Rayakan HAKTP, Rumah Perempuan Kupang Kampanye 16 Hari

Direktris Rumah Perempuan Kupang (RPK) Libby Sinlaeloe (tengah) didampingi Koordinator Pendampingan dan Advokasi RPK Waty Bagang (kanan) dan salah satu staf Leny Kora (kiri) memberikan penejlasan terkait kampanye 16 hari untuk memperingati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di kantor RPK, Rabu (24/11).

Paskal Seran

 

Rumah Perempuan Kupang sebagai Lembaga yang memberikan layanan kepada perempuan dan anak korban kekerasan ikut berperan aktif dalam melakukan kampanye 16 hari (mulai 25 November hingga 10 Desember mendatang). Kampanye anti kekerasan terhadap perempuan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat itu dilakukan untuk memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) yang jatuh pada 25 November.

Kampanye itu dimaksudkan untuk mendorong keterlibatan semua pihak dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan berbasis gender.

Hal itu diungkapkan Direktris Rumah Perempuan Kupang Libby Sinlaeloe dalam rilis kepada VN, Rabu (24/11) malam.

Dia mengungkapkan, kampanye kali ini dikemas dalam tema ‘Dukung Korban, Dukung Penghapusan Kekerasan Seksual: Gerak bersama, Sahkan Payung Hukum Penghapusan Kekerasan Seksual yang Berpihak Kepada Korban’.

Menurutnya, tema itu dimaksudkan untuk melawan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan mendorong lahirnya kebijakan pemerintah terutama mensahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Selain itu, kata dia, kampanye itu dilakukan untuk menggalang gerakan solidaritas berdasarkan kesadaran bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran HAM; mendorong kegiatan bersama untuk menjamin perlindungan yang lebih baik bagi para survivor (korban yang sudah mampu melampaui pengalaman kekerasan).

Ia juga mengakui, kampanye itu juga untuk mengajak semua orang untuk turut terlibat aktif sesuai dengan kapasitasnya dalam upaya penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan baik pemerintah, komunitas, kelompok milenial.

Untuk itu, menurut Politisi Golkar itu, Rumah Perempuan akan melakukan aneka kegiatan sebagai wujud nyata kampanye dengan melakukan, seperti pembagian bunga Kampanye HAKTP di sejumlah titik, Dialog Radio Kampanye HAKTP, pemasangan spanduk Kampanye HAKTP, berdiskusi dengan kelompok dampingan, beraudiens dengan DPRD dan Pemerintah Kabupaten Kupang untuk mendorong DPRD dan Pemerintah melahirkan Kebijakan Perlindungan Perempuan dan Anak tingkat kabupaten, dan berdiskusi dengan elompok Mahasiswa tentang HAKTP di Pantai Sulamanda.

Ia juga mengungkapkan, pilihan 16 hari itu karena ada delapan hari besar mulai dari 25 November Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan; Hari AIDS Sedunia (1 Desember); Hari Internasional bagi Penyandang Disabilitas (3 Desember); Hari Internasional bagi Sukarelawan (5 Desember); Hari Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan (6 Desember); Perempuan Pembela HAM/WHRD-Women Human Rights Defender (9 Desember); dan Hari HAM Internasional (10 Desember).

Fasilitasi 4.271 Kasus

Menurut Libby, Rumah Perempuan Kupang sendiri sejak berdiri pada tahun 2000 hingga 2020 sudah melakukan pendampingan terhadap korban kekerasan. “Kami sudah melakukan pendampingan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan. Dengan jumlah kasus sebanyak 4.271 Kasus dan kasus kekerasan seksual sebanyak 711 kasus,” ujarnya.

Sementara tahun 2021, khusus Pada Periode Januari – Oktober 2021, Rumah Perempuan Kupang telah menerima dan melakukan pendampingan terhadap perempuan dan anak sebanyak 179 kasus. “Angka ini cukup tinggi, sehingga perlu kepedulian bersama untuk melakukan kampanye stop kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tegasnya.

Untuk memerangki angka kekerasan yang tinggi itu, kata dia, rumah perempuan melakukan kampanye pencegahan dan upaya penanganan kasus kekeran terhadap perempuan dan anak melalui media cetak, elektronik, medsos. “Kami juga membangun kemitraan dengan para pihak untuk melakukan edukasi baik lembaga agama, sekolah, Pemuda, Pemeirntah desa, Komunitas Peduli Perempuan dan Anak, LLB, Kelompok Penyintas, Kelompok Mahasiswa. Selain itu, kami juga mendorong lahirnya kebijakan perlindungan perempuan dan anak melalu advokasi, diskusi-diskusi dan supporting data,” pungkasnya.

Koordinator Pendampingan dan Advokasi Waty Bagang menambahkan, sepanjang tahun 2021 (Januari – Oktober), Rumah Perempuan secara aktif melakukan berbagai upaya untuk memberikan perlindungan penuh terhadap perempuan dan anak korban kekerasan, melakukan sosialisasi terkait isu KTPBG dan juga KTPA di berbagai kesempatan, melakukan pengorganisasian kelompok perempuan akar rumput sehingga tersedia ruang–ruang yang aman bagi perempuan dapat berbagi dan saling support di komunitas.

“Kami juga melakukan siaran radio dan penerbitan media informasi sebagai upaya penyebaran informasi terkait dengan persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak, mengupayakan kegiatan pemberdayaan ekonomi sebagai batu loncatan agar perempuan tidak selalu tergantung secara ekonomi pada laki-laki dan melakukan penguatan, perlindungan, bahkan memfasilitasi perempuan dan anak untuk mendapatkan haknya termasuk menyediakan layanan shelter bagi perempuan dan anak yang membutuhkan dan terancam,” jelasnya. (Yan/ol)

Leave a Comment