Orang Tua, Waspadai Kecanduan Internet Akut Pada Anak

Putra Bali Mula

Guru SMAN 3 Kupang, Agusanaterny Ully mengingatkan para orang tua tentang dampak kecanduan internet terhadap pelajar yang berpengaruh terhadap kecerdasan moral anak. Apalagi di masa pandemi, anak cenderung bergantung pada internet.

Hal ini disampaikan Erny dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Rabu, (8/9).

Ia menggunakan referensi dari berbagai jurnal ilmiah dan media massa dalam materinya tentang budaya digital. Ia juga membagikan link kuesioner bagi peserta webinar.

Ia menyebut lama rata-rata penggunaan internet di Indonesia adalah sembilan jam per hari. Sayangnya, di kalangan anak-anak, penggunaan internet justru lebih banyak ke hal yang tidak produktif misalnya bermain game online.

“Ada anak-anak yang cenderung gelisah saat tidak ada pulsa internet karena kesenangannya tergantung internet, menarik diri dari lingkungan sosial bahkan menghindari sosialisasi dengan orang lain. Ini merupakan ciri-ciri internet addiction atau kecanduan internet akut,” ujarnya.

Ia menduga internet addiction disorder ini tidak hanya di kalangan remaja saja tetapi juga kalangan orang dewasa. Namun, presentasi jumlah anak maupun orang dewasa yang mengalami gangguan internet addiction disorder ini belum diteliti secara serius di NTT khususnya Kota Kupang terlebih di situasi pandemi saat ini.

“Di Kupang belum ada penelitian tentang hal ini. Semoga ke depannya ada penelitian lebih lanjut,” ujar dia.

Gejala paling nyata dari ini kecanduan internet antara lain adalah anak atau seseorang tidak bisa membedakan yang mana realita dan imajinasi. Seseorang yang candu juga akan mudah depresi, jam tidur yang tidak jelas, tidak produktif, cemas, kemampuan komunikasi akan bermasalah dan tempramental.

Seseorang dengan kecanduan ini akan mudah mengalami gangguan suasana hati atau merasa hampa saat tidak ada internet hingga dengan gangguan kepribadian seperti mudah berbohong pada orang lain.

Secara sosial, pribadinya akan terganggu karena menghindari interaksi dengan manusia lain. Konflik juga akan sering terjadi karena tidak mempunyai kesepahaman dengan orang lain.

“Dengan sifat yang tempramental dan menarik diri dari lingkungan sosial nantinya bermasalah pada mendapatkan pertemanan,” tambah dia.

Pencegahan terhadap kecanduan ini yaitu dari kontrol diri sendiri atau self control. Ada beberapa jenis kontrol untuk menghindari internet addiction dan kontrol diri ini adalah yang utama dibanding pengawasan orang tua maupun pemerintah terhadap seseorang sebagai pengguna aktif internet.

“Hanya dirinya yang bisa menolong dirinya sendiri. Self control ini lebih seperti memblokir situs, media sosial, saat belajar atau bekerja. Ini untuk menempatkan fokus pada hal yang lebih produktif,” tukasnya.

Sementara orang tua dapat mengontrol penggunaan internet anak agar fokus pada hal yang positif dan agar anak mendapatkan cukup waktu untuk istirahat. Aturan penggunaan internet perlu berlaku di rumah.

Pemerintah sendiri mempunyai kontrol untuk memblokir situs-situs yang harusnya tidak boleh dijangkau anak.

“Ini semata agar kecerdasan moral anak-anak dapat dicapai,” pesannya. (bev/ol)

Leave a Comment