Pagelaran MICE di NTT harus Terapkan CHSE

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Zeth Soni Libing saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan sosialisasi CHSE pada Penyelenggaraan MICE, Selasa (28/9) pagi di Hotel Aston Kupang. Foto: Kekson Salukh vn

Kekson Salukh

 

Setiap pagelaran pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran (MICE) di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) baik di hotel, restoran maupun destinasi wisata harus menerapkan Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Kelestarian Lingkungan) atau CHSE.

Pernyataan ini disampaikan Direktur Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran, Kemenparekraf RI, Masruroh, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Zeth Soni Libing, dan Anggota ASIDEWI NTT, Maria Bernadetha Ringa dalam acara Sosialisasi dan Simulasi Panduan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan (CHSE) Pada Penyelenggaraan Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (MICE), Selasa, (28/9) pagi di Hotel Aston Kupang.

Kegiatan ini diprakarsai Direktorat Pertemuan Insentif, Konvensi, dan Pameran Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI.

Kegiatan ini diikuti puluhan peserta dari berbagai unsur yakni Pemerintah Daerah, Badan Otoritas Labuan Bajo, Akademisi, Asosiasi, Industri MICE, Desa Wisata dan perwakilan media massa

Hadir pada kesempatan itu Direktur Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran, Kemenpar RI, Masruroh, Widyaswara Kemenparekraf, Frans Handoko, Ketua Asita NTT, Abed Frans, Sekretaris DPD PHRI NTT Tri Arachis H juga Wakil Ketua Leo Arkian, Pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah NTT serta pentahelik pariwisata.

Direktur Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran – Kemenparekraf, Masruroh mengatakan, dalam rangka menghadapi tatanan kenormalan baru, khususnya pada sektor MICE, Kementerian pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia bersama dengan The Indonesian Convention & Exhibition Bureau (INACEB) serta melibatkan masukan yang signifikan dari stakeholders MICE telah menyusun rancangan panduan kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan (CHSE) pada penyelenggaraan kegiatan pertemuan, insentif, konvensi dan pameran atau MICE.

Menurut Masruroh, panduan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan pada kegiatan MICE ini menekankan pada penerapan prosedur standar pelaksanaan kegiatan MICE yang aturan teknis spesifiknya akan disesuaikan dengan panduan yang dibuat oleh Asosiasi dan Industri MICE sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Panduan ini merupakan panduan operasional dari Keputusan Menteri Kesehatan tentang Protokol Kesehatan bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), yang diturunkan pada pelaksanaan kegiatan MICE di Indonesia.

“Ketentuan yang termuat dalam panduan ini juga mengacu pada protokol dan panduan yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia, World Health Organization (WHO), Travel & Tourism Council (WTTC), serta Asosiasi MICE nasional dan internasional seperti ICCA, UFI, AIPC, serta ASPERAPI, ” tandasnya.

Lanjut dia, panduan ini telah disosialisasikan di tahun 2020 di 9 destinasi MICE antara lain; Yogyakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Manado, Mataram, Banten (mewakili Jakarta), Semarang, dan Batam serta di awal tahun 2021 di 5 Destinasi Super Prioritas antara lain; Borobudur, Toba, Mandalika, Likupang, dan Labuan Bajo.

“Sosialisasi dilaksanakan kepada para Stakeholders MICE untuk menyamakan pemahaman mengenai isi Panduan sehingga panduan dapat dijalankan dengan sesuai pada pelaksanaan kegiatan MICE di destinasi tersebut, ” bebernya.

Pada semester kedua tahun ini, kata dia, sosialisasi Panduan CHSE MICE dilaksanakan di Makassar, Balikpapan, Lampung, dan Kupang. Kupang dengan letak geografisnya sebagai Water Front City di Indonesia, serta berdekatan dengan Labuan Bajo, menjadi berkah tersendiri.

Letaknya yang strategis menjadikan Kupang disebut juga pintu gerbang Indonesia Timur. Infrastruktur dan fasilitas MICE yang dimiliki sudah sangat mumpuni, mulai dari Bandara Internasional hingga banyaknya hotel-hotel yang dapat menjadi lokasi penyelenggaraan MICE.

“Selain itu faktor pendukung seperti daya tarik wisata yang menarik dan ragam kuliner khas Kupang yang menggugah selera dan sudah tersohor menjadi daya tarik tersendiri.  Sosialisasi yang diselenggarakan dirangkaikan dengan simulasi pameran skala kecil yang diikuti oleh UMKM lokal di Kupang yang menyajikan produk-produk khas Kupang. Selain pameran dilaksanakan juga simulasi Perjalanan Insentif yang diikuti oleh media lokal dalam rangka meninjau secara langsung kesiapan destinasi wisata untuk penyelenggaraan perjalanan insentif dengan penerapan CHSE, ” ujarnya.

Ia berharap melalui kegiatan sosialisasi dan simulasi panduan ini, para stakeholders MICE di Nusa Tenggara Timur khususnya Kota Kupang, memiliki pemahaman yang sama akan pentingnya menjalankan protokol yang telah disusun dalam panduan, sehingga wisatawan MICE yang akan melaksanakan kegiatan MICE nya di Kupang dapat merasa aman dan nyaman.

“Melalui kegiatan sosialisasi dan simulasi panduan ini diharapkan Sektor MICE kembali siap dan mampu bangkit kembali untuk memacu pertumbuhan dan kreativitas yang lebih baik dari sebelumnya, dan menjadikan Kupang sebagai destinasi MICE yang memiliki value proposition yang dapat memenangkan persaingan di dunia internasional, ” pintanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Zeth Soni Libing mengatakan,
pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT. Namun, aktivitas Pariwisata dan Aktivitas Ekonomi masyarakat harus terus berjalan di tengah pandemi Covid-19.

“Kegiatan ini sebagai bentuk untuk menggairahkan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di NTT untuk bangkit kembali. ” ujarnya.

Menurut Soni, Labuan Bajo dan, kota Kupang sudah mulai dikunjungi wisatawan sehingga ia optimistis bahwa Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT akan bangkit dalam waktu dekat. Dibutuhkan komitmen dan kolaborasi yang baik agar pemerintah dan pelaku ekonomi kreatif di NTT bisa bangkit bersama.

“Komitmen pemerintah NTT untuk membangun Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT melalui kegiatan Work From Destination. Pandemi memaksa kita untuk berputar otak, dan bekerja keras. Tetapi semua kegiatan harus tetap jalan dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang ketat, ” ujarnya.

Lebih lanjut dia menegaskan, MICE menjadi bagian dari hidup masyarakat. Sehingga WHO mewajibkan pelaksanaan MICE di tengah pandemi Covid-19 harus menjaga kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

“Harus kita lakukan ini, tidak ada yang bilang tidak bisa. Terimakasih kepada Kemenparekraf yang telah membekali kami untuk terus melakukan kegiatan MICE di tengah pandemi Covid-19 dengan tetap menerapkan CHSE, ” ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan Pariwisata di NTT berdasarkan dua aspek yaitu Sustainable Tourism (Pariwisata Berkelanjutan), dan Community Based Tourism (Pariwisata Berbasis Masyarakat).

Destinasi Wisata Wajib CHSE

Anggota ASIDEWI NTT, Maria Bernadetha Ringa menegaskan, seluruh destinasi wisata di NTT khususnya Labuan Bajo harus menerapkan CHSE. Jika ada destinasi wisata yang tidak menerapkan CHSE harus diberikan teguran karena masalah yang terjadi di destinasi wisata di NTT adalah sampah.

Menurut dia, di sejumlah destinasi wisata maupun hotel dan restoran yang ada di NTT itu masih belum tertib dalam membuang sampah, sehingga penerapan CHSE itu harus bersifat wajib agar menjadi solusi. Jika tidak menerapkan maka pemerintah wajib memberikan punishment.

“Sampah di destinasi wisata di NTT maupun hotel itu masih di buang sembarangan sehingga penerapan CHSE ini harus bersifat wajib bagi seluruh destinasi wisata dan hotel. Jika mereka tidak terapkan maka Pemerintah Pusat maupun daerah sebaiknya tidak perlu kerjasama dengan destinasi atau hotel bersangkutan, ” tegasnya. (Yan/ol)

Leave a Comment