Mengenal Yap I Tjao, Penggagas Monumen Sobe Sonbai

Monumen Pahlawan Sonbai di Kelurahan Merdeka, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang. Foto:Nahor vn

Yapi Yapola adalah pria keturunan Tionghoa kelahiran SoE, 22 Januari 1946. Almarhum bernama asli Yap I Tjao, merupakan penggagas pembuatan monumen Sobe Sonbai III di Kota Kupang.

Berdasarkan arsip VN, Yapi Yapola merupakan anak ketiga sekaligus sebagai putra sulung dari pasangan Tjap Ju Hok (alm) dan Sia Kimoe (Almh). Ia menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SoE tahun 1952, melanjutkan pendidikan ke sekolah Tionghoa setingkat SMP saat ini.

Pendidikan itu tidak diselesaikannya karena ayahnya meninggal di usia yang masih muda, sehingga sebagai putra tertua, Yapi Yapola memutuskan berhenti sekolah untuk membantu ibunya bekerja mencari nafkah bagi semua anggota keluarganya.

Yapi Yapola mulai menemukan jalur usaha yang memiliki omset besar. Ia menetap di Kupang dengan usaha perdagangan di Jalan Siliwangi. Usaha tersebut kemudian berkembang dan membawa Yapi berkelana ke sejumlah daerah di Indonesia dan sejumlah negara lain, dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kota yang lebih baik dibandingkan dengan Kota Kupang saat itu.

Saat usianya belum genap 30 tahun, Yapi yang memiliki jiwa sosial dan kemampuan berkomunikasi lintas generasi dan kelompok sosial ini, menggagas dan membiayai pembangunan monumen Sobe Sonbai. Monumen ini dibangun dengan semangat untuk mengenang jasa para pahlawan daerah, serta memberikan warna ikon bagi Kota Kupang, sebagaimana yang dilihatnya di sejumlah daerah yang pernah ia kunjungi.

Alhasil komunikasi yang dibangun Yapi dengan Gubernur NTT atau dikenal sebagai Kepala Daerah Tingkat I saat itu, El Tari, bersambut.

Pembangunan patung pertama di Kota Kupang pun mulai dibangun dan diresmikan Gubernur El Tari pada 31 Juli 1976, dan nama Yapi Yapola sebagai penggagas dan yang membiayai pembangunan monumen atau patung Sonbai ikut tertulis pada prasasti yang ditandatangani Gubernur El Tari saat itu. Zakaria selaku Ketua Program Studi Sejarah Universitas Nusa Cendana, saat dihubungi VN pada Senin (2/3) rupanya telah mengkhawatirkan kondisi tersebut.

“Terus terang perjuangan dari Sobe Sonbai III ini tidak diketahui oleh milenial sekarang. Jangankan anak muda, orang tua pun tidak tahu karena orang NTT tidak belajar sejarahnya sendiri,” kata dia.

Ia menilai, hal ini dipengaruhi juga oleh kurikulum pendidikan di Indonesia selama ini monoton mengangkat sejarah dari daerah-daerah lain seperti Jawa dan Sumatera dibandingkan sejarah lokal NTT.

Literatur mengenai tokoh-tokoh sejarah lokal NTT juga masih kurang ditulis dan diterbitkan kepada khayalak padahal banyak penelitian sejarah yang sudah dilakukan sejak lama di NTT. Beberapa hal ini menyebabkan tenaga pendidik di NTT tidak paham benar soal sejarah daerahnya sendiri dan lebih paham sejarah-sejarah pahlawan dari luar.

Untuk itu, ia berharap Taman Sonbai dapat lebih interaktif menggunakan media literasi dan edukasi kepada publik yang berkunjung ke taman tersebut. Tidak saja menjadi spot wisata tetapi masyarakat akan mendapatkan pengetahuan sejarah.

“Patung itu hanya simbol tetapi ada cerita seperti relief atau semacam ada alat atau orang yang menceritakan hal ini, entah apa, sehingga anak-anak yang mengunjungi tempat itu tahu cerita dibalik perjuangan Sobe Sonbai III,” kata dia.

Zakaria, akademisi sejarah dari Universitas Nusa Cendana menjelaskan riwayat perjuangan Sobe Sonbai III yang merupakan Raja Oenam di Pulau Timor dan diabadikan menjadi monumen yang kini dapat ditemui di Taman Sonbai, Kota Kupang.

Raja Sobe Sonbai III, jelasnya, melakukan perlawanan keras terhadap kolonialisme Belanda hingga dirinya meninggal. Tetapi pihak Belanda tidak menyampaikan letak pasti makam Sobe Sonbai III dan sampai sekarang.

“Sobe Sonbai III tidak sudi wilayahnya diambil oleh Belanda yang mencaplok wilayah kerajaan, termasuk Kauniki, pada masa Raja Sonbai sebelumnya berdasarkan perjanjian Paravicini tahun 1756,” ungkapnya.
Paravicini adalah kontrak dagang yang ditandatangani oleh semua raja yang berada di Pulau Timor dengan VOC. Kontrak itu berisi persetujuan memberikan daerah 6 pal (zes palen gabied) atau luas daerah dengan jarak 9 kilometer ke darat mulai dari Tanjung Oesinas sampai dengan Tanjung Sulamu untuk pemerintah Belanda.

“Wilayah Oepaha mengitari Pantai Barat Pulau Timor terus ke arah Utara kupang tarus Baubau, Pariti hingga perbatasan Timor Leste yang merupakan Kerajaan Ambenu saat itu. Daerah zes palen gabied yaitu daerah enam pal dihitung dari garis pantai ketika air surut,” jelas dia.

Ia menyebut zes palen gabied adalah daerah yang tidak boleh ditempati oleh orang Timor dan harus dikosongkan enam pal atau kurang lebih 9 kilometer dari pantai.

Masyarakat Rote kemudian ditempatkan Belanda di wilayah zes palen gabied tersebut sebagai perisai terhadap serangan dari masyarakat Timor yang dipimpin Sonbai III. Menurutnya, ini bagian dari politik pecah belah yang dilakukan pihak Belanda saat itu.

Pada tahun 1903 Sobe Sonbai III melakukan penyerangan melawan Belanda sehingga terjadi Perang Bipolo. Kemenangan diraih oleh Sobe Sonbai III dan karenanya memancing Belanda membuat serangan balasan terhadap Sobe Sonbai III. Serangan satu malam itu juga menyebabkan Desa Nunkurus terbakar.

“Paginya sudah ada 85 mayat tanpa kepala,” kata dia.

Belanda geram akan hal tersebut sehingga mengerahkan kekuatan besar menggunakan tentara angkatan darat dan juga alat tempur angkatan laut dari wilayah pantai.

“Sonbai bertahan mati-matian di bawah komando para Meo (panglima) seperti Meo Toto Smaut yang hebat. Jadi tidak gampang Belanda menembus pertahanan Sobe Sonbai III,” lanjut Zakaria.

Belanda akhirnya masuk ke wilayah pedalaman Pulau Timor pada saat kekalahan Sobe Sonbai III di tahun 1905. Belanda juga membuat markas di wilayah Kapan, yang saat itu juga merupakan bagian dari Kerajaan Oenam, berkat kemenangan mereka atas Sobe Sonbai III.

“Mulai itu baru Belanda masuk sampai di pedalaman Pulau Timor. Sebelum itu mereka sama sekali tidak berani karena dihadang Sobe Sonbai III,” jelasnya. (putra bali mula/pol/yan/ol)

Leave a Comment