Pangkostrad Apresiasi Kinerja Satgas Pamtas

Pengalungan selendang oleh tokoh adat kepada Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdulrachman, dalam acara penyambutan di Mako Satgas Pamtas, Sektor Barat.

Gusty Amsikan

Letjen TNI Dudung Abdulrachman, melaksanakan kunjungan kerja perdananya sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad) ke Mako Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor, Eban, Kecamatan Miomafo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, Rabu (22/9).

Dalam kunjungan kerjanya itu, Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdulrachman, didampingi Mayjen TNI Ilyas Alamsyah, Brigjen TNI Ardhiheri, Brigjen TNI Imam, Brigjen TNI Bagus Suryadi Tayo, Brigjen TNI Piek Budyakto dan Danrem 161/Wira Sakti selaku Dankolakops Satgas Pamtas RI-RDTL Brigjen TNI Legowo W.R. Jatmiko, Dandim 1618/TTU, Letkol Arm Roni Junaidi, serta pejabat perwira lainnya.

Rombongan disambut langsung, Dansatgas Pamtas Yonarmed 6/3 Sektor Barat,  Letkol Arm. Andang Radianto, para tokoh agama tokoh adat dan tokoh masyarakat setempat dengan natoni adat dan pengalungan. Selanjutnya, Letjen TNI Dudung Abdulrachman, melaksanakan pengarahan kepada seluruh anggota Satgas Pamtas Yonarmed 6/3 Kostrad Sektor Barat.

Pangkostrad, Letjen TNI Dudung Abdulrachman, ketika diwawancarai media ini di sela-sela kunjungan kerjanya mengatakan kunjungan kerja tersebut dilakukan untuk melihat Satuan Batalyon Armed VI Divisi III Kostrad  yang melaksanakan pengamanan di daerah perbatasan antara  wilayah RDTL dan NTT (RI). Pada kunjungan tersebut pihaknya  melihat seluruh prajurit telah menjalankan tugas dengan baik dengan melaksanakan tugas pokoknya dalam rangka mengamankan NKRI dari kemungkinan-kemungkinan adanya infiltrasi dari negara tetangga.

Jenderal bintang tiga itu menjelaskan, dalam kunjungan tersebut pihaknya mendapat laporan bahwa selama ini hubungan yang baik antara RDTL dan NKRI. Dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh komandan satuan beserta  seluruh jajaran, Satgas Pamtas Yonarmed Kostrad memperoleh penyerahan 125 pucuk senjata laras panjang jenis springfield,  18 buah pistol, 1426 amunisi termasuk 5 granat. Senjata dan amunisi tersebut diperoleh melalui kegiatan-kegiatan upaya teritorial sehingga ada penyerahan senjata dan amunisi dari masyarakat.

“Senjata-senjata ini mereka miliki sejak terjadinya konflik sekitar tahun 1975, sejak pertama meletusnya konflik di Timor Leste (TL). Dengan kesadaran masyarakat menyerahkan senjata dan amunisi kepada TNI yang melaksanakan tugas di sini dan sepenuhnya keamanan dilaksanakan oleh TNI dan mereka mempercayainya.  saat ini situasi kondusif. Antara masyarakat dan TNI sama melaksanakan tugas dengan berkesimanbungan sesuai dengan program pemerintah,”ungkapnya.

Ia menambahkan, saat ini interaksi pemerintah TL dan Indonesia sangat baik. Berdasarkan laporan Pemda, hubungan antara masyarakat RDTL dan RI sangat baik. Pihaknya berpesan agar para prajurit TNI selalu membantu mengatasi kesulitan masyarakat terutama yang berada di wilayah perbatasan.

“Ingat, 8 wajib TNI menjadi contoh dan memelopori segala usaha mengatasi kesulitan masyarakat. TNI harus hadir demi tegaknya NKRI,”pungkasnya.(Yan/ol)

Leave a Comment