PKW Tenun Ikat Sikka, Model Ideal Perlindungan Indikasi Geografis

Tim Ahli Indikasi Geografis Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM Yuslisar Ningsih dan Mariana Molnar Gabor Warokka, saat melakukan pemeriksaan substantif IG kain tenun ikat Sikka, Rabu (17/11) siang di Gedung Jata Kapa Maumere.

Yunus Atabara

Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) di sektor tenun ikat yang dilakukan di Kabupaten Sikka adalah model ideal dalam memberikan perlindungan Inkasi Geografis (IG) terhadap kelestarian tenun ikat Sikka.

Demikian dikatakan Tim Ahli Indikasi Geografis Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementrian Hukum dan HAM Yuslisar Ningsih dan Mariana Molnar Gabor Warokka saat melakukan pemeriksaan substantif IG kain tenun ikat Sikka, Rabu (17/11) siang di Gedung Jata Kapa Maumere.

“Pendidikan Kecakapan Wirausaha tenun di bidang tenun ikat Sikka adalah model yang ideal dalam memberikan perlindungan Indikasi Geografis (IG) terhadap kelestarian tenun ikat Sikka sebagai warisan leluhur,” kata Mariana Molnar Gabor Warokka.

IG adalah suatu tanda yang menunjukkan ciri khas, faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari keduanya yang memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan.

Menurut Molnar, pengawasan IG untuk memastikan kebenaran, pengubahan dan pembinaan teknis atau pengawasan Indikasi Geografis. Dari hasil pengawasan itu akan direkomendasi kepada Menteri Hukum dan HAM RI untuk pembatalan atau penerbitan sertifikat IGN.

Dimana sertifikat Indikasi Geografis akan diberikan dan dilindungi selama terjaganya reputasi, kualitas, dan karakteristik, perlindungan IG pada suatu barang, atas inisiatif sendiri atau laporan dari kelompok masyarakat.

Tim Ahli IG Yuslisar Ningsih mengatakan, manfaat perlindungan IG adalah memperjelas identifikasi produk, menetapkan standar produksi, menghindari praktik persaingan curang, menjamin kualitas dan keaslian sebuah produk yang dihasilkan.

“Indikasi Geografis untuk melindungi masyarakat lokal pemegang hak cipta, menyediakan, meningkatnya produksi dan memperkuat citra produk, reputasi produk yang berkarakater khas dan unik,” kata Yuslizar.

Menurut Yuslisar, Kain Tenun Sikka di dalamnya terdapat unsur – unsur karakter motif Ikat, proses pemintalan benang, proses pewarnaan, proses ikat motif, proses tenun hingga menghasilkan kain yang bernilai jual.

Tenun ikat itu sendiri adalah kekayaan intelektual warisan leluhur, yang membutuhkan keahlian tertentu untuk menghasilkan sebuah produk kain tenun yang unik dan menarik.

“Keahlian ini harus dilindungi, ada upaya regenerasi agar tetap ada dan berkembang dengan baik, ini yang harus mendapat perhatian semua pihak agar tetap lestari,” ujarnya.

Tim Ahli IG lanjut Yuslisar, hanya melakukan pemantauan dan pengawasan apabila ada perubahan agar bisa dikoreksi. Verifikasi itu berpedoman pada dokumen deskripsi yang diajukan saat pendaftaran sebagai dasar dikeluarkannya sertifikat oleh Mentri Hukum dan HAM.

“Dokumen deskripsi yang diajukan saat pendaftaran itu akan dievaluasi kembali apakah masih sesuai atau sudah berubah atau sudah memiliki produk turunan,” ujarnya.

Apabila masyarakat ingin melihat apakah masih sesuai atau tidak, bisa dilihat dalam dokumen deskripsi yang bisa diakses oleh semua orang. Di situ sangat rinci baik bentuk motifnya, sejarah ataupun kelembagaannya, serta jumlah anggota dalam masing masing MPG.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sikka Yoseph Benyamin, mengatakan, pihaknya telah melakukan pembinaan terhadap kelompok masyarakat pengrajin kain tenun ikat melalui pelatihan tahapan dan proses tenun ikat Sikka.

“Saat ini kami selenggarakan pelatihan Pendidikan Kecakapan Wirausaha bersama kementerian pendidikan. Jauh sebelumnya kami sudah melatih banyak kelompok tenun ikat,” kata Benyamin.(Yan/ol)

Leave a Comment