Orang Tua MB Histeris Saksikan Reka Ulang Pembunuhan Anaknya

Ayah kandung MB, Yonatan Bahas menangis haru menyaksikan reka ulang pembunuhan anaknya. Tampak Kapolsek Kupang Barat Ipda. Sadikin berupaya menguatkan Yonatan. Foto: Yapi/VN
Ayah kandung MB, Yonatan Bahas menangis haru menyaksikan reka ulang pembunuhan anaknya. Tampak Kapolsek Kupang Barat Ipda. Sadikin berupaya menguatkan Yonatan. Foto: Yapi/VN

 

 

Yapi Manuleus

Tangis orangtua korban pemerkosaan dan pembunuhan almarhumah MB(18), warga Kelurahan Oenesu, Kabupaten Kupang, NTT tak terbendung saat pelaku Yustinus Tanaem Alias Tinus (41) melakukan adegan rekonstruksi dikawal Polres Kupang Kota, Selasa (25/5).

Setiap adegan rekonstruksi yang diperagakan Tinus membuat keluarga sedih dan terpukul, tak menyangka putrinya menjadi korban pembunuhan sadis pada Februari 2020 lalu.

———————-

Beberapa jam sebelum rekonstruksi, VN sudah berada di lokasi yakni Desa Tanaloko sekitar pukul 10.30 Wita bersama beberapa anggota Polsek Kupang Barat.

Desa Tanaloko berjarak sekitar 2 kilometer dari jalan umum. Jarak rumah warga berjauhan dan dipenuhi semak belukar. Kawanan sapi warga juga tampak sering melintas di lokasi. Tak ada jalan setapak di lokasi.

Saat sedang menunggu proses rekonstruksi mulai, VN disapa oleh seorang lelaki paruh baya sambil menggendong anaknya.

“Selamat Pagi Pak, saya Bapaknya MB. Ini adiknya,” katanya, sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Aduh Bapak, Tetap kuat ya Bapak,” jawab VN sambil menerima salamnya.

Ayah MB, Yonatan Bahas lalu bergegas pergi melanjutkan perjalanan.

 Tersangka Tinus saat memulai adegan pertama dalam rekonstruksi. Foto: Yapi/VN

Tersangka Tinus saat memulai adegan pertama dalam rekonstruksi. Foto: Yapi/VN

VN pun lalu bergegas kembali ke arah jalan umum karena proses rekonstruksi akan dimulai dari arah jalan raya.

Kapolres Kupang Kota AKBP. Aldinan RJH Manurung dan Kapolsek Kupang Barat Iptu. Sadikin ikut dalam proses itu.

Beberapa saat kemudian sekitar pukul 12:45 Wita, terdengar sirene mobil barak kuda lengkap bersama 15 anggota Brimob Polda NTT bersenjata lengkap. Mereka lalu turun berbaris dan mendengarkan arahan Kapolres Kupang Kota.

VN dan beberapa personel kepolisian kembali ke lokasi awal di Desa Tanaloko. Saat tiba, lokasi sudah penuh dengan warga mulai dari anak-anak maupun orang dewasa yang ingin melihat langsung adegan yang dilakukan tersangka.

Sebelum proses rekontruksi dimulai, Kapolsek Kupang Barat Ipda. Sadikin menunjukan kepada VN seorang ibu yang sedang menangis di bawah sebuah pohon.

“Itu Mamanya MB bersama Bapaknya itu. Saya mau ke sana untuk sapa mereka dulu,” kata Ipda. Sadikin kepada VN.

VN bergegas ikut bersama Ipda Sadikin.

Yonatan Bahas, Ayah MB menangis haru saat dipeluk Ipda Sadikin.

Ipda. Sadikin mencoba menguatkan Yonatan dan istri..

Saat berbincang dengan VN, Yonatan mengaku almarhum MB merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

Menurutnya, selama hidup MB dikenal sebagai anak yang penurut sehingga kejadian naas itu sangat melukai hati mereka sebagai orang tua.

“Kami sangat sakit Pak. Dia ini anak pertama kami. Dia punya dua adik yang masih keci-kecil,” ungkap Yonatan.

Ia mengisahkan selama hidup, setiap pulang sekolah MB sering menggembalakan sapi-sapi miliknya. Meski perempuan, ia tak malu menjaga kawanan sapi.

“Tiap hari kalau dia sudah pulang dari sekolah, nanti habis makan langsung dia pergi kasi minum sapi-sapi kami di kebun. Jadi saat itu tanggal 25 Februari kami kaget ada warga yang temukan kalau anak kami meninggal di kebun itu,” ujarnya sambil berderai air mata.

 Tersangka Tinus melakukan reka ulang saat membunuh korban MB. Foto: Yapi/VN


Tersangka Tinus melakukan reka ulang saat membunuh korban MB. Foto: Yapi/VN

Di menyampaikan terima kasih pada pihak kepolisian yang berhasil mengungkap kasus tersebut.

Ia berharap pelaku Tinus bisa dihukum seberat-beratnya.

Sementara Ibu MB, Fransina Sa mengatakan jika masih hidup, tanggal 19 Mei 2021 kemarin, almarhumah genap berusia 19 tahun dan akan naik ke kelas 3 SMA.

“Tanggal 19 kemarin tu, anak kami ni genap 19 tahun. Karena pas dengan ulang tahunnya. Jadi kami sangat sedih sekali Pak,” tuturnya sambil menghusap air mata.

Ia mengaku menjadi sangat terpukul karena jarak lokasi kejadian dengan rumahnya hanya sekitar 200 meter namun ia dan keluarga sama sekali tidak mengetahuinya sampai korban ditemukan oleh warga sekitar.

Ia meminta pelaku dihukum mati.

“Kalau bisa hukum mati saja dia. Kasihan anak kami mau pergi untuk kasi minum sapi. Tapi dibunuh dan diperkosa seperti ini,” harapnya.

Untuk diketahui, pelaku memperagakan 23 adegan rekontgruksi di TKP disaksikan pihak kepolisian dan warga sekitar. Identitas pelaku ditemukan seteleh polisi berhasil mengungkap kasus serupa beberapa waktu lalu dengan korban lain NW. (bev/ol)

 

Leave a Comment