Petani Minta Bupati Belu Bangun Ulang Irigasi Obor dan Tula Ema

Bupati Belu Agus Taolin sedang meninjau sumber air dan pompa air yang digunakan Aleks Bouk untuk mengairi sawahnya di desa Leontolu pada Senin (24/5). Foto: Stef/VN
Bupati Belu Agus Taolin sedang meninjau sumber air dan pompa air yang digunakan Aleks Bouk untuk mengairi sawahnya di desa Leontolu pada Senin (24/5). Foto: Stef/VN

 

 

Stef Kosat

Petani di Desa Leontolu, Kabupaten Belu, NTT meminta Bupati Belu dr Agus Taolin dan Wabup Belu Aloysius Haleserens membangun ulang irigasi Obor dan Tula Eman yang saat ini sudah tertutup oleh pasir.

Perwakilan petani Bernadino Berek mengatakan ada sebanyak 315  hektar sawah di desa itu dan sisanya lahan holtikultura. Seluruh lahan sawah yang ada ditanam saat kepemimpinan Gubernur NTT Ben Boi.

“Hasilnya melimpah bahkan almarhum sendiri ikut memanen padi di Desa Leontolu ini. Namun, sekarang hasil panen berkurang. Irigasi juga sudah rusak. Kami minta Bapak Bupati bisa perbaiki,” ungkapnya, Senin (25/5).

Sementara petani lain Agus Bouk,yang memiliki sawah luas meminta bantuan pompa air dan pipa 8 dim untuk mengaliri sawah dari sumber lain karena irigasi sudah rusak.

Selain itu, ia  Dinas Pertanian Belu memperbiki embung kecil di Desa Leontolu yang dikerjakan secara asalan dan saat ini sudah runtuh dan tidak bisa digunakan.

“Masa dinas pertanian membangun embung kecil tanpa menggunakan besi beton dan tidak ada penggalian ke dalam. Lalu setelah selesai dibagun dan belum dimanfaatkan sudah rusak. Maka mau tidak mau harus ada perbaikan sehingga bisa dimanfaatkan. Kalau membangun embung kecil dengan ketebalan hanya 20 cm tanpa besi beton, otomatis pasti rubuh. Harus ada dana pemeliharaannya supaya embung kecil ini dapat dimanfaatka,” kritiknya.

Menanggapi keluhan para petani Bupati Belu Agus Taolin meminta Kepala Dinas Pertanian, PPL, dan kelompok tani membuat proposal supaya ia membawa permintaan dan keluhan masyarakat ke Kementan, Kemendes dan Komisi IV DPR RI untuk meminta alsintan, mesin pompa air, pupuk dan alat pemotong padi .

Ia mengakui, luas lahan sawah di Kabupaten Belu seperti di Raimanuk, Tasifeto Barat, Raihat dan Fatuketi cukup luas dan tidak bisa hanya mengandalkan kerja manual dari petani.

“Ini dinas teknis juga harus selalu bersama bupati, wakil bupati di lapangan untuk pengkajian komprehensif. Sebab lahan sawah 315 hektare yang dipanen hanya 10 hektare dan 110 hektare lainnya puso atau gagal panen. Pemimpin harus tahu apa kesulitan masyarakat dan wajib ada solusi,” tegas Agus.

Sementara wakil Bupati Belu, Aloysius Haleserens menilai Kepala Dinas Pertanian Belu harus sudah mengetahui penyebaran kelompok tani dan kebutuhannnya.

“Besok proposal sudah harus ada di meja bupati untuk ditandatangani dan dibawa ke Jakarta,” ujarnya.

Ia berpesan agar bantuan pemerintah berupa alsintan dijaga dan dirawat dengan baik. Jika ada kerusakan segera diperbaiki agar bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Terkait irigasi Obor dan Tula Ema, kata Aloysius, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas PUPR untuk menggunakan alat untuk menangkut pasir yang tertimbun lalu diperbaiki agar bisa digunakan sebelum musim tanam kedua. (bev/ol)

 

Leave a Comment