Petani Kopi di Colol mulai Bebas dari Tengkulak

Petani Kopi di Desa Colol saat memproduksi Kopi Tuk.

Gerasimos Satria

 

Petani Kopi di Desa Colol, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi NTT, kini bebas dari tengkulak kopi.Hadirnya Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Poco Nembu di Desa Colol membawa kabar gembira bagi petani. BumDes Poco Nembu membeli Kopi dengan harga yang menjanjikan.

Petani Kopi di Desa Colol,Stefanus Jon,Selasa (8/6) menuturkan kopi satu-satunya komoditi pertanian sebagai sumber pendapatan masyarakat di Desa Colol.Petani di Desa Colol dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anak dari hasil kopi.Namun,selama ini tengkulak membeli kopi dengan harga Rp 8.000-Rp 9.000 per liternya.

Dia mengaku kopi milik petani colol,Kabupaten Manggarai Timur secara nasional sudah cukup terkenal.Kualitas kopi Colol di tanah air sudah mampu bersaing dengan kopi daerah lainnya di Indonesia.Tetapi,petani kopi dari Colol belum sejahtera karena harga kopi yang dibeli tengkulak sangat murah.

Stefanus Jon mengaku sistem ijon menghantui petani kopi di Desa Colol selama ini.Dimana,petani kopi bergantung pada tengkulak yang membeli kopi dengan sistem ijon.Dengan bantuan Bank NTT yang bekerjasama dengan BumDes Poco Nembu,sistem ijon berlahan-lahan mulai ditinggalkan petani.

Dia menuturkan proses pengelolahan kopi sangat menyulitkan petani,topografi kebun kopi yang berada di bukit membuat petani harus bekerja ekstra hati-hati saat panen.Tengkulak yang berasal dari luar daerah Manggarai Timur datang ke rumah petani untuk membeli kopi.Harga kopi yang dibeli tengkulak sangat standar dan merugikan petani.

Stefanus Jon mengaku salah satu satu masalah utama yang dialami petani Kopi di Colol selama ini adalah harga kopi yang sangat murah.Dimana tengkulak yang menentukan harga kopi sesuai keinginan.Dimana alasan turunnya harga kopi oleh para tengkulak karena harga komodoti Kopi di Surabaya,Jawa Timur turun.

Dia menuturkan kehadiran BumDes Poco Nembu  tahun 2018 mulai menjawab keluhan harga kopi.Dimana kopi milik petani dibeli dengan harga yang diinginkan oleh petani.Sehingga rata-rata kopi petani colol dijual ke BumDes.

“Petani kopi di Colol mulai bebas dari tengkulak.Ada tanda-tanda petani sejahtera dengan kehadiran BumDes Poco Nembu di Desa Colol,”tutur Stefanus Jon

Petani Kopi di Colol, Agustinus Suhardi menuturkan petani kopi di Colol memiliki berbagai jenis kopi yakni Kopi arabika,juria,robusta dan yellow capturra.Keempat jenis kopi itu selama ini dibeli tengkulak dari petani sangat murah.Petani menjual kopi kepada tengkulak lantaran tidak miliki akses kepada pembeli kopi.

Selain komoditi kopi,petani juga menanam cengkeh.Tetapi,pengelolaan kopi satu-satunya menjadi aktivitas petani setiap hari.

Agustinus Suhardi mengaku perhatian Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Bank NTT yang membantu memasarkan produk kopi dari colol sangat besar.Petani Kopi di Colol saat ini sudah tidak lagi menjual kopi kepada tengkulak,Kopi milik petani dibeli BumDes Poco Nembu dengan harga yang memuaskan petani.

Dia berharap kopi dari petani colol laku terjual di pasar.Sehingga berdampak pada petani yakni harga kopi terus naik.
BumDes Poco Nembu telah memulai memproduksi kopi colol dalam kemasan dan mulai dijual di pasar.

“Ibu rumah tangga di Desa Colol juga memproduksi kopi dengan nama “Kopi Tuk”.Kopi Tuk sudah mulai dipasarkan di Borong,Ruteng dan Labuan Bajo,”kata Agus Suhardi. (Yan/ol)

 

Leave a Comment