SD Inpres Liliba Jadi Salah Satu Sekolah Penggerak Kota Kupang

Suasana IHT di SD Inpres Liliba Kota Kupang Senin (12/7). Foto: Putra/VN
Suasana IHT di SD Inpres Liliba Kota Kupang Senin (12/7). Foto: Putra/VN

Putra Bali Mula

Enam sekolah dasar di Kota Kupang terpilih menjadi sekolah penggerak diantaranya adalah dua SD Negeri yaitu SDN Inpres Liliba dan SDN Perumnas Dua. Empat sekolah swasta lainnya adalah SDK Canossa, SD Kristen Citra Bangsa, SD Kristen Lentera, dan SD GMIT Airnona Dua.

“Jadi yang terpilih itu empat sekolah swasta dan dua sekolah negerinegeri itu melalui seleksi ketat tingkat nasional,” ungkap Kepala Sekolah SD Inpres Liliba, Yohanes J. Tukan kepada VN di ruang kerjanya, Senin (12/7).

Pemberitahuan mengenai terpilihhya SD Inpres Liliba ini, kata dia dikabarkan pada Mei lalu. Sementara ini dilaksanakan program In House Training (IHT) tentang bagaimana menerapkan konsep kurikulum operasional satuan pendidikan guna mengganti kurikulum 2013.

Tujuan program sekolah penggerak berasal dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program ini lebih kepada penerapan merdeka belajar dalam memberikan ruang lebih luas kepada siswa untuk berkreasi, belajar, mengeksplorasi minat, bakat dan kegemaran siswa.

Manfaat program ini untuk sekolah adalah meningkatkan hasil mutu pendidikan dalam kurun waktu 3 tahun ajaran, percepatan digitalisasi sekolah, percepatan pencapaian profil pelajar Pancasila, meningkatnya kompetensi kepala sekolah dan guru, kesempatan untuk menjadi katalis perubahan bagi sekolah lain, mendapatkan pendampingan intensif untuk transformasi sekolah, serta memperoleh tambahan anggaran untuk pembelian bahan ajar bagi pembelajaran dengan paradigma baru.

Sementara ini IHT dilaksanakan denga pengawasan dari pemerintah pusat secara daring sehubungan dengan situasi pandemi saat ini. IHT ini berlangsung 8 hari dan telah memasuki hari kelima pada Senin (12/7).

Setiap sekolah penggerak ini memilih komite pembelajar terdiri dari kepala sekolah, pengawas atau pembina pendidikan, guru kelas satu, guru kelas empat, guru penjaskes dan guru agama yang disiapkan menjadi instruktur di sekolah itu.

“Jadi kami yang melaksanakan IHT ini instrukturnya dari saya sebagai kepala sekolah, ada ibu pengawas, ada teman-teman guru yang sudah mengikuti diklat nasional, dan sekarang istilahnya pengimbasan ke guru-guru lain di sekolah ini,” jelasnya.

Dalam sekolah penggerak minimal kepala sekolah dan para guru mampu mencirikan lima karakter yaitu berjiwa nasionalisme Indonesia, bernalar dan beraklak mulia, guru yang pembelajar, profesional, dan berorientasi pada peserta didik. (bev/ol)

Leave a Comment