Pemuda GMIT Bantu Bangun Rumah Orangtua NW

 

Rafael L Pura

Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mewujudkankan mimpi NW, korban pembunuhan tragis di Batakte, Kabupaten Kupang, NTT.

GMIT membangun rumah untuk keluarga NW di Takari, Kabupaten Kupang seperti yang dicita-citakan sebelum meninggal dunia secara tragis.

Peletakan batu pertama telah dilakukan Minggu, (30/5). Rumah berukuran 7×8 meter itu sepenuhnya akan dikerjakan Pemuda GMIT, mulai dari tenaga teknis dan ahli.

Ketua Pengurus Pemuda Sinode GMIT David Natun mengatakan, setelah mendengar cerita soal keinginan NW sebelum meninggal dunia, pemuda GMIT terpanggil untuk mewujudkan cita-cita luhurnya ini.

Natun mengatakan sejak tragedi itu, bantuan berdatangan ke rumah orang tua NW namun tidak terkoodinir dengan baik. Pemuda GMIT berinisiatif dan mulai bergerak menbangun rumah.

“Kami hanya sebagai koordinir, seturut dengan mimpi NW. Harus ada orang yang bergerak cepat,” katanya.

GMIT, kata dia, secara sukarela mengumpulkan bantuan untuk mendukung mimpi NW di luar dari bantuan yang sudah ada.

Pemuda GMIT akan terus bergerak, mengumpulkan donasi jika masih terdapat kekurangan dalam membangun rumah orang tua NW itu.

Ia menambahkan siapa saja yang ingin terlibat mewujudkan mimpi NW, maka pihaknya terbuka untuk menerima bantuan.

Sementara Jeftah Sooai juga turut menyalurkan bantuan, sembako, semen, pasir serta membuka donasi ke rekening atas nama orang tua NW. Jeftha mengucapkan terima kasih atas setiap bantuan itu.

Bantuan itu, sebut Jeftha, merupakan bukti nyata kebaikan hati dan rasa sepenanggungan masyarakat NTT, kendati wilayah ini tengah dirundung bencana, baik Covid-19 maupun Seroja.

Sebelum meninggal, NW rela bekerja apa saja untuk membantu orang tuanya. Selepas tamat SMK Takari, ia berkomitmen bekerja apa saja. Mula-mula ia bekerja sebagai tukang jahit dan tinggal bersama kakaknya, Safira Welkis.

Setahun bekerja, NW memutuskan pulang ke kampung dan membantu orang tuanya bekerja di sawah. Ia kemudian diimingi-imingi oleh Tinus yang ia kenal di Facebook untuk bekerja di Kupang dengan gaji sebesar Rp 1.250.000.

Sesuai rencana, gaji itu akan dikirimkan ke orang tuanya. Gaji awalnya akan dikirimkan terlebih dahulu untuk membayar pekerja menggarap sawah ayahnya. NW tidak tega ayahnya terus bekerja meski sudah tua.

Setelah musim panen, barulah gaji-gaji selanjutnya dikirimkan untuk membangun rumah. Rumah NW sendiri sudah mulai lapuk, berlantai tanah, berrinding bebak dan beratap rumbia. Terjangan badai seroja kemarin membuat rumahnya kini miring sebelah dan disanggah dengan kayu.

Namun sayang, mimpi NW ini belum sempat ditunaikan. Ia meninggal dunia, dibunuh Tinus di Batakte, pekan kemarin. (bev/ol)

Leave a Comment