Pekerjakan Anak di Bawah Umur, Rohaniawan Desak Kapolda Proses Hukum Pemilik Pub dengan Pasal Berlapis

Pater Doktor Otto Gusti SVD (kiri) Suster Eustochia SSPS (tengah) dan suster Fransiska SSPS (kanan) Rabu (23/6) siang. Foto: Yunus Atabara vn.

Yunus Atabara
Para pastor, suster dan pengacara yang tergabung dalam Truk-F menantang Kapolda NTT agar 4 pemilik PUB yang terbukti mempekerjakan anak di bawah umur diproses sesuai hukum yang berlaku.

Pater Doktor Otto Gusti, kepada VN Rabu (23/6) mengatakan bahwa 4 pemilik Pub atau Tempat Hiburan Malam (THM) di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT yang mempekerjakan anak di bawah umur harus dikenakan pasal berlapis sehingga patut dihukum berat.

Dimana pemilik keempat Pub itu dinilai melanggar Undang Undang perlindungan anak, Undang Undang Perdagangan orang dan Undang Undang Tenaga Kerja.

“Kami minta pemilik Pub yang mempekerjakan anak di bawah umur tidak hanya diproses sesuai undang-undang tenaga kerja. Tetapi harus dijerat undang undang perlindungan anak dan perdagangan orang,” kata Kepala STFK Ledalero itu.

Hal yang sama disampaikan Divisi Perempuan dan Anak Truk-F, suster Estochia SSPS mengatakan selama 17 anak di bawah umur yang ditampung di selter Truk-F mendapatkan intimidasi dari para pemilik Pub.

“Selama anak-anak ada di selter, selalu mendapat intimidasi melalui pesan WhatsApp agar mengaku sudah cukup umur kalau ada yang tanya,” kata Suster Estochia

Selain itu, ada bapak-bapak pemilik Pub yang datang meminta agar anak-anak tersebut dikeluarkan dari selter Truk-F karena orangtua dari anak-anak itu sudah didatangkan oleh pemilik Pub untuk menjemput mereka.

Gelar Aksi

Pater Doktor Hubert Thomas Hasulie, SVD kepada VN menegaskan dalam mengawal kasus keempat Pub di Maumere yang mempekerjakan anak di bawah umur, maka para pastor dan suster akan melakukan aksi di Polres, DPRD dan Kantor Bupati Sikka.

“Nanti tanggal 1 Juli, kami akan turun aksi di Polres, DPRD dan Kantor Bupati Sikka, yang isinya meminta agar polisi segera tangkap pemilik Pub yang mempekerjakan anak di bawah umur,” tegasnya.

Kendati demikian, para pastor dan suster mengapresiasi langkah Kapolda NTT yang sudah menegakkan aturan dalam membasmi pelaku yang mempekerjakan anak di bawah umur di tempat hiburan malam.

Kronologis

Pada Selasa 15 juni 2021 pukul 21.00 Wita, Tim Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTT membawa dan menyerahkan 17 korban anak di bawah umur kepada Sustes Eustochia SSpS, koordinator Truk-F, untuk diamankan di Shelter St. Monika-Maumere.

Penyerahan ke-17 anak itu disaksikan oleh staf Truk-F Kepala Dinas DP3AP2KB, dokter Maria, Bernadeta Sada Nenu, Kepala Dinas Nakertrans Kabupaten Sikka, Staf Kesbangpol, Kabid Rehabilitasi Dinsos Kabupaten Sikka.

Rabu 16 Juni 2021 Pukul 17.00 Wita, ke-17 anak itu ditemui oleh Bupati Sikka dan ibu Ani Idong dan menyerahkan bantuan berupa 100 kg beras, 7 tikar, 5 kasur, 3 kotak masker.

Jumat (18/6), pemerintah Kabupaten Sikka menutup sementara 4 Pub tempat di mana ke-17, anak di bawah umur yang dipekerjakan.

Penutupan sementara ini dilakukan oleh Tim Gabungan yang terdiri dari Polres Sikka, Satpol PP, Dinas Pariwisata, Dinas Penanaman Modal dan
Pelayanan Terpadu Satu Pintu, serta Dinas Transmigrasi dan Ketenagakerjaan.

Penutupan sementara ini dibuat tanpa jangka waktu, karena harus menunggu proses hukum yang kini sedang ditangani Subdit 4 Ditreskrimum Polda NTT.

Ke-4 Pub yang ditutup sementara itu masing-rnasing Libra Pub di Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, 999 Pub, Sasari Pub dan Bintang Pub di Kelurahan Wailiti Kecamatan Alok Barat

Truk-F menerima dan menampung ke-17 anak tersebut di Shelter St, Monika Maumere, melakukan pendampingan dan penguatan psikologis terhadap setiap anak.

Truk-F juga telah memberikan laporan terkait kasus ke-17 anak ini ke KPPA dan Komnas Perempuan di Jakarta. Dalam berjejaring ini terbentuklah koordinasi antara Kementerian (KPPA dan Kemensos), Dinas- Dinas terkait (Dinsos, P2TP2A), dan Polda NTT. (Yan/ol)

Leave a Comment