Merespons Lonjakan Harga Jagung

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) melakukan panen simbolis jagung di Desa Bena
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) melakukan panen simbolis jagung di Desa Bena

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengubah mindset petani NTT yang kebanyakan masih tradisional, yang berkebun hanya untuk kebutuhan makan semusim. Konsep agribisnis belum membudaya.

 

 

Kenaikan harga jagung lokal (pipil kering) sejatinya merupakan kabar baik untuk kalangan petani. Dari harga acuan yang ditetapkan Kementerian Perdagangan Rp3.150 per kilogram (kg), harga di pasaran saat ini sudah mencapai Rp7.379/kg per Mei 2021.

Pasaran online lebih “liar” lagi lonjakan harganya. Di tokopedia.com, misalnya, kisaran harga jagung pipil sudah jauh melambung di atas harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Apalagi jagung kualitas super dan premium.

Di NTT, harga jagung lokal paling tinggi Rp7.000/kg. Komponen biaya transportasi dan lainnya menyebabkan harga demikian. Sebab, di tingkat petani harganya paling tinggi Rp4.000/kg.

Secara umum, kondisi ini menguntungkan petani. Namun di sisi yang lain, kenaikan harga jagung memicu kenaikan harga pakan ternak. Sebab, jagung adalah salah satu materi utama produk pakan ternak.

Kebanyakan petani NTT juga adalah peternak. Harga pakan ternak di pasaran saat ini paling rendah Rp8.000/kg. Dengan kata lain, satu kg jagung belum bisa menebus harga sekilo pakan ternak.

“Kepincangan” ini direspons dengan Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang digalakkan Pemprov NTT saat ini menjadi alternatif yang tepat untuk menjawab “kepincangan” ini.

Dengan program ini, petani diharapkan punya modal untuk membeli ternak. Juga punya stok jagung yang cukup untuk pakan ternaknya. Tak perlu mengeluarkan biaya tambahan.

Dengan TJPS, Pemprov NTT meminimalisir, bahkan menghentikan capital fligt yang selama ini dihabiskan untuk belanja pakan ternak di luar daerah, yang mencapai Rp1 triliun lebih/tahun.

Memperkuat program ini, Pemprov NTT juga berencana membangun pabrik pakan ternak di beberapa daerah di NTT. Pabrik ini akan menyerap jagung petani lokal, termasuk hasil dari Program TJPS.

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mengubah mindset petani NTT yang kebanyakan masih tradisional, yang berkebun hanya untuk kebutuhan makan semusim. Konsep agribisnis belum membudaya.

Proses inkulturasi agribisnis sebagai budaya pertanian modern dengan budaya pertanian tradisional adalah kunci kesuksesan program TJPS. Dan ini mensyaratkan pola pendampingan yang intens terhadap petani kita. Terus menerus.

Seluruh petani terlibat dan dilibatkan agar kita tak mengulang kegagalan provinsi jagung. Pola pilot project saja tak cukup. TJPS harus menyentuh seluruh petani.

Leave a Comment