Pengamalan Pancasila di Era Pandemi

Ilustrasi lambang Garuda Pancasila
Ilustrasi lambang Garuda Pancasila

Oleh Alfons Bunga Naen
dan Theresia Wariani
(Dosen FKIP Universitas Katolik Widya Mandira)

 

 

Tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila melalui Keputusan Presiden Nomor 24 tahun 2016 oleh Presiden Joko Widodo. Diktum pertama dan kedua dari Keppres tersebut adalah menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila dan tanggal 1 Juni sebagai hari libur nasional. Diktum ketiga Keppres ini menyatakan, pemerintah bersama seluruh komponen bangsa dan masyarakat Indonesia memperingati hari lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni.

Proses perumusan Pancasila dimulai ketika Ir Soekarno berpidato di hadapan sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945 dan dibahas pada hari yang sama untuk menjadi dasar negara.

Setelah melalui proses yang cukup panjang akhirnya Pancasila sebagai dasar negara selesai dirumuskan untuk kemudian dicantumkan ke dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Pengesahan Pancasila sebagai dasar negara dilakukan pada tanggal 18 Agustus 1945 pada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang pertama.

Taman Renungan Pancasila
Kita masyarakat NTT patut berbangga karena saat Bung Karno merenungkan nilai-nilai Pancasila, beliau tengah menjalani masa pengasingan di Ende. Selama masa pengasingan, Bung Karno banyak kali merenung di sebuah taman sekitar lokasi pengasingan, di bawah pohon sukun. Salah satu hasil perenungannya adalah Pancasila. Sekarang ini taman tersebut dikenal sebagai Taman Renungan Bung Karno atau Taman Renungan Pancasila. Lokasinya di Kelurahan Rukun Lima, Kota Ende.

Di taman tersebut, terdapat patung Soekarno duduk merenung di bawah pohon sukun bercabang lima sambil menatap ke arah laut. Sementara, pohon sukun yang ada di Taman Renungan Bung Karno disebut Pohon Pancasila. Pohon yang ada saat ini adalah pohon yang ditanam pada 1981, karena pohon yang asli sudah tumbang sejak 1960.

 

Pancasila di Era Pandemi Covid-19
Pada 1 Juni 1945, Soekarno mendapatkan gilirannya untuk menyampaikan gagasannya mengenai dasar dari negara Indonesia merdeka, yang dinamakan Pancasila. Gagasan yang disampaikan dalam bentuk pidato tersebut berbunyi “Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya.

Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.”
Pada 75 tahun yang lalu Bung Karno dalam pidatonya mengatakan Negara Indonesia yang kita dirikan adalah negara gotong royong.

Di dalam gotong royong tersebut ada interaksi antar suku bangsa dan kuatnya prinsip-prinsip kepentingan umum dibandingkan dengan kepentingan golongan yang keluar dari musyawarah atau mufakat. Hal tersebut masih relevan dalam konteks kekinian terkait pandemi Covid-19. Nilai gotong royong yang dikobarkan Bung Karno itulah yang saat ini sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat. Dalam menghadapi pandemi Covid-19, dibutuhkan kebersamaan, persatuan dan kesatuan bangsa sehingga tidak terpecah belah dalam menyikapi upaya penanganan Covid-19.

Semakin meluasnya penyebaran wabah virus korona di Indonesia bahkan di seluruh dunia belum dapat dipastikan kapan akan berakhir. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan krisis yang sangat mendalam bagi rakyat Indonesia, baik krisis kesehatan, psikologis, sosial, ekonomi, dan ketatanegaraan. Dalam menghadapi pandemi Covid-19, tantangan yang dihadapi tidak mudah karena berdampak pada sektor ekonomi, sosial, politik, hingga hankam.

Pancasila sebagai dasar ideologi negara Indonesia memiliki nilai-nilai yang menguatkan Indonesia sebagai bangsa antara lain persatuan, solidaritas dan gotong royong yang dibutuhkan dalam menghadapi pandemi global Covid-19. Pandemi ini adalah momentum untuk menekankan pentingnya nilai Pancasila. Pandemi saat ini merupakan ujian terhadap kesatuan sebagai satu bangsa.

Negara yang berhasil keluar dari pandemi Covid-19 adalah negara yang memiliki persatuan dan kesatuan serta solidaritas yang kuat, mulai dari pemerintah sampai masyarakat tingkat bawah. Pancasila akan teruji, benar-benar sakti saat kita tetap utuh, bersatu dalam kebersamaan dan tidak goyah dalam menghadapi Covid-19.

 

Penerapan Sila-Sila Pancasila
Suatu bangsa dituntut untuk menunjukkan nilai-nilai terbaik dari ideologi kebangsaan untuk dapat mengatasi tantangan pandemi Covid-19. Keadaan ini mengandung semua nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Pancasila. Diperlukan pemerintahan efektif, yang berpadu dengan kepercayaan dan kepatuhan rakyat terhadap semua ketentuan yang diterbitkan pemerintah. Diperlukan kesadaran masyarakat untuk menghubungkan kepentingan perorangan dengan kepentingan masyarakat, menjauhi sikap egosentris yang hanya memikirkan diri sendiri.

Bagaimana menerapkan sila Pancasila dalam era pandemi sekarang ini? Sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Pengamalan sila ini misalnya adalah dengan berdoa dan berserah diri kepada-Nya untuk keselamatan semua anggota keluarga. Kita juga berdoa agar virus ini akan segera berakhir dari dunia. Covid-19 adalah bagian dari ujian dalam kehidupan. Hal ini harus semakin menyadarkan kita tentang kekuatan di luar kekuatan manusia.

Sila kedua yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab. Setiap orang wajib memperlakukan satu sama lain dengan memperhatikan etika, sehingga muncul rasa memanusiakan manusia. Di saat pandemi, empati dan tanggung jawab kemanusiaan benar-benar diuji. Kita harus sadar bahwa kita tidak hidup sendiri. Kita berkewajiban untuk saling menjaga agar wabah tidak menyebar. Disiplin menjalankan protokol kesehatan menjadi tanggung jawab kolektif.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Empati kemanusiaan haruslah melahirkan persatuan dan gotong royong untuk menyelesaikan masalah. Pandemi ini dapat dikalahkan dengan cara kita bersatu untuk melawannya.

Sila keempat adalah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Mendukung kebijakan pemerintah dalam setiap langkah penanganan Covid 19 adalah salah satu cara untuk menerapkan sila ini dalam memutus rantai penyebaran virus. Esensi sila keempat, kebijaksaan pemimpin dan elite politik dibutuhkan untuk menghasilkan kebijakan yang benar-benar berorientasi pada kepentingan rakyat dalam menangani pandemi Covid-19. Tidak ada yang boleh mengambil untung, menyalahgunakan kekuasaan, serta otoriter di tengah kesulitan rakyat.

Sila kelima adalah Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Orientasi mewujudkan kesejahteraan sosial harus menjadi yang terutama dari setiap komponen negara.

Dalam memperingati hari lahir Pancasila, kita perlu membangun, diawali dari diri sendiri, ketahanan diri, yang memberi kontribusi bagi ketahanan masyarakat yang merupakan pelaksanaan dari nilai gotong royong sebagai nilai inti dari Pancasila. Penanganan pandemi Covid-19 merupakan kewajiban bersama seluruh bangsa Indonesia.

Leave a Comment