Menakar Pancasila Menguji Keindonesiaan (Mengenang Hari Lahir Pancasila)

Lasarus Jehamat (Dosen Sosiologi FISIP Undana-Kupang)
Lasarus Jehamat (Dosen Sosiologi FISIP Undana-Kupang)

 

Di peringatan hari lahir Pancasila, kita semua laik memeriksa eksistensi kita sebagai sebuah bangsa. Pemeriksaan itu berhubungan dengan praktik berbangsa dalam konteks negara secara politik.

Beragam soal yang mendera bangsa Indonesia akhir-akhir ini mewajibkan semua pihak untuk kembali merenungkan identitas kita sebagai sebuah bangsa. Isu radikalisme, gejala postsekularisme, masuknya agama ke dalam politik dan lain-lain seakan menunjukkan bahwa sebagai sebuah bangsa, Indonesia lupa akan identitas bangsa.

Tesis Hutington (1996) mendapatkan kepenuhan di sini. Konflik terjadi dan itu harus diakui. Konflik terjadi bukan antarnegara. Konflik justru muncul dan terjadi antarbangsa dalam sebuah negara berdaulat. Sebuah pesan konflik antarperadaban sebagaimana diramalkan Huntington.

Gugatannya adalah mengapa terjadi demikian? Jika benar pembangunan memang telah dilakukan dan sedang dijalankan di negara ini, kiranya masalah bisa diselesaikan perlahan. Hemat saya, soal besar kita adalah ketika mengabaikan realitas kebangsaan yang amat plural. Karena itu, pemahaman akan memori kolektif bahwa kita adalah bangsa majemuk menjadi soal pokoknya.

Tesis itu memunculkan gugatan lain soal alasan memudarnya memori kolektif yang telah mengurat tetapi tidak mengakar itu. Di sini, lembaga-lembaga sosial kontemporer yang datang silih berganti di ruang kebangsaan Indonesia harus diperiksa. Agama konvensional di satu sisi dan kapitalisme di sisi yang lain dalam langgam negara sebagai lembaga politik harus sama-sama bertanggung jawab.

 

Inti Pancasila
Membaca pandangan ahli di atas, mudah kiranya menjelaskan tentang identitas kita sebagai sebuah bangsa. Membaca Indonesia, sulit untuk tidak menempatkan Pancasila sebagai inti utama. Di Pancasila, yang paham tentang Indonesia akan segera tahu bahwa bangsa ini memang berlandaskan pada aspek Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan. Lima sila itu menegaskan bahwa kita memang beda. Kita tidak sama. Yang sama adalah bahwa kita semua di Indonesia, sebagai sebuah bangsa tentu, harus mengakui bahwa Tuhan itu ada.

Di aspek ini, pendiri negara tidak menyebutkan agama. Mereka rupanya tahu bahwa menyebut agama menjadi amat multitafsir dan sangat sensitif. Maka, pendiri bangsa menggunakan istilah Ketuhanan daripada agama. Pendiri bangsa paham benar bahwa Indonesia itu kaya budaya, etnis dan agama. Indonesia bukanlah entitas tunggal. Indonesia terdiri dari banyak etnis, agama, budaya, bahasa dan lain-lain. Dalam ruang seperti itu, posisi manusia menjadi amat penting. Itulah alasan mengapa setelah Tuhan, manusia menjadi landasan lain dari Pancasila.

Sadar akan eksistensi bangsa yang sangat mejemuk itu maka pendiri bangsa kembali mengingatkan anak bangsa untuk menempatkan persatuan sebagai dasar negara. Sebab, jika tidak didasari semangat persatuan, beragam aspek yang berbeda bisa saja menjadi hambatan utama berdirinya sebuah negara bangsa.

Dalam ruang perbedaan, pengambilan keputusan menjadi perkara lain yang dipikirkan pendiri bangsa. Itulah alasan mengapa muncul sila permusyawaratan itu. Tujuannya adalah agar setiap persoalan harus didiskusikan dengan baik. Di sana tidak ada mayoritas-minoritas. Yang diharapkan adalah menyelesaikan persoalan dengan berdiskusi secara terbuka dan, meminjam pandangan Habermas, jujur. Tanpa ada keeterbukaan dan kejujuran maka riak perbedaan akan terus membesar.

Semua yang disebutkan di atas harus pula berlandaskan keadilan. Keadilan disebut dalam sebuah alam perbedaan. Tujuannya jelas. Agar yang mayoritas tidak seenaknya memangsa yang minoritas dan sebaliknya; yang banyak tidak menghakimi yang sedikit. Itu sila keadilan.

 

Literasi Pancasila
Apa yang salah dari praksis berbangsa saat ini? Hemat saya, kekeliruan terbesar bangsa ini ialah kekosongan kesadaran bahwa kita memang beda. Karena kosong, banyak pihak yang salah bersikap dan gagal bertindak dalam membumikan nilai-nilai Pancasila.

Karena itu, dua elemen yang harus segera berbenah. Struktur dan aktor. Mengapa demikian? Karena jalinan interaksi dua elemen itu merupakan kunci untuk membumikan Pancasila.
Dalam kerangka struktur, nilai Pancasila sesungguhnya banyak ditelikung oleh pola relasi yang terlampau ekslusif. Padahal, Pancasila mengajarkan keterbukaan. Oleh satu dua lembaga, Pancasila terlihat amat sakral dan sakralitas itu memunculnya wacana eksklusivisme.

Dalam banyak kasus, nilai-nilai Pancasila salah bahkan tidak dipraktikkan. Padahal, jika insan Indonesia memahami esensi negara ini, Pancasila harus dianggap sebagai idealitas yang wajib dipraktikkan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dari perspektif aktor, harus diakui, yang banyak menelikung nilai Pancasila adalah mereka yang katanya cerdik pandai di negara ini. Pancasila tidak pernah ditelikung oleh rakyat jelata. Ini fakta yang harus diakui secara jujur.

Maka, gerakan literasi Pancasila harus terus dilakukan. Hal ini terutama bertujuan agar semua pihak di Republik ini disadarkan akan eksistensi bangsa yang berbeda dan majemuk. Pancasila tidak bisa hanya dijadikan bahan kuliah dan diajarkan di kelas tetapi harus dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya sangat percaya, jika Pancasila telah dijadikan cara dan gaya hidup kaum elite (ekonomi, sosial, hukum, dan politik), kelompok masyarakat lain akan mudah mengikuti perilaku baik kelompok yang bersangkutan.
Itulah yang disebut materialitas nilai Pancasila. Bahwa nilai Pancasila tidak hanya berisi perkara-perkara ideal tetapi justru menjadi nyata dalam praktik sosial manusia Indonesia. Jika literasi Pancasila berhasil, Indonesia tentu semakin kokoh dan kuat berdiri di atas dinamika berbangsa dan bernegara. Selamat Hari Lahir Pancasila.

Leave a Comment