Pemutaran Perdana Film Ata Modo Tuai Pujian

Putra Bali Mula

Anggota Komisi IV DPR RI Ansy Lema dan pemerhati pembangunan NTT sekaligus lawyer Honing Sanny memuji Film Ata Modo yang digagas Walhi NTT.

Keduanya menilai Ata Modo telah memberikan ruang atas perspektif masyarakat tentang kondisi sebenarnya masyarakat Pulau Komodo dalam pembangunan pariwisata premium.

Film ini juga mengangkat sudut pandang konservasi alam yang dinilai masyarakat setempat kontra dengan konsep pariwisata premium. Konstruksi pariwisata premium dianggap gamang dan merugikan masyarakat yang sejak awal berdampingan dengan satwa purba satu-satunya di dunia ini.

Para penonton yang bergabung secara virtual, Jumat malam (30/7), juga menyampaikan apresiasi dan pujian atas pemutaran perdana film tersebut saat sesi diskusi dibuka.

Ansy Lema menyebut dunia perlu tahu suara dari masyarakat Pulau Komodo atas hak dan ketimpangan yang ada di sana berhadapan dengan upaya privatisasi terhadap Pulau Komodo.

“Film ini mengajak kita semua untuk menjaga alam,” tanggap Ansy Lema.

Ia berpendapat Komodo dan masyarakat Pulau Komodo adalah satu kesatuan. Hewan paling mematikan di dunia ini pastinya sudah lama punah apabila masyarakat setempat tidak menerima dan hidup berdampingan sejak berabad lalu.

“Bukan seperti negara yang melihat Komodo ini seperti komoditas yang bisa diperjualbelikan dan tunduk pada korperasi,” kata dia.

Film ini sangat baik untuk mengedukasi masyarakat dalam menjaga kelangsungan alam. Ia menilai film ini bertema eco-pedagogi yaitu bagaimana mencintai bumi.

Tidak jauh berbeda, Honing mengapresiasi Walhi dan memberikan catatan tentang film ini. Film Ata Modo ini ia nilai merepresentasikan suara masyarakat akan pembangunan pariwisata premium yang ditentang itu.

“Film sebagai bentuk protes dan akan menjadi pesan yang perlu diketahui masyarakat,” kata dia.

Ia menyebut film ini sebagian besar memuat masyarakat ada di sana dan perlu diketahui ide pemerintah akan pariwisata di dalamnya. Secara umum ia melihat pesan pertentangan dalam film ini jauh tertinggal bila ditilik dari hak dan demokrasi lingkungan.

“Padahal kata premium saja sudah mengalami pemudaran dan tidak menarik,” kata dia. (bev/ol)

Leave a Comment