Pelaku Perjalanan tak Disiplin, Pemicu Peningkatan Covid-19

drh. Mathias AK Beyeng, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata

Hiero Bokilia

 

PENINGKATAN jumlah kasus terkonfirmasi positif covid-19 di Kabupaten Lembata yang terus naik dalam sepekan terakhir salah satu pemicunya karena pelaku perjalanan tidak disiplin. Setelah kembali dari luar luar daerah, tidak melakukan isolasi mandiri tetapi langsung kontak erat dengan warga lainnya. Akibatnya, ketika dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19, ia telah melakukan kontak erat dengan banyak orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata drh Mathias AK Beyeng kepada VN, Jumat (2/7) mengatakan, dari data tracking yang dilakukan selama ini, diketahui banyak pelaku perjalanan yang kontak erat setelah kembali dari luar daerah.

“Kalau kita tanya riwayat perjalanan selama dua minggu terakhir dari mana, rata-rata mengaku baru kembali dari luar daerah,” tegas Beyeng.

Selain karena tak disiplinnya pelaku perjalanan, katanya, peningkatan kasus juga terjadi disebabkan karena masyarakat tak disiplin. Masyarakat tak mentaati protokol kesehatan yang sudah berulang kali disampaikan. Masih terjadi kerumunan, dan warga yang tidak menggunakan masker secara benar.

Ditanya apakah peningkatan kasus juga disebabkan karena tak disiplinnya warga yang terkonfirmasi positif covid-19 menjalankan isolasi mandiri dan terjadi kontak erat, ia belum bisa memastikannya. Karena menurutnya, belum ada data falid soal itu, sehingga belum dapat diklaim bahwa peningkatan kasus salah satunya karena ketidakdisiplinan mereka yang telah terkonfirmasi positif covid-19.

Hanya saja, lanjutnya, ia mengimbau kepada semua elemen masyarakat untuk mentaati protokol kesehatan, dengan menghindari kerumunan, menggunakan masker secara benar, dan mencuci tangan menggunakan sabun pada air yang mengalir.

Jika masyarakat mentaati protokol kesehatan, ia yakin covid-19 bisa diperangi bersama dan perlahan dapat mengurangi jumlah kasus bahkan meniadakannya.

Saat ini, lanjutnya, warga yang terkonfirmasi positif covid-19 sebagian besar menjalani isolasi mandiri. Hanya mereka yang memiliki gejala klinis dan penyakit penyerta saja yang menjalani isolasi mandiri di rumah sakit. Untuk isolasi di rumah sakit, selain di RSUD Lewoleba, juga diisolasi di Rumah Sakit Damian, Rumah Sakit Bukit, dan di Puskesmas.

Ditanya terkait pembukaan lockdown di Desa Belobatang, Kecamatan Nubatukan, Beyeng mengatakan, seharusnya pada 3 Juli ini lockdown sudah bisa dibuka. Hanya saja, karena mereka berada dalam satu komunitas yang banyak maka perlu kehati-hatian dalam membuka lockdown.

Karena itu, sejauh ini belum dinyatakan sembuh dan dibuka. Pembukaan lockdown baru dilakukan setelah dilakukan evaluasi terlebih dahulu.

Vaksin 6.000 Warga

Terkait perkembangan vaksinasi, Beyeng menjelaskan sudah dilakukan vaksinasi terhadap 6.000 lebih warga. Menurut rencana, pada 9 Juli mendatang, akan dilakukan vaksinasi tahap kedua bagi mereka yang sudah divaksinasi tahap pertama.

Sedangkan kelanjutan vaksinasi untuk warga yang belum, masih menunggu kepastian pengiriman vaksin dari provinsi.

“Kami sudah ajukan permintaan, tapi sejauh ini belum dikirim. Masih tunggu stok vaksin dari Pusat. Kalau vaksin sudah diterima kami akan langsung umumkan untuk vaksinasi lanjutan,” kata Beyeng.

Berdasarkan rilis data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Kabupaten Lembata pada Kamis (1/7), terdapat penambahan 53 kasus baru terkonfirmasi positif Covid-19, sehingga total kasus menjadi sebanyak 707 kasus.

Dari jumlah ini, yang dinyatakan sembuh sebanyak 284, masih dalam perawatan dan isolasi sebanyak 409. Meninggal sebanyak 14 orang. PCR/TCM sebanyak 1.529 dengan jumlah positif sebanyak 234. Rapid test antigen sebanyak 13.445 dan yang positif sebanyak 782. (lia/ari/yan/ol)

Leave a Comment