Pentingnya Membaca untuk Menulis

membaca

Laurentius Giustiniani No (Siswa Kelas X IBB SMA Seminari St. Rafael-Kupang)

 

Membaca biasanya identik sebagai kegiatan seseorang menghabiskan waktu luang ketika tak ada pekerjaan. Namun, di kalangan seminaris, membaca bukan hanya kegiatan mengisi waktu luang. Membaca adalah kegiatan yang patut dilaksanakan di mana pun seminaris berada.

Membaca dapat membantu dan mengembangkan minat menulis seseorang. Dalam membaca, seseorang dapat memperoleh manfaat yang konsisten. Membaca membantu seseorang untuk dapat menulis dengan baik. Karena itu, membaca perlu dilakukan bukan hanya oleh orang yang ingin menjadi penulis, tetapi oleh semua orang yang ingin mengutarakan gagasannya secara teratur.

Membaca juga dapat membantu seseorang yang sering dipercaya untuk tampil di depan umum. Agar orang tersebut tidak kehabisan kata-kata, juga agar ia tidak ragu dan gelisah karena kekurangan perbendaharaan gagasan, ia perlu membaca.

Orang yang membaca akan terlatih melakukan sesuatu dengan berpikir kritis. Membaca juga membantu seseorang menyukai karya apa pun, termasuk sastra. Dalam menulis karya sastra, kemampuan merangkai kata dalam karya hanya bisa diperoleh melalui pembacaan atas karya orang lain sebelumnya. Menjadikan membaca sebagai kebiasaan akan membuat kegiatan tersebut menjadi menyenangkan dan menghibur.

Ada tiga kendala dalam membaca untuk menulis yang sering dialami para seminaris. Pertama, malas membaca. Banyak orang sering merasa bosan dalam membaca. Mereka selalu meluangkan waktu mereka untuk hal-hal yang tidak penting, misalnya bermain game online. Para seminaris tidak bermain game online, sehingga mereka punya kesempatan lebih banyak untuk membaca. Ada juga para seminaris yang malas dan lebih memilih bercerita dan melakukan aktivitas yang tidak berguna, termasuk pada jam studi.

Kedua, kurang berliterasi. Kegiatan literasi merupakan kegiatan wajib di seminari agar para siswa dapat menambah gagasan. Biasanya, 15 menit sebelum pelajaran dimulai, para siswa diminta untuk membaca bahan bacaaan di luar bacaan pelajaran. Para siswa yang malas berliterasi biasanya lamban berpikir, selalu kurang berkonsentrasi dalam pelajaran.

Ketiga, kesulitan menulis. Kesulitan menulis biasanya dialami oleh para siswa yang malas membaca. Mereka akan lebih memilih menyalin dari Google daripada memikirkan secara baik tulisan mereka sendiri. Kendala ini biasanya terjadi karena minimnya bacaan para siswa, sehingga mereka selalu tidak bisa menghasilkan tulisan.

Membaca merupakan aktivitas yang dapat membantu siswa mencapai kesuksesan. Sering kita temukan banyak siswa yang malas membaca. Padahal, membaca berfungsi tidak hanya untuk menambah wawasan, tetapi juga memperbaiki mental siswa dan memperbanyak perbendaharaan kata dan gagasan. Siswa yang rajin membaca akan mudah menulis dan berbicara di depan umum.

Karena itu, saya berharap para siswa selalu menyediakan waktu untuk membaca. Membaca harus kita lihat sebagai proses belajar. Membaca harus kita anggap sebagai hadiah teladan dari para guru kepada kita, sehingga kita kelak dapat menjadi manusia berguna di mana pun kita berada.

Membaca membantu kita menulis. Bukan hanya menulis karya sastra, tetapi menulis apa pun, tulisan yang kita anggap berharga bagi masa depan kita. Membaca membuat kita menyimpan emas di dalam otak. Emas itulah yang kelak membuat kita menjadi orang terpilih di masa depan.

Leave a Comment