Secuil Tawa di Wajah Ayah Nona Weklis

Anggota DPRD Kota Kupang, Jeftha Sooai (kiri) memberi bantuan kepada Adrianus Lie Welkis di Kelurahan Batakte, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Rabu (26/5). Foto: Rafael/VN
Anggota DPRD Kota Kupang, Jeftha Sooai (kiri) memberi bantuan kepada Adrianus Lie Welkis di Kelurahan Batakte, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Rabu (26/5). Foto: Rafael/VN

 

 

Rafael L. Pura

Duka mendalam masih menyelimuti keluarga atas kepergian Yuliana Apriani Lie Welkis (Nona Welkis) korban pembunuhan oleh Tinus di Kelurahan Batakte, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, beberapa waktu lalu. Kepergian nona Welkis, merupakan pukulan terberat keluarga kecilnya, terutama orangtuanya, Helena Husnawati dan Adrianus Lie Welkis.

Adrianus tampak belum sepenuhnya melupakan peristiwa yang merenggut nyawa putrinya itu. Ia masih sedih, namun siang itu, Rabu (26/5) senyumnya perlahan merekah saat menerima rombongan donasi dari warga, terutama dari Kota Kupang.

VN juga datang bersama rombongan donasi setelah menerima undangan meliput dari Anggota DPRD Kota Kupang, Jeftha Sooai dan Jenderal Raja Manalu, serta anggota DPRD Kabupaten Kupang David Dau.

Bantuan untuk keluarga Nona Welkis mulai berdatangan hingga saat ini. Baik dari anggota dewan maupun komunitas yang peduli.

“Kami sangat berterima kasih atas bantuan ini,” kata Adrianus saat menerima setiap menerima donasi itu.

Nona Welkis merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Ia bersama kakaknya sudah bekerja. Welkis menjadi tulang punggung keluarga selama ini.

Nona Welkis, awalnya bekerja sebagai tukang jahit, mengukuti jejak kakak perempuannya, Safira Lie Welkis. Mereka tinggal di kos-kosan di wilayah Oebobo, Kota Kupang. Setahun bekerja, Welkis memutuskan pulang ke kampugnya, Takari, membantu orang tuanya bekerja di sawah.

Welkis kemudian berkenalan dengan Tinus lewat Facebook. Tinus kemudian mengiming-imingi Welkis bekerja di salah satu toko di Kota Kupang dengan dengan gaji Rp1.250.000. Sesuai rencana, Welkis akan mengirimkan sebagian besar gajinya untuk orang tuanya.

Uang itu, sesuai rencana Welkis juga diperuntukan untuk membayar pekerja yang menggarap sawah milik ayahnya. Welkis merasa kasihan dengan kondisi ayahnya yang sudah tua, namun tetap menggarap sawah.

Setelah masa panen, kata Adrianus, barulah Welkis mengirimkan gajinya untuk membangun rumah. Namun rencana itu belum sempat ditunaikannya.

Jeftha dan rombongan sendiri mendistribusikan bantuan berupa uang tunai, sembako, pasir dan semen.

Bantuan itu sebagai wujud keprihatianannya kepada Nona Welkis. Bantuan itu diharapkan bisa meringankan beban orang tua nona Welkis.

Jeftha merasa terpanggil untuk membantu orang tua Welkis setelah mengetahui kisahnya. Welkis masih menyimpan cita-cita yang belum sempat ditunaikannya, yakni membantu orangtuanya, memberikan kehidupan yang layak kepada mereka.

“Nona Welkis sebagaimana penuturan Ayahnya, Adrianus, ia ingin membangun rumah dan membayar pekerja untuk mengarap sawah milik mereka. Ia juga merasa kasihan kepada ayahnya yang tetap bekerja mesti sudah bukan usia kerja,” katanya.

Jeftha kini juga sedang menghimpun donasi lanjutan. Jefta berharap, bantuan itu bisa diperluas untuk membantu membangun rumah orangtua Welkis.

Sebelum menyalurkan bantuan itu, Jeftha sebelumnya berkoordinasi dengan BRI cabang Takari. Jeftha hendak membuka rekening atas nama pribadi orangtua Nona Welkis.

“Namun karena orangtuanya sudah punya rekening, maka kita mengunakan yang ada itu saja,” katanya.

Jefta menilai, kepemilikan rekening pribadi itu penting, mengingat sejumlah orang maupun atas nama kelompok kemudian membuka rekening donasi ke nona Welkis tapi mengunakan rekening pribadi mereka. (bve/ol)

Leave a Comment