Pemuda Sikka Kibarkan Bendera di Situs Budaya Kewa Wolot

Situasi pengibaran Bendera Merah Putih di Situs Budaya Kewa Wolot, Desa Hewokloang, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Selasa (17/8) pagi.

Yunus Atabara

Memperingati HUT ke-76 Kemerdekaan RI yang berlangsung di masa pandemi covid-19 dilaksanakan sederhana karena tidak melibatkan banyak orang. Namun unik dan berkesan.

Sekelompok pemuda dari suku Kewa Wolot, memilih melakukan pengibaran Bendera Merah Putih di Situs Budaya Kewa Wolot, Edo E’o Keo di puncak Gunung Kewa Wolot, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (17/8) pagi.

Pengibaran bendera di situs budaya itu diprakarsai oleh seorang anggota Satuan Brigade Mobil (Brimob) Detademen B Pelopor Maumere
Fernando Stevenson yang merupakan Tana Pu’ang (tuan tanah) dari suku Kewa Wolot.

Sebelum dilakukan pengibaran bendera merah putih, didahului dengan ritual adat di Watu Mahe (Mesbah ritual adat) yang bertujuan meminta leluhur untuk kesejahteraan bangsa dan negara. Dilanjutkan dengan pengibaran bendera merah putih.

Hadir perwakilan tokoh muda dari Seusina, He’o, Watublapi, Kewapante, Kewa Gunung dan Hewokloang. Selanjutnya melakukan renungan singkat usai pengibaran bendera.

Fernando Stevenson kepada VN mengatakan, tujuan memilih lokasi situs budaya Kewa Wolot sebagai lokasi pengibaran bendera merah putih dalam perayaan HUT RI ke-76 adalah untuk memaknai NKRI sebagai harga mati.

“Kami memilih lokasi ini, untuk memaknai restu leluhur bahwa NKRI adalah harga mati. Kami meminta restu leluhur agar bangsa ini terbebas dari wabah Covid-19,” ujarnya.

Situs bersejarah Kewa Wolot, dari Lepo Kewa Wolot memiliki nilai sejarah yang kokoh dan penuh dengan mistik magis. Di mana puncak gunung lokasi situs bersejarah itu, tidak goyang atau bergetar saat gempa melanda Kabupaten Sikka pada 12 Desember 1992.

“Saat gempa tahun 1992, sama sekali gunung itu tidak goyang. Getarpun tidak dan tidak satupun batu yang bergeser. Banyak orang yang lari dan menyelamatkan diri di tempat ini,” kata Nando

Lestarikan Budaya

Apa yang dilakukan itu lanjut Nando, sebagai bagian dalam melestarikan budaya dan menanamkan kecintaan generasi muda akan sejarah, budaya dan kearifan lokal agar tetap lestari di tengah maraknya budaya modern.

Sebagai salah satu pewaris budaya Kewa Gahar, Nando melantunkan syair sejarah situs ritual Kewa Wolot yang diwariskan leluhurnya;

‘Kewa uta ramut gawan, Au hei wali ramut wali, Au ledung ramut ha, henu boru lau Siam Sina Malaka, naha pikut no alu lean newan beta wera ha’, yang berarti, tanah Kewa Gunung banyak akar, akarnya tidak berkesudahan sampai ke daerah Siam, Cina dan Malaka patah satu tumbuh seribu.

“Ini sejalan dengan semangat NKRI sebagai harga mati yang sudah berakar di setiap sanubari warga negara Republik Indonesia,” ujarnya. (Yan/ol

Leave a Comment