MPLS Virtual: antara Esensi dan Sensasi

Epin Solanta (Penulis Buku "Dialektika Ruang Publik: Pertarungan Gagasan")

MASA pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) merupakan salah satu agenda penting yang sifatnya “wajib” diikuti peserta didik baru. Selain bagi peserta didik baru, MPLS juga memberikan banyak manfaat terutama bagi institusi pendidikan (baca: sekolah). Sekolah melalui para pendidik diharapkan mampu memberikan informasi yang jelas dan benar kepada para peserta didik baru.

Tulisan ini berusaha untuk memaknai MPLS sebagai kegiatan “edukatif” sekaligus juga “menyenangkan” bagi peserta didik baru. MPLS diharapkan mampu menjadi “magnet” yang bisa menarik simpati sekaligus memotivasi para peserta didik baru dalam membangun “rasa memiliki” sekaligus bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sekolah. Dalam suasana pandemi seperti ini tatkala ruang perjumpaan terpaksa harus dimediasi oleh teknologi, maka kreativitas dan inovasi dari sekolah dalam mengemas kegiatan MPLS sangat dibutuhkan. Hal ini penting agar esensi dari MPLS bisa tersampaikan, bukan semata-mata untuk mencari sensasi.

MPLS itu Penting

Mengacu pada Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 khususnya pada Pasal 2 ayat 2 diuraikan beberapa tujuan MPLS, antara lain: mengenali potensi diri siswa baru; membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya; menumbuhkan motivasi dan semangat belajar; mengembangkan pola interaksi yang positif sesama siswa dan warga sekolah lainnya; dan menumbuhkan perilaku positif seperti kejujuran, kemandirian, tanggung jawab dan toleransi. Kegiatan MPLS yang ideal tentu harus bersandar dan berpedoman pada peraturan ini. Artinya, kegiatan MPLS bukan didasarkan pada kemauan dan kehendak diri sendiri lalu mengabaikan poin-poin penting yang merupakan esensi dari MPLS itu sendiri, sebagaimana yang sudah diuraikan di atas.

Mengingat pentingnya kegiatan MPLS ini, maka dibutuhkan kerja kolaboratif, kreatif dan inovatif oleh pihak sekolah. Kerja kolaboratif, kreatif dan inovatif ini pertama-tama diawali dengan paradigma atau cara berpikir terhadap MPLS itu sendiri. Kegiatan MPLS bukan semata-mata tanggung jawab kepala sekolah, wakil kepala sekolah atau guru-guru saja. Melainkan tanggung jawab bersama, yang juga didalamnya melibatkan para siswa yang bergabung dalam OSIS. Cara berpikir atau paradigma tersebut, selanjutnya dibuktikan dengan kerja nyata. Menyiapkan berbagai materi, permainan dan juga hal lain yang bisa memotivasi dan memberikan suasana kebahagiaan dan sukacita bagi peserta didik yang baru.

Ujian terberat kegiatan MPLS di masa pandemi ini adalah kreativitas dan inovasi. Materi baik yang disampaikan langsung oleh para guru maupun juga dari pihak OSIS setidaknya harus bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi. Setidaknya para pemateri bisa membaca situasi psikologis para peserta didik sebagai pendengar. Oleh karena itu, untuk meminimalisir resiko kejenuhan, maka pertama-tama para pemateri harus menjadikan peserta didik baru sebagai subjek aktif dalam kegiatan ini. Artinya, mereka bukanlah “botol kosong” yang siap diisi. Tetapi mereka adalah subjek aktif yang selalu siap setiap saat untuk mengungkapkan ide atau gagasannya. Cara berpikir tersebut diikuti oleh materi yang menarik.

Esensi Melampaui Sensasi

Sulit untuk dinafikan, bahwa bagi sebagian kalangan (konteks pendidikan), MPLS masih dibaca dan dimaknai sebagai kegiatan untuk mengenal “lingkungan fisik” sekolah. Informasi yang disampaikan pada akhirnya hanya berkutat pada gedung mewah dan fasilitas pendidikan yang lengkap. Aneka piala selalu disajikan paling depan untuk mendapatkan “sensasi” bahwa inilah kami yang sesungguhnya dengan segala kemewahannya. Apakah ini salah? Tentu tidak. Ini lebih kepada hasil yang sudah diperoleh dari “tetesan keringat” setiap komponen dan warga sekolah.

Tetapi jauh lebih penting dari semuanya itu, MPLS pertama-tama dan utama adalah mampu “mengetuk pintu hati” peserta didik baru agar senantiasa merasakan suasana nyaman dan aman pada lingkungan yang baru. Oleh karena itu, pengenalan yang disampaikan bukan semata-mata pada “komponen fisik”, melainkan lebih pada hal-hal yang sifatnya mendalam, seperti tanggung jawab, kerja keras dan kompetisi yang syarat akan kejujuran. Peserta didik baru sedari awal diberikan “ruang” yang cukup banyak untuk berekspresi dan “mengeksplorasikan diri” semaksimal mungkin. Ruang zoom, gmeet atau apalikasi lainnya bukan lagi sebagai ruang dominasi dari para guru, tetapi menjadi ruang “bersama”. Ruang “maya” tersebut pun tak sekedar untuk memamerkan “kemewahan secara fisik”, melainkan ruang dialog untuk mengungkapkan dan menyampaikan kepada para peserta didik baru tentang tips dan cara-cara mendapatkan prestasi tersebut. Akhirnya, meskipun MPLS dilakukan secara virtual, setidaknya itu tidak bermaksud untuk mereduksi nilai-nilai yang terkandung dalam MPLS itu sendiri. Mari jadikan kegiatan MPLS secara virtual sebagai momentum untuk beradaptasi dengan situasi baru.

Leave a Comment