Pengambilan Paksa Jenazah Covid-19 kembali Terjadi

Paskalis Ola Tapobali, Sekda Lembata

Hiero Bokilia

 

PENGAMBILAN Paksa terhadap jenazah pasien terkonfirmasi positif covid-19 di RSUD Lewoleba, Kabupaten Lembata kembali terjadi.

Menyikapi hal tersebut, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Kabupaten Lembata meminta Polres Lembata memproses hukum para pelaku.

Sekretaris Daerah (Sekda) Lembata Paskalis Ola Tapobali yang juga Ketua Pelaksana Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Kabupaten Lembata kepada wartawan, Jumat (16/7) mengatakan, pasien covid-19 berjenis kelamin laki-laki (83) meninggal dunia di RSUD Lewoleba, Jumat (16/7) sekitar pukul 07.15. Ia lalu diambil paksa oleh keluarga untuk dibawa ke rumahnya tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

Padahal, sesuai hasil pemeriksaan, kata Tapobali, pasien positif covid-19 dan setelah menjalani perawatan di RSUD Lewoleba, ia pun meninggal dunia.

Saat meninggal, keluarga mengambil paksa jenazah untuk dibawa pulang tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

“Yang menjadi kecemasan dan ketakutan kami kalau keluarga atau tetangga yang datang melayat bisa tertular covid-19 dari almarhum,” tegasnya.

Karena itu, lanjutnya, Satgas Covid-19 sudah berkoordinasi dengan Kapolres Lembata untuk penegakan hukum bagi keluarga yang mengambil jenazah almarhum tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

Direktur RSUD Lewoleba dr Bernad Yoseph Beda menjelaskan, pasien masuk IGD RSUD Lewoleba pada Kamis (16/7) pukul 04.30 dengan keluhan sesak nafas, batuk sudah agak lama, tetapi sejak dua hari yang lalu batuk lebih keras, demam, makan minum baik sebelum masuk rumah sakit dan pasien mengeluh kecapaian.

Setelah masuk, terangnya, dilakukan observasi dan hasilnya tekanan darah 150/80 mmHg, N: 135x/menit, RR: 38x/menit, suhu tubuh 37,5 derajat celsius, SP01 66 persen.

Selanjutnya, kata Bernard, dilakukan pemeriksaan rapid antigen dengan hasil positif. Kondisi pasien terus menurun dan dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (16/7) pukul 07.15 dengan diagnoasa meningga karena ARDS, Pneumonia dan terkonfirmasi positif covid-19
Ketua DPRD Lembata Petrus Gero mendukung langkah penegakan hukum yang disambil Satgas Cvid-19 Kabupaten Lembata untuk memproses secara hukum pihak kelurga yang mengambil paksa jenazah pasien.

Ia juga mendukung Polres Lembata memproses kasus tersebut, mengingat pengambilan paksa jenazah seperti itu sudah kali kedua terjadi di Lembata. Paling tidak, dengan adanya proses hukum maka akan memberikan efek jera bagi masyarakat lainnya agar tak lagi mengulangi peristiwa yang sama.

Saat ini, kata Gero, kasus covid-19 di Indonesia termasuk Lembata meningkat drastis, sehingga pemerintah memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) termasuk di Kabupaten Lembata guna mencegah penyebarluasan covid-19.

“Langkah yang diambil oleh pemerintah semata-mata untuk melindungi masyarakat, mencegah penyebaran covid-19,” tegas Gero.

Ia menjelaskan, budaya di Lembata khususnya dan NTT pada umumnya, jika ada yang meninggal begitu banyak orang melayat, keluarga memegang jenasah dan lain sebagainya. Jika itu dilakukan pada jenazah yang terkonfirmasi positif covid-19 maka akan banyak orang yang terpapar covid-19. Karena itu keluarga mesti iklas untuk dilakukan peguburan secara prokes jika ada keluarga yang meninggal karena covid-19.

Ia juga mengimbau kepada seluruh komponen masyarakat untuk tetap mentaati protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas. (ari/yan/ol)

Leave a Comment