Pendapatan Pengusaha Toko Bangunan Ralatif Normal

Toko Bangunan Imanuel di Kelurahan Penfui, Kota Kupang, NTT

Sinta Tapobali

Pandemi Covid-19 belum usai, dampaknya tidak hanya dirasakan pada aspek kesehatan tetapi juga sektor ekonomi mulai dari pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kendatipun demikian, usaha toko bangunan atau bisnis bahan bangunan merupakan salah satu bisnis yang cukup normal selama Pandemi Covid-19.

Adi, salah satu pemilik toko bangunan di Kelurahan Liliba mengakui bahwa selama pandemi covid-19, usaha toko bangunannya ikut terdampak. Hanya saja tidak signifikan seperti bidang usaha lainnya.

Katanya, pendapatan toko bangunan miliknya sempat turun 30-40 persen namun kini sudah kembali normal. “Selama pandemi ini pengaruhnya ada tapi tidak terlalu hanya sekitar 30-40 persen saja,” imbuhnya.

Bahkan menurutnya, penerapan kebijakan PPKM yang diterapkan Pemerintah tidak berdampak signifikan terhadap usahanya. “Masih tetap ramai, banyak yang masih datang belanja dan paling banyak dicari itu bahan bangunan seperti semen, seng, paku, besi, cat dan barang yang lain juga. Meski ada bahan yang naik seperti seng, tapi harga masih terjangkau oleh masyarakat dan tidak ada yang protes,” ujar Adi.

Dirinya merasa senang berbisnis bahan bangunan karena selain mendapatkan keuntungan yang besar, bahan bangunan yang ia jual juga cepat habis dan dia bisa segera belanja kembali.

Senada dengan Ady, Oko Li salah satu pengusaha bahan bangunan di Kelurahan Penfui juga mengutarakan hal senada. Awal pandemi tentu membawa dampak yang signifikan, bahkan tokonya sempat ia tutup selama beberapa pekan karena sama sekali tidak ada pembeli.

Namun saat ini usahanya ini terbilang sudah bangkit dan berjalan normal seperti biasanya lagi. “Tidak semua bahan bangunan saya jual, paling hanya semen nona Kupang, Bosowa, paku seng, cat, besi, pipa, dan lain-lain. Kalau seng tidak jual. Sekarang sudah normal, kalau awal pandemi tahun lalu itu yang saya sampai tutup toko karena tidak ada pembeli,” ujarnya

Keuntungan yang ia raih cukup besar karena bahan-bahan bangunan yang ia jual masuk dalam kategori bahan bangunan yang cepat habis sehingga perputaran bisnisnya ini tetap lancar.

Untuk harganya ia mengaku normal seperti semen nona kupang ia jual dengan harga Rp 45 ribu, semen tonasa Rp 46 ribu, paku seng ia jual Rp 27 ribu/kg. “Masih normal tidak ada yang naik sekali,” ungkapnya.

Paul Penu salah satu pengunjung kepada VN mengatakan bahwa salah satu bahan bangunan yang saat ini mengalami kenaikan adalah seng.

Menurutnya harga normal seng 0.20 Rp 53 ribu hingga Rp 55 ribu. Namun saat ini mengalami kenaikan hingga Rp 67 ribu lebih. Kendati demikian ia tetap harus membeli karena kebutuhan.

“Seng sekarang Rp 67.500, harga lagi naik. Semen nona Kupang tadi Rp 45 ribu, besi 6 dan besi 8 masing-masing Rp 38 ribu dan Rp 60 ribu per staf, paku tadi Rp 25 ribu/kg,” ujar Paul Penu.

Menurutnya harga masing-masing jenis bahan bangunan ini masih dalam taraf normal belum ada kenaikan harga yang begitu berarti. (Yan/ol)

Leave a Comment