PKP Ajak Petani Perbanyak Kerja

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Lecky Frederick Koli (tengah) pose bersama petani di Desa Oebola dan Desa Silu usai meninjau lahan TJPS. Foto:Kekson vn.

Kekson Salukh

DINAS Pertanian dan Ketahanan Pangan (PKP) Provinsi NTT mengajak masyarakat petani ladang kering memperbanyak waktu kerja demi meningkatkan produktivitas panen jagung dari program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).

Kepala Dinas PKP NTT, Lecky Frederick Koli kepada VN, di Kupang pada Jumat (2/7) siang mengatakan, program TJPS merupakan momentum yang tepat untuk membuat terobosan dalam bidang pertanian menuju perubahan peradaban pertanian.

Masyarakat atau petani ladang kering tidak hanya bekerja di musim hujan tetapi memperbanyak kerja di musim kemarau demi meningkatkan produktivitas. Petani yang selama ini bekerja hanya 4 bulan harus mampu bekerja 8-10 bulan.

Jika terjadi peningkatan produktivitas maka terjadi penambahan produksi barang dan jasa yang implikasinya adalah meningkatkan pendapatan, kesejahteraan masyarakat dan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah.

“Ini yang perlu kita siapkan sehingga para petani bisa mengisi produksi pada musim hujan maupun musim kemarau. Kalau dikerjakan terus menerus akan menjadi kebiasaan maka perubahan-perubahan di NTT akan terjadi dengan sendirinya,” tandasnya.

Lecky mengajak seluruh pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri dan mahasiswa serta seluruh masyarakat untuk bersinergi dalam membangun NTT di bidang pertanian demi mewujudkan cita-cita bersama menuju NTT Bangkit NTT Sejahtera.

Ia mengungkapkan sudah mengelilingi pulau Timor, Sumba, Rote, Alor, Sabu Raijua dan Pulau Flores guna mendorong dan memberikan semangat kepada masyarakat dalam mengerjakan program TJPS sekaligus melihat potensi yang ada untuk diberdayakan dan dioptimalkan semua demi meningkatkan produktivitas membangun ketahanan pangan, kemandirian ekonomi, dan kemandirian petani.

Di Kabupaten Kupang, sekitar 2.500-3.000 hektare lahan potensial akan digunakan untuk program TJPS karena memiliki sumber air yang cukup dan semangat kerja petani sangat tinggi.
Petugas lapangan secara rutin akan melakukan pemantauan di lapangan sehingga, jika ada tantangan dan hambatan langsung dilaporkan untuk mencari solusinya.

“Membangun komunikasi dan interaksi untuk mengetahui informasi perkembangan di lapangan itu sangat penting. Sehingga kalau ada masalah di lapangan bisa diketahui dan diselesaikan secara cepat dan tepat demi meningkatkan produktivitas,” tukasnya.

Program TJPS itu ditanggung oleh pemerintah. Mulai dari benih, pupuk, obat-obatan dan pendampingan hingga pemasaran hasil panen dilakukan oleh petugas dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan.

“Terkait penjualan hasil produksi petani juga telah disiapkan Offtaker dari pemerintah sehingga pendapatan masyarakat dijamin mengalami peningkatan. Ini hal bagus yang perlu ditingkatkan,” bebernya.

Ia berharap petani yang mengelola program TJPS bisa mengikuti anjuran pemerintah, dan pendamping lapangan agar segala persoalan bisa diselesaikan dengan baik dan memberikan kontribusi bagi peningkatan produksi.

Sekretaris Desa Oebola, Selfius Kono mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas PKP yang telah membantu pompa air, traktor, benih jagung, pupuk dan obat-obatan untuk melakukan penanaman musim ASEP bagi masyarakat Desa Oebola.

“Kami bersyukur dan mengucap terima kasih karena pemerintah hadir dan membantu kami. Ini sekaligus kami melatih petani untuk menyiapkan diri memasuki musim tanam pada Oktober-Maret,” jelasnya.

Ketua Kelompok Tani Feto Mone, Desa Silu, dan Desa Hono Kecamatan Fatuleu mengatakan, masyarakat sudah menyiapkan lahan seluas 500 hektare untuk pengembangan program TJPS.

“Di desa Silu itu lahan seluas 300 hektare sehingga dinas harus menyiapkan 6 ton benih jagung. Satu hektare mendapat 20 kilogram, pupuk dan obat-obatan juga dinas yang siapkan dan target kami panen 1.600 ton jagung,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika kapasitas air mencukupi maka akan dilakukan ekspansi untuk memperluas lahan menjadi lebih besar sesuai kapasitas air yang tersedia. (ari/yan/ol)

Leave a Comment