Pemkab TTS kembali Buka Obyek Wisata

Bangunan lopo yang dibangun Pemkab TTS di wisata Pantai Oetune, di Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan. Foto: istimewa

Megi Fobia

SETELAH ditutup kurang lebih 6 bulan guna mencegah penyebaran covid-19, Dinas Pariwisata Kabupaten TTS akhirnya kembali membuka beberapa destinasi wisata yang ditutup.

“Sejumlah obyek wisata di TTS seperti Wisata Alam Oehala di Desa Oehala, Kota So’E, Kecamatan Mollo Selatan dan Oetune di Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, kembali dibuka mulai Rabu (26/5) untuk umum pasca ditutup sejak akhir Desember lalu,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata TTS, Roby Selan kepada VN di ruang kerjanya, kemarin.

Pembukaan obyek-obyek wisata tersebut ditandai dengan kegiatan bersepeda santai yang diikuti Forkopimda Kabupaten TTS dan sejumlah pejabat esalon II lingkup Pemkab TTS di Kawasan obyek wisata Oetune, Kecamatan Kualin.

Para pengunjung yang datangi obyek wisata di TTS, jelas Roby, dikenakan biaya retribusi berdasarkan Perbup Nomor 47 Tahun 2020 tentang perubahan tarif retribusi jasa usaha.

Sebelumnya retribusi masuk obyek wisata di TTS, menurut Roby, nilainya bervariatif. Anak-anak dikenakan biaya Rp2.000 dan orang dewasa Rp3.000. Dengan adanya perubahan Perbup Nomor 47 tersebut, maka retribusi masuk untuk anak-anak menjadi Rp 5.000 dan orang dewasa Rp 10.000 sekali masuk.

Selain retribusi, biaya sewa vila juga mengalami kenaikan berdasarkan Perbup tersebut. Dimana sebelumnya sewa vila per kamar/per malam dikenakan biaya Rp 225.000, kini menjadi Rp 350.000 per kamar/per malam.

“Besaran retribusi sebelumnya dituangkan dalam Perda Tahun 2001 tidak pernah mengalami kenaikan. Tahun ini baru naik berdasarkan Perbup Nomor 47 Tahun 2020,” jelasnya.

Walaupun sudah dibuka, tambah Roby, setiap wisatawan tetap diwajibkan menaati protokol kesehatan. Pengunjung wajib menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak selama berada di kawasan wisata.

Ketua DPRD TTS, Marcu Mbau juga meminta agar setiap pengunjung yang datangi obyek wisata di TTS tetap menaati protokol kesehatan yang berlaku.

“Protokol kesehatan tetap diberlakukan untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19,” ujarnya.(ari/yan/ol)

Leave a Comment