Sejarah Awal Berdirinya Gereja Pertama di Fatukoa

Gedung Gereja Luz Fatukoa yang kini dijadikan Kantor Klasis Kota Kupang Barat.

Yapi Manuleus

Gereja merupakan tempat ibadah bagi kaum Nasrani atau umat Kristiani. Gereja sebagai tempat  menghimpun orang-orang beriman agar selalu berbuat baik terhadap sesamanya, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan yakni cinta kasih.

Saat membangun sebuah bangunan Gereja, pastilah menyimpan sejarah yang panjang. Karena bukan saja menyiapkan fisik dan material, namun harus dibarengi pula dengan menyatukan hati setiap umat manusia dalam membangun sebuah Gereja.

Seperti di Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Sebuah kelurahan di pinggiran di Kota Kupang itu dahulu belum memiliki Gereja. Masyarakat di sana sangat majemuk dan selalu bertumpu pada Alam, karena alamlah yang menghidupi mereka.

Dalam tulisan ini, akan diulas sebuah cerita awal berdirinya sebuah Gereja yang bernama Gereja “Luz” Fatukoa yang hingga saat ini masih berdiri dengan kokohnya di tengah-tengah perkumpulann warga Kelurahan Fatukoa, berdasarkan tuturan beberapa Narasumber yang di temui VN.

Felipus Taebenu (Alm), salah satu tua adat yang beralamat di wilayah RT01/RW01 Kelurahan Fatukoa yang sempat ditemui penulis beberapa waktu lalu saat masih hidup, mengisahkan Gereja Luz di Kelurahan Fatukoa dibangun pada tahun 1949, yang saat itu wilayah Provinsi NTT khususnya Kota Kupang masih berstatus Kefetoran yang dipimpin seorang Raja (Usif).

Banyak kisah yang tersimpan dibalik pembangunan Gereja Luz Fatukoa, hanya demi masyarakat Kelurahan Fatukoa bisa mengenal dan berbakti pada sang Pemberi Hidup sesuai perkembangan jaman saat itu, karena pada waktu itu Masyarakat masih belum beragama.

“Dahulunya sebelum Gereja ini ada, kebanyakan kami belum mengenal ibadah. Karena belum ada orang untuk mengajari kami saat itu. Waktu itu juga Raja Nisnoni yang pimpin hampir semua kehidupan kami di sini (Fatukoa),” katanya.

Pada Tahun 1948, kata dia, bangunan Gereja pun belum ada saat itu. Namun dia mengatakan pada tahun itu salah satu warga yang bernama “Nimrot Tetebaki” sudah mulai mengajarkan cara beribadah pada masyarakat fatukoa. Nimrot mengajarkannya di bawah pepohonan yang berada di pinggiran Kali.

“Kami Gereja saat itu di ‘Nifu Upun'(Kali Besar yang masih ada saat ini), jadi itu Nimrot Tete Baki ini yang pimpin kami beribadah, karena itu belum ada Gereja ow,” ujarnya.

Pada Tahun 1949, muncul inisiatif dari sang Raja maupun para tertua adat yang lain untuk membangun sebuah gedung seadanya untuk bisa dipakai beribadah, karena jaman mulai maju.

Ketika gubuk yang dibangun tersebut sudah ada, maka datanglah saat itu seorang Pendeta pertama yang memimpin pertama kali di Gereja tersebut bernama Esau Amtiran yang berasal dari wilayah Amarasi.

“Saat itu Gubuk yang dibangun juga sederhana saja, dan Pendeta pertama saat itu Esau Amtiran dia punya istri nama Rahel Amtiran, itu saya masih ingat betul,” tuturnya.

“Tapi dia pimpin hanya satu tahun sa, pas Tahun 1950 dia sudah pensiun dan kami tidak liat dia lagi,” tambahnya.

Tahun itu 1950, setelah pensiunnya Esau Amtiran dari Gereja tersebut, Nimrot Tetebaki mendatangkan lagi salah seorang pendeta yang bernama Thobias Nenot’ek. Sehingga katanya, Saat itulah Gereja mulai didirikan dengan bangunan yang lebih baik dan peletakan batu pertama dilakukan oleh salah seorang Tukang bernama Joseph Boikole.

“Joseph Boikole ini dia tukang, dan saat itu Tamukung Titus Na’u,” tuturnya.

“Lonceng Gereja itu, kami pikul dari oesapa, itu keluarga Isliko yang kasih pada kami. Makanya masih ada sampai sekarang itu,” tambahnya.

Nama dari Kitab Suci

Melkias Asanab, salah satu tetua adat di wilayah Kelurahan Fatukoa, saat ditemui VN pada Minggu (1/8) terkait bangunan Gereja Luz Fatukoa tersebut mengatakan sebelum datangnya Pendeta Thobias Nenot’ek Gereja belum disematkan nama. Pendeta Thobias Nenot’ek lah yang menamai Gereja tersebut setelah bersepakat dengan semua tokoh adat di wilayah Kelurahan tersebut dengan nama “Luz”.

Kata “Luz” berati sebuah tempat, dimana tertulis dalam Alkitab yakni, Kitab Kejadian 28:19. Dimana saat itu Yakub bermimpi di sebuah tempat yang bernama Luz, bahwa Tuhan menampakan diri padanya untuk memberikan Negeri itu kepada Keturunan Yakub.

Ketika Yakub bangun dari tidurnya, dia langsung menamai tempat itu Betel, yang dahulu nama tempat/kota itu “Luz”.

“Waktu itu nama Gereja belum ada, kami hanya Gereja saja. Pak Thobias Nenot’ek datang baru memberi nama pada Gereja kami ini yaitu Luz yang diambil dari kitab Kejadian 28 tentang Mimpi Nabi Yakub di Betel,” kata Melkias.

“Nama ini juga, banyak orang yang bertanya dan kagum mengenai Nama tersebut karena hanya mempunyai tiga huruf saja dan itu hanya ada pada Gereja kami ini,” tambahnya.

Konflik Internal

Dikisahkannya, sekitar tahun 1952, Gereja Luz Fatukoa sempat Pecah menjadi dua kubu karena ada konflik internal di dalam. Dimana saat itu Frans Niuflapu sempat mendirikan sebuah Gereja yang jaraknya tidak jauh dari Gereja Luz.

Nama Gereja itu katanya “Bintang Timur”. Namun jemaatnya hanya terdiri dari keluarganya sendiri.

“Mereka lama Gereja di situ sampai merayakan Natal juga. Tapi setelah kasus PKI barulah mereka kembali dan bergabung dengan Gereja Luz,” Tuturnya.

Pada tahun 1954, dua orang tokoh masyarakat diutus pergi menghadap Raja Nisnoni di Kupang (Kebun Raja), demi mendapatkan meterial bantuan untuk pembangunan Gereja Luz Fatukoa selanjutnya.

Dua orang tokoh masyarakat tersebut bernama Hermanus Kolmate dan Pither Bana, untuk meminta bantuan bahan bangunan berupa Seng dan sebagainya karena saat itu Gereja masih beratap Daun.

“Raja saat itu juga langsung kasih kami bantuan berupa Seng. Sehingga Gereja pun bisa beratap seng,” tutur dia.

Sementara itu, penanggung Jawab Gereja Luz Fatukoa, Gasper Amu ditemui VN mengatakan, kini Gereja Luz Fatukoa sudah berumur 72 Tahun dan termasuk salah satu dari sekian banyak Gereja Tua di Kota Kupang.

Dirinya terpilih menjadi Majelis di Gereja Luz Fatukoa semenjak Tahun 1990 yang saat itu masih tujuh wilayah Rayon dan hanya terdapat 14 orang Majelis dan 6 orang Majelis Harian. Kini di Gereja Luz Fatukoa terdapat 54 Majelis yang terdiri dari 7 orang Majelis Harian. Serta jumlah Jemaat sebanyak 190 Kepala Keluarga.

“Dulu itu, orang dari Desa Usapi Sonbai, Oelomin, Bello, Naioni datang Gereja di sini. Karena Gereja saat itu baru satu saja ini,” katanya.

“Tapi saat sudah ada Gereja di Usapi Sonbai baru tidak datang lagi. Sempat mereka kasi nama Gereja itu Luz tapi sekarang sudah rubah jadi Betel,” tambahnya.

Selama Gereja Luz Fatukoa didirikan, sudah sebanyak lima Pendeta yang memimpin Gereja tersebut.

Lima Pendeta itu di antaranya, Esau Amtiran, Pdt. Thobias Nenot’ek, Pdt. Agustina Padak Djawa Udju, Pdt  Bastiana Y. S. Leopenu-Foeh, dan terakhir Pdt. Cornelis Banobe.

Gereja Luz Fatukoa sudah memiliki gedung baru yang sedikit lebih baik dari hasil jerih payah Jemaat. Gedung Gereja lama dipakai sebagai Kantor Klasis Kota Kupang Barat. (Yan/ol)

Leave a Comment