Pabrik Pakan Ternak adalah Jawaban

Dr. Frits Fanggidae Ekonom UKAW Kupang
Dr. Frits Fanggidae Ekonom UKAW Kupang

 

 

Kenaikan harga jagung lokal di pasaran nasional dan internasional yang mengakibatkan harga pakan ternak di Pulau Jawa meningkat, bukan menjadi peluang ekonomis bagi Provinsi NTT yang saat ini gencar menjalankan Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).

Rencana Pemprov NTT membangun pabrik pakan ternak di tiga wilayah di NTT (Timor, Flores dan Sumba), adalah jawaban guna menyikapi fenomena melonjaknya kebutuhan jagung secara global.

“Apakah ini peluang bagi NTT untuk ekspor jagung pipilan ke Jawa? Tidak! Peluang yang dimiliki NTT adalah membangun industri pakan ternak, bukan menjual jagung pipilan ke (Pulau) Jawa,” ungkap Ekonom Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Dr Frits Fanggidae kepada VN, Minggu (30/5).

Menurutnya, jika semua produksi jagung pipilan di NTT dijual ke Pulau Jawa, maka NTT akan tetap mengimpor pakar ternak dari Pulau Jawa dengan harga yang lebih tinggi.

“Artinya, mengekspor jagung ke Jawa hanya menguntungkan industri pakan ternak di Jawa. Dengan kata lain, nilai tambah dari jagung yang NTT hasilkan dinikmati oleh industri pakan ternak di Jawa. Sementara peternak kita tetap membeli harga pakan yang relatif mahal,” bebernya.

Frits menyebutkan, pasar pakan ternak di NTT sejak dulu hingga kini dimonopoli oleh sejumlah industri dan distributor pakan ternak dari Jawa, Bali dan Sulawesi Selatan.

Pendapat Dr Frits tersebut sejalan dengan pandangan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PHK) Kementerian Pertanian Dr Nasrullah. Ia mengungkapkan, sentra produksi jagung telah bergeser dari Jawa ke luar pulau Jawa dalam 20 tahun terakhir, sedangkan pabrik pakan kebanyakan masih berpusat di Jawa.

“Sekitar 29,7 persen produksi jagung dihasilkan dari provinsi yang tidak terdapat pabrik pakan,” kata Nasrullah dalam paparan Forum Group Discussion (FGD) bertema Harga Jagung Melambung, April lalu.

Ia menegaskan, produksi jagung yang tidak merata di sejumlah daerah menyebabkan timbulnya perbedaan harga jagung antar wilayah yang disebabkan oleh variablitas ongkos produksi.

Diperlukan penguatan sistem cadangan jagung nasional serta penetapan harga acuan regional untuk mengatasi masalah disparitas harga jagung antar wilayah.

 

Tetap Stabil
Dodi, pedagang Jagung pipilan di Pasar Oesao, kepadaVN Minggu (30/5) mengaku tidak ada kenaikan harga jagung. Harga jagung pipilan di Pasar Oesapa berkisar antara Rp 5.000-6.000/Kg.

“Kami beli dari petani Oesao dan Camplong sini dengan harga Rp 4.000/kg. Tidak ada kenaikan dalam tiga bulan terakhir karena pasokan jagung dari petani stabil.

Terpisah, pedagang jagung Pasar Naikoten, Yanto Taneo kepada VN menjelaskan, harga jagung Pipilan di Pasar Inpres Naikoten masih stabil dengan harga Rp 6.000-Rp 7.000/Kg.

“Kami beli dari petani Oesao, Camplong, dan TTS. Rata-rata mereka (petani) jual dengan harga Rp 4.000-Rp 5.000/Kg. Harga stabil karena panen jagung lancar di Timor,” bebernya

Sebelumnya, Gubernur NT Viktor Bungtilu Laiskodat saat panen padi dan jagung di Di Kuledoki Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Sabtu (29/5) menegaskan, jagung yang selama ini ditanam, hasilnya sangat banyak dan berlebihan untuk makan saja. Sehingga harus diolah untuk pakan ternak karena selama ini kebutuhan pakan ternak untuk NTT tinggi.

“Untuk kebutuhan pakan ternak babi maupun ayam dalam satu tahun, orang NTT belanja sekitar Rp 1 triliun lebih dan itu di beli dari Jawa. Hal itu menjadi pelajaran bagi NTT ke depan sehingga ditargetkan agar NTT menjadi pemasok sendiri,” tegasnya. (mg-10/M-01/ari)

 

10 Besar Provinsi Produsen Jagung
(Musim Tanam Tahun 2020)
—————————————————-
No Provinsi  Luas Panen  Produksi
(ha) (ton)
—————————————————-
1. Jawa Timur 1,19 juta 5,37 juta
2. Jawa Tengah 614,3 ribu 3,18 juta
3. Lampung 474,9 ribu 2,83 juta
4. Sumatera Utara 350,6 ribu 1,83 juta
5. Sulawesi Selatan 377,7 ribu 1,82 juta
6. NTB 283 ribu 1,66 juta
7. Jawa Barat 206,7 ribu 1,34 juta
8. Sulawesi Utara 235,5 ribu 0,92 juta
9. Gorontalo 212,5 ribu 0,91 juta
10. Sumatera Selatan 137 ribu 0,80 juta
—————————————————-
– NTT (2019) 198.867 811.724
—————————————————-
Sumber: Kementan – Pudatin VN

Leave a Comment