Penyidik Fokus Tangani Dirut PT ADS terkait Investasi Bodong

Kasi Datun Kejaksaan Negeri Ende, Slamet Pujianto, memberikan keterangan pers usai penahanan Direktur PT. ADS. Muhamad Badrun, Kamis 3 Juni 2021. Foto: Son Bara vn.

Son Bara

 

Bisnis investasi yang dijalankan PT. Asia Dinasti Sejahtera (ADS), dengan iming-iming yang menggiurkan bagi nasabah kini masuk ranah hukum. Praktik pengumpulan dana masyarakat dinilai bertentangan dengan UU No 10 tentang Perbankan.

Kepala Kejaksaan Negeri Ende, Romlan Robin, melalui Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun) Slamet Pujiono, menjelaskan, penyidik belum menyimpulkan ada atau tidak tersangka baru dalam kasus PT. Asia Dinasti Sejahterah (ADS). Saat ini penyidik masih fokus menangani tersangka Muhamad Badrun sebagai Direktur Utama PT. ADS.

“Kita belum bisa pastikan apakah ada tersangka baru atau tidak dalam kasus ini. Kita masih lakukan pendalaman dan mengikuti fakta persidangan nanti. Jika fakta persidangan menyebutkan tersangka mempekerjakan orang atau bekerja bersama-sama, bisa kita tingkatkan sebagai tersangka. Sementara bagi para nasabah, kita akan lihat juga fakta persidangan seperti apa. Yang pasti kalau dari fakta mengarah pada tersangka baru kita akan tindaklanjuti,” tegas Slamet Pujianto.

Penyidik saat ini fokus merampungkan berkas penyidikan agar bisa dilimpahkan sebelum masa tahanan pertama berakhir. Untuk tersangka sendiri, selama menjalani pemeriksaan sangat kooperatif.

“Tersangka sangat kooperatif selama proses pemeriksaan. Kita upayakan merampungkan berkas sebelum masa tahanan pertama berakhir. Saat ini tersangka dijerat dengan Undang-Undang perbankan No 10 tahun 1998, dengan ancaman hukuman minimal lima (5) tahun dan maksimal sepuluh (10) tahun. Kita juga sudah menerima barang bukti yang disita penyidik Polda NTT, serta menyita tiga rekening atas nama PT. ADS dan dua rekening atas nama tersangka Muhamad Badrun. Barang bukti berupa uang Rp1,3 Miliar sudah dititipkan sementara di Bank BRI cabang Ende. Sedangkan untuk aset, kita akan lakukan pendataan dan pendalaman, karena sesuai keterangan masih dibeli secara kredit.” tutup Slamet Pujianto.(Yan/ol)

Leave a Comment