Pemuda GMIT Wujudkan Mimpi Nona Welkis

Suasana peletakkan batu pertama pembangunan runah milik Almarhumah Nona Welkis, di Takari, Kabupaten Kupang, NTT

Rafael L Pura

 

Pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mewujudkan mimpi Yuliana Apriani Lie Welkis (Nona Welkis). GMIT membangun rumah Nona Welkis sebagaimana komitmen mimpinya sebelum meninggal dunia secara tragis.

Peletakan batu pertama telah dilakukan, Minggu (30/5). Rumah berukuran 7 kaki 8 meter itu sepenuhnya akan dikerjakan pemuda GMIT, mulai dari tenaga teknis dan ahli.

Sebelum meninggal, Nona Welkis rela bekerja apa saja untuk membantu orang tuanya. Selepas tamat SMK Takari, ia berkomitmen bekerja apa saja. Mula-mula ia bekerja sebagai tukang jahit dan tinggal bersama kakaknya, Safira Lie Welkis, di kos Oebobo.

Setahun bekerja, Welkis mumutuskan pulang ke kampung dan membantu orang tuanya bekerja sawah. Nona Welkis kemudian diimingi-imingi kerja dari Tinus dengan gaji sebesar Rp 1.250.000. Nona Welkis dan Tinus berkenalan di Facebook.

Sesuai rencana, gaji itu akan dikirimkan ke orangtuanya. Gaji awalnya akan dikirimkan terlebih dahulu untuk membayar pekerja menggarap sawah Ayahnya. Nona Welkis tidak tegah ayahnya terus bekerja meski sudah tua.

Setelah musim panen, barulah gaji-gaji selanjutnya dikirimkan untuk membangun rumah. Rumah Nona Welkis sendiri, sudah mulai lapuk, berlantai tanah, berdinding bebak dan beratap rumbia. Terjangan badai seroja kemarin membuat rumahnya kini miring sebelah dan disanggah dengan kayu.

Namun sayang, mimpi Nona Welkis ini belum sempat ditunaikan. Ia meninggal dunia, dibunuh dan diperkosa Tinus di Batakte, pekan kemarin.

Ketua Pengurus Pemuda Sinode GMIT, David Natun mengatakan, setelah mendengar cerita mimpi nona Welkis, pemuda GMIT terpanggil untuk mewujudkan cita-cita luhurnya ini.

Natun mengatakan, sejak tragedi itu, bantuan berdatangan ke rumah orang tua Nona Welkis, namun kemudian bantuan itu tidak terkoodinir dengan baik. Pemuda GMIT berinisiatif dan mulai bergerak dan menbangun rumah nona Welkis.

“Kami hanya sebagai koordinir, seturut dengan mimpi Nona Welkis. Harus ada orang yang bergerak cepat,” katanya.

GMIT, kata dia, secara sukarela mengumpulkan bantuan untuk mendukung mimpi nona Welkis, di luar dari bantuan yang berdatangan itu. Pemuda GMIT akan terus bergerak, mengumpulkan donasi jika masih terdapat kekurangan dalam membangun rumah orang tua Nona Welkis itu.

Natun mengharapkan bantuan siapa saja yang ingin terlibat mewujudkan mimpi nona Welkis ini.

Jeftah Sooai, juga turut menyalurkan bantuan, sembako, semen, pasir serta membuka donasi ke rekening atas nama orang tua Noa Welkis. Jeftha mengucapkan terima kasih atas setiap bantuan itu.

Bantuan itu, sebut Jeftha, merupakan bukti nyata kebaikan hati dan rasa sepenanggungan masyarakat NTT, kendati wilayah ini tengah dirundung bencana, baik covid-19 maupun Seroja. (Rafael L Pura/Yan/ol)

Leave a Comment