Pedagang Pakaian di Pasar Matawai Keberatan Pindah ke Kios

Pedagang pakaian di lorong pasar Inpres Matawai menawarkan dagangannya kepada pembeli, Rabu (14/7). Foto: Jumal Hauteas/vn.

Jumal Hauteas 

Pedagang pakaian dan kelengkapan lainnya seperti sandal hingga sepatu merasa keberatan untuk mengosongkan lorong Pasar Inpres Matawai, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi NTT dan menggunakan kios yang saat ini kosong. Para pedagang beralasan kios yang kosong berada di bagian yang kurang strategis sehingga nantinya akan kesulitan pembeli.

Hal ini diungkapkan Ibu Lintang, warga Kelurahan Kamalaputi yang sudah lebih dari lima tahun berjualan pakaian di lorong pasar Inpres Matawai saat ditemui VN, Rabu (14/7).

Dijelaskannya berjualan di lorong yang terbuka juga sudah cukup sulit bagi mereka saat ini, sehingga akan makin sulit jika harus pindah ke kios yang lebih tertutup dan berada di bagian belakang.

Ibu Lintang mengakui pihaknya sudah mendapatkan surat dari Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar untuk mengosongkan lapak dan memilih kios dari deretan kios yang kosong untuk ditempati namun hingga saat ini mereka masih memilih bertahan jualan di lorong karena merasa akan makin sulit jika harus berjualan di kios dengan akses masuk yang terbatas.

“Pembeli datang pasti belanja di depan, dan tidak akan sampai ke belakang. Jadi kami bertahan disini (lorong, Red),” jelas ibu dua anak ini.

Perempuan yang mengaku sudah 25 tahun tinggal menetap dan membangun kehidupan bersama keluarganya di Waingapu Sumba Timur ini menuturkan kios-kios yang kosong saat ini bukan tidak berpenghuni sejak bangunan tingkat pada Pasar Inpres Matawai dibangun. Namun karena sepi pembeli di bagian belakang sehingga penyewa kios nya memilih untuk pergi tinggalkan los nya.

“Awalnya semua kios di belakang itu penuh juga, tetapi karena sepi bertahun-tahun, akhirnya pedagangnya memilih berjualan diluar dari pada di pasar dan bankrut,” ungkapnya.

Mengenai akan adanya upaya paksa yang dilakukan oleh UPTD Pasar, Ibu Lintang mengaku belum memikirkan untuk mengambil keputusan tetap berjualan di pasar atau tidak. Karena tetap harus memperhitungkan kemungkinan jualannya laku terjual atau tidak.

“Mungkin kami akan memilih jualan keliling ke pasar-pasar di desa maupun kecamatan saja,” tandasnya.

Kepala UPTD Pasar, Agustinus Haleku Nongu yang dikonfirmasi VN di kantornya terkait hal ini menegaskan pihaknya meminta para pedagang untuk mengosongkan lorong pasar guna menggunakan los atau kios yang kosong karena pihaknya berencana untuk menata lorong pasar di lantai dua tersebut untuk menjadi area bermain anak.

“Lorong ini mau kita tata jadi area bermain anak, jadi kita surati para pedagang di lorong untuk pindah ke kios dan silahkan pilih sendiri,” jelasnya.

Menurutnya jumlah kios yang kosong saat ini sebanyak 64 unit sehingga cukup untuk dimanfaatkan oleh para pedagang pakaian di lorong yang ada saat ini. “Pedagang pakaian yang kita surati untuk masuk ke kios hanya sebanyak 27 pedagang. Jadi kiosnya masih lebih,” ungkapnya.

Bahkan pihaknya juga menyediakan kompensasi bagi para pedagang untuk nantinya saat berdagang di kios di sisa tahun 2021 saat ini tetap membayar iuran yang sama dengan mereka berjualan di lapak. Sedangkan untuk hitungan sewa kios baru akan mulai diperhitungkan dan ditandatangani kontraknya mulai tahun 2022 mendatang.

“Karena ini sudah pertengahan tahun, sedangkan kontraknya kita hitung per tahun. Jadi sisa enam bulan ini, mereka (pedagang) tetap bayar Rp 10 ribu/hari,” ungkapnya.

Karena itu, diharapkannya dengan kemudahan ini para pedagang bisa patuh dan memilih pindah ke kios yang kosong sesuai dengan pilihan masing-masing sehingga bagian lorong pasar bisa dikosongkan dan dapat ditata lebih baik.(Yan/ol)

Leave a Comment