya yang penting kenyang tapi tidak melihat nilai gizinya. Pasangan subur cenderung memilih hasil produksi instan sehingga berdampak pada pola konsumsi instan. Mereka pikir cukup beli supermi cukup. Soal mindset juga,” jelasnya.

Selain itu faktor kemiskinan membuat masyarakat sulit menyajikan ragam pangan alternatif dan bergizi bagi anak.

Dalam webinar itu, Prof. Benu juga menyarankan agar kearifan petani yang sudah ada sejak zaman dahulu yakni mix cropping atau tanam campur atau istilah ‘salome’ (satu lubang rame-rame) bisa digalakkan kembali.

“Di situ dia bisa tanam kacang, labu, ubi, jagung, macam-macam, sehingga ketika ada kejadian kekeringan atau Covid-19 misalnya, sumber pangan terjaga. Kalau jagung tidak jadi, masih ada labu, labu tidak jadi masih ada kacang,” ungkapnya.

Kebijakan pemerintah soal pengembangan pertanian, kata Prof. Benu, juga perlu memperhatikan agar kearifan lokal ini tidak ditinggalkan.

“Saya lihat pemerintah lebih fokus pada pada upaya peningkatan produksi dan produktivitas satu tamanan yang ditanam di satu larikan lurus padahal di lahan kering kita ini bukan tanah yang berbatu-batu tapi batu yang bertanah-tanah jadi di banyak tempat petani harus cari tanah yang subur untuk menumbuhkan bibit tidak bisa satu larikan karena banyak batu,” jelasnya.

Ia menjelaskan, meningkatkan produksi dan produktivitas penting tetapi perlu diingat bahwa bibit unggul produktivitasnya meningkat jika didukung input produksi seperti pupuk, pestisida, hebrisida, dan air. Jika input ini tidak diperhatikan maka produksi dan produktivitas tidak tercapai sehingga ketika gagal panen padi atau jagung masyarakat tidak punya alternatif sumber pangan lagi.

Ia mengatakan berdasarkan hasil penelitian yang baru dipublikasikan di jurnal internasional 29 Juni lalu hasil kerjasa 41 ahli menyebutkan masyarakat yang berada di pegunungan jauh lebih bisa bertahan dengan sistem tanam campur atau mix cropping dibandingkan masyarakat petani gandum dan beras saat menghadapi tekanan eksternal Covid-19. (bev/ol)

Leave a Comment