Pemkab TTU tetap Gunakan GeNose untuk Screening Covid-19

Bupati TTU, Juandi David, Kapolres TTU AKBP Nelson Filepe Diaz Quintas dan Dandim 1618/TTU, Letkol Arm.Roni Junaidi.

Gusty Amsikan

 

Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi NTT akan tetap mengoperasikan dua unit GeNose yang sudah dipesan untuk screening bagi pelaku perjalanan di wilayah tersebut.

Pasalnya, Pemkab TTU hingga saat ini belum mendapatkan informasi maupun surat resmi terkait penghapusan penggunaan GeNose untuk proses screening covid-19 bagi pelaku perjalanan domestik yang menggunakan moda transportasi jarak jauh.

Hal tersebut disampaikan Bupati TTU, Juandi David, Jumat (23/7) di Kefamenanu, TTU ketika dimintai tanggapannya terkait dicoretnya GeNose oleh Pemerintah Pusat sebagai alat secreening Covid-19 bagi pelaku perjalanan domestik yang menggunakan moda transportasj jarak jauh.

Bupati Juandi mengatakan hingga saat ini pihaknya belum mengetahui informasi terkait penghapusan GeNose tersebut. Sebab belum ada informasi atau surat resmi yang diterima Pemkab TTU terkait hal tersebut. Untuk itu, Pemkab TTU akan tetap mengoperasikan dua unit GeNose yang sudah dipesan.

Menurut Juandi, GeNose merupakan alat screening yang sah karena sudah melewati proses penelitian resmi. Pemkab TTU telah membeli dua unit GeNose, namun belum bisa dioperasikan karena masih menanti laptop pendukungnya. Jika laptop pendukung telah ada, maka pihaknya akan langsung mengoperasikan GeNose di Posko Oprigi dan RSUD Kefamenanu.

“Saat ini kita masih menanti laptopnya, kalau sudah ada, kita bisa langsung operasikan. Karena sistem operasi alat itu cepat. Bisa melakukan screening dalam waktu 15 menit dan hasilnya sudah langsung ada,”ungkap Bupati Juandi.

Ia menambahkan selain memesan dua unit GeNose, Pemkab TTU juga akan memperoleh bantuan satu unit alat PCR. Dengan kehadiran GeNose dan PCR, maka proses screening covid-19 bisa dilakukan dengan cepat. Hal tersebut jelas akan lebih menghemat waktu dan memudahkan petugas di lapangan.

“Selama pemerintah pusat belum menyurati dan memberikan penyampaian resmi maka pemerintah akan tetap mengoperasikan GeNose. Tidak ada surat dari pemerintah pusat bahwa alat itu dilarang dan kita akan tetap menggunakannya. Kita tahu bahwa alat itu resmi. Awalnya mau pesan PCR harganya 3 sampai 4 miliar, tapi kemudian kita pilih GeNose karena lebih terjangkau dan hasilnya cepat,”pungkas Bupati Juandi.(Yan/ol)

Leave a Comment