Menjadi Dosen di Era Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi

Oleh Otniel Blegur
(Dosen Stikes Nusantara-Kupang)

 

 

PERGURUAN tinggi merupakan salah satu sarana pembelajaran generasi penerus bangsa yang dituntut melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Keberhasilan proses pendidikan di perguruan tinggi dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Salah satu faktor tersebut adalah dosen. Sesuai pasal 1 ayat (2) UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sebagai tenaga pendidik dan pengajar, dosen wajib menciptakan suasana pendidikian yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis; mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, memberi teladan, menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dosen yang profesional adalah yang melakukan pekerjaan sebagai sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu, serta memerlukan pendidikan profesi. Kemampuan dan dan keterampilan dasar yang dimiliki pendidik atau dosen antara lain keterampilan menerapkan teori belajar, merancang pelaksanaan program pembelajaran, menyampaikan materi perkuliahan dan merencanakan, serta melaksanakan penilaian hasil belajar. Dengan keterampilan dan kemampuan dasar itulah pendidik atau dosen dikatakan profesional.

Peningkatan ketrampilan dasar teknik instruksional – applied approach (Pekerti-AA) yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi adalah program pelatihan bagi para dosen sebagai upaya peningkatan profesionalitas. Pekerti-AA akan memberikan pelatihan bagi dosen bagaimana cara meningkatkan keterampilan dalam merancang, mengelola, dan menilai pembelajaran, serta memanfaatkan hasil-hasil penelitian untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Program Pekerti-AA sangat diperlukan agar proses pembelajaran mampu menghasilkan kualifikasi kompetensi lulusan yang handal dan dengan kebutuhan jaman yang relevan. Untuk meningkatkan profesionalitas dosen penting untuk mengikuti Pekerti-AA.

Di era Revolusi Industri 4.0 muncul teknologi baru yang yang mengakibatkan perubahan luar biasa di semua bidang, tidak terkecuali pendidikan. Apabila fungsi dosen hanya sebatas transfer ilmu kepada mahasiswa atau hanya sekadar mengajar di kelas, maka perannya akan tergantikan oleh teknolog. Teknologi terus berubah, menjadi lebih cepat atau lebih murah namun saat ini masih banyak dosen yang resisten terhadap perkembangan teknologi sekalipun dunia pendidikan telah bertransformasi Pada saat ini justru dibutuhkan dosen-dosen terbaik yang memahami dinamika kelas dan memanfaatkan teknologi guna mengedukasi mahasiswa. Teknologi akan membuat dosen lebih percaya diri dan lebih mudah dalam mengajar mahasiswanya sehingga mampu mengubah ruang yang kreatif, inovatif dan menyenangkan; kelas menjadi ruang belajar.

Para analis industri menkonseptualisasi perkembangan industri di dunia telah mencapai gelombang revolusi industr ke-4 atau “industri 4.0” ketika proses industri terkait revolusi digital memasuki abad ke– 21 sebagai perkembangan lanjut dari gelombang-gelombang revolusi indutri sebelumnya. Dalam industri 1.0 tenaga uap air digunakan dalam mekanisasi produksi sebagai dampak dari penemuan mesin uap. Dalam industri 2.0 tenaga listrik digunakan untuk mengkreasi produksi massa, dan dalam industri 3.0 teknologi elektronik dan teknologi informasi digunakan untuk mengotomatisasi produksi. Industri 4.0 bercirikan kehadiran teknologi-teknologi baru yang meleburkan dunia fisik, digital, dan biologis, yang diwujudkan dalam bentuk robot, perangkat komputer, yang mobile, kecerdasan buatan, kendaraan tanpa pengemudi, pengetikan genetik, digitalisasi pada layanan publik, dsb. Pada industri 4.0 peralatan, mesin, sensor dan manusia dirancang untuk mampu berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan teknologi internet yang dikenal sebagai “Internet of Things (IoT)”.

Era revolusi industri 4.0 bardampak pula dalam dunia pendidikan. Pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran, penyelesaian berbagai tugas, dan peningkatan kompetensi dosen tak bisa lepas dari arus perkembangan informasi dan teknologi. Menghadapi tantangan tersebut guru dan dosen sebagai garda terdepan dalam dinia pendidikan dituntut untuk siap berubah dan beradaptasi. Peran guru dan dosen tak tak bakal tergantikan oleh mesin secanggih apapun. Sebab, guru dan dosen diperlukan untuk membentuk karakter anak bangsa dengan budi pekerti, toleransi, dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Para guru/dosen juga mampu menumbuhkan empati sosial, membangun imajinasi dan kreativitas, serta mengokohkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Peran guru dan dosen semakin penting dan strategis sekarang dikarenakan saat ini terjadi pergeseran prioritas pembangunan oleh pemerintah. Setelah fokus pada pembengunan infrastruktur sejak 2019, pemerintah sedang mengupayakan untuk penigkatan mutu sumber daya manusia (SDM). Pembangunan mutu SDM berarti bertumbuh pada guru dan dosen, sehingga guru dan dosen diharapkan mampu menjadi agen transformasi penguatan SDM dalam membangun talenta peserta didik, mengelola pembelajaran secara lebih kreatif, dan membentuk karakter anak bangsa. Untuk itu guru dan dosen dituntut terus menigkatkan profesionalitas menuju pendidikian abadke-21. Dunia pendidikan saat ini juga dituntut mampu membekali peserta didik dengan keterampilan abad 21. Keterampilan ini ini adalah keterampilan peserta didik yang mampu untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif, keterampilan berkomunikasi dan kolaborasi. Selain itu ketrampilan mencari, mengelola, dan menyampaikan informasi serta terampil menggunakan teknologi dan informasi.

Kemampuan yang harus dimiliki di abad 21 ini meliputi leadership, digital literacy, communication, emotional intelligence, entrepreneurship, global citizenship, problem solving, team-working. Sedangkan tiga isu pendidikan di Indonesi saat ini adalah pendidikan karakter, pendidikan vokasi, dan inovasi
Dengan demikian di era revolusi industri 4.0 ini jika guru dan dosen hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa/mahasiswa, maka peran guru dan dosen dapat tergantikan oleh teknologi.

Leave a Comment