Pemilik Bahasa di NTT Harus Melestarikan Bahasa Daerahnya

Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT, Syaiful Bahri Lubis

Putra Bali Mula

 

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai budaya dan ada istiadat di NTT yang beragam perlu dilestarikan. Hal ini tentunya tidak terlepas dari penggunaan bahasa daerah untuk menjaga secara orisinil dan otentik adat dan istiadat itu.

Prof M. Alie Humaedi, peneliti BRIN dalam webinar yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi NTT pada Rabu (13/10) menyampaikan hal ini. Webinar tersebut mengenai bahasa-bahasa daerah di NTT yang terancam punah.

Menurut dia, orang desa di Indonesia timur termasuk NTT lebih lancar berbahasa Indonesia ketimbang bahasa daerah. Kondisi ini berbeda dengan orang desa di daerah Jawa yang lebih banyak berbahasa daerah ketimbang bahasa Indonesia.

“Bahkan orang tua-tua di Jawa lebih lancar berbahasa daerah daripada bahasa Indonesia. Dalam konteks ini bahasa daerah mereka terselamatkan,” kata dia.

Ada manfaatnya bila literasi bahasa Indonesia kurang berpengaruh di daerah, jelas dia, karena jumlah penutur bahasa daerah akan lebih banyak. Akan tetapi di lain sisi ini menjadi paradoks pembangunan nasional dan menyebabkan ketimpangan pula nantinya.

Sementara kaum muda Indonesia dinilainya juga tidak begitu tertarik dan minder menggunakan bahasa daerah. Ia menghabiskan penelitian di Alor, Palue dan Atambua dan menemukan hal ini.

Ada 72 bahasa daerah di NTT, dan ada bahasa yang telah terancam punah misalnya Bahasa Kelon dan Kafoa. Kategori terancam punah dilihat dari ranah keluarga hingga adat dan agama yang menggunakan bahasa Indonesia dan minim penutur bahasa daerah. Ada 100 responden yang disurvei terkait ini.

“Pemilik bahasa sendiri yang harus melestarikan bahasa daerah mereka sendiri bukan peneliti,” tambahnya.

Indonesia timur yang otentik, eksotik, orisinil dengan ragam budaya perlu menurut dia ikut melestarikan bahasa daerah. Bahasa daerah adalah satu dengan budaya daerah sehingga apabila budaya dan adat dilestarikan maka bahasa daerah pun perlu dilestarikan.

“Bahasa dan budaya menyatu harusnya,” tukasnya.

Sebelum itu, saat pembukaan acara tersebut Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT, Syaiful Bahri Lubis menyampaikan dalam merevitalisasi atau menyelamatkan bahasa daerah maka perlu kerja bersama dari semua pihak termasuk dengan sistem pendidikan.

Sementara Plt. Asisten I, Bernadetha Usboko, mewakili Sekda NTT saat itu menyebutkan untuk kelangsungan adat dan tradisi di daerah maka diperlukan pelestarian bahasa daerah.

Penggunaan bahasa daerah di sekolah dan keseharian juga dapat digunakan meski tidak intens. Selain itu perlu ada kelompok atau komunitas untuk mempelajari bahasa daerah. Ia membenarkan bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT juga perlu memperhatikan ini.

Sementara June Jacob dari FKIP UKAW menyebutkan bahasa daerah adalah inti dari pengetahuan dan identitas asli NTT.

“Bila bahasa itu mati maka pengetahuan itu juga mati,” ucapnya. (Yan/ol)

Leave a Comment