Pelaku Bully di Sumba Barat Daya Minta Maaf

Frangky Keban

Jagat dunia maya dikejutkan dengan video viral seorang anak berpakaian SMP sedang dibully oleh kakak kelasnya di tingkat SMA saat mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Deo Gloriam Wanno Muttu-Desa Lagalete, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur.

Dalam video berdurasi 2 menit 1 detik itu, pelaku bully melontarkan kata makian kepada adik kelasnya usai menyanyi lagu Indonesia Raya

Warganet bereaksi cepat, mereka mengecam pelaku bully.

Kepada VN, Kamis (15/7) petang oknum senior yang diduga membully juniornya, ASP mengakui adanya insiden tersebut.

Ia mengakui kesalahannya. Ia mengaku bersama tiga teman lain, ia tidak tidak bermaksud melecehkan ataupun menghina korban FUA tapi hanya sekedar lucu-lucuan semata. Pasalnya, antara dirinya dengan FUA punya hubungan kekerabatan yang sangat dekat yang membuat dirinya dan FUA kerap melontarkan hinaan bahkan makian. Hal ini sebutnya akhirnya terbawa terus hingga ke sekolah.

“Saya minta maaf soal itu semua. Saya akui saya salah. Saya khilaf karena bahasa itu terlontar begitu saja. Tidak disengaja. Saya juga sudah sampaikan permohonan maaf kepada FUA dan dia telah memaafkan saya. Saya juga minta maaf kepada masyarakat SBD atas kesalahan saya itu. Perkataan itu tidak disengaja karena saya tahu kami keluarga dan sering main gila selama ini jadi saya lontarkan bahasa itu kepadanya tanpa bermaksud menyakitinya,”ungkapnya.

Saat ditanya soal siapa yang membuat video tersebut, dirinya mengakui bahwa video tersebut dibuat olehnya sendiri untuk kenang-kenangan. Dirinya memang sempat mempostingnya di status WA sebelum membaginya kepada salah satu kerabat dekatnya setelah diminta oleh yang bersangkutan.

“Saya tidak tahu kenapa viral karena saya hanya bagi ke Kaka saya saja yang sedang kuliah. Tidak ada orang lain lagi yang saya kasih. Video itu murni untuk konsumsi pribadi saja. Saya baru tahu hari Rabu sore kalau video itu jadi viral. Saya menyesal dan tidak mau mengulangi perbuatan ini lagi. Saya sudah siap menerima hukuman apapun itu. Saya akui saya salah,”ungkapnya.

Hal senada pun disampaikan Koordinator panitia MPLS, Afrin.

Menurutnya, kejadian tersebut membuatnya sangat malu terlebih lagi dirinya pun menjadi salah satu pihak yang disalahkan karena masih sempat mengeluarkan sedikit bahasa dalam video tersebut walaupun bahasa itu tidak mengandung penghinaan pada FUA.

“Saya malu dan tobat. Saya pun tidak tahu video itu bisa viral. Saya baru tahu Rabu sore itu. Memang saya sempat juga keluarkan bahasa sedikit dalam video itu dengan menyebut kasih pulang dia di SMP saja. Tidak ada lain karena setelah itu saya harus memonitor kegiatan teman-teman panitia lain di lapangan. Saya juga tidak tahu kalau ada teman-teman panitia sampai keluarkan bahasa begitu. Saya tidak tahu. Kenapa waktu itu FUA disuruh begitu karena dia datangnya terlambat dan tidak pakai masker jadi kami kasih hukuman begitu sama persis seperti teman-teman lainnya. Hukuman itu juga bagian dari tes mental saja karena kami dari awal sudah diarahkan untuk tidak boleh ada hukuman fisik,”katanya.

 

FUA Menganggap Hal Itu Biasa

Terpisah, korban bully, FUA saat diwawancarai media ini mengakui bahwa dirinya memang mendapat makian dari seniornya. Namun, baginya hal itu biasa karena keduanya saling mengenal apalagi sering melakukan ejekan dan makian selama berada di rumah.

Ia mengaku dihukum karena terlambat dan tidak menggunakan masker.

“Saya sudah memaafkan senior saya. Saya tidak ada masalah apapun dengan itu. Malah saat saya lihat video itu viral saya ketawa sendiri,”ujar anak yang baru lulus SMP itu. (bev/ol)

Leave a Comment