Sekolah Bisa Optimalkan Pembelajaran di Luar Kelas saat Pandemi

Tim dari Kementerian Pendidikan Afganistan saat memantau proses pembelajaran berbeda di SD Inpres Laipori dalam kegiatan studi bandingnya belum lama ini. SDI Laipori merupakan salah satu sekolah dampingan INOVASI di Sumba Timur. Foto:Jumal Hauteas/vn.

Jumal Hauteas
Sekolah-sekolah yang berada di wilayah zona hijau atau bebas dari paparan Covid-19 saat ini bisa mengoptimalkan pembelajaran di luar kelas saat melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas. Pembelajaran di luar kelas dapat dilakukan untuk mengoptimalkan sirkulasi udara jika ruang kelasnya tidak memungkinkan.

Direktur Sekolah Dasar, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikbudristek, Sri Wahyuningsih, mengungkapkan hal ini saat tampil sebagai panelis bersama Kepala Bidang Ketenagaan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur, NTT, Rambu Ari, Kabid Pendis Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT, Haji Pua Monto Umbu Nay, dan Gender Officer INOVASI Jakarta, Pdt. Repelita Tambunan, dalam lanjutan Lokakarya I Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Pendidikan Kabupaten Sumba Timur yang diselenggarkan melalui aplikasi zoom, Kamis (15/7), dengan thema Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19.

Dijelaskannya, ruang terbuka bisa menjadi pilihan untuk membangun kembali komunikasi awal antara guru dan anak didik setelah lebih dari satu tahun harus belajar dari rumah karena Pandemi Covid-19 yang memisahkan anak didik dengan guru maupun sesama anak didik.

“Kalau sirkulasi udara di kelasnya kurang baik dan ada ruang terbuka yang bisa dimaksimalkan untuk dijadikan tempat belajar, bisa dimanfaatkan guru dengan kreatifitasnya,” ungkapnya.

Sri juga menegaskan sekolah dapat memanfaatkan project based learning untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna dengan meminimalisir interaksi secara langsung. Dimana pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga anak-anak hanya perlu dua sampai dengan tiga jam di sekolah dengan proses pembelajaran sekali jalan sehingga tidak ada istirahat dan anak-anak bisa langsung pulang ke rumah setelah jam pelajaran dan tidak butuh kantin untuk berbelanja.

“Satu rombongan belajar juga diatur maksimal 15 putra-putri kita sehingga jarak duduknya diatur 1,5 meter depan-belakang-kiri-kanan,” urainya.

Menurutnya, Direktorat SD selalu hadir memberikan edukasi kepada kepala sekolah, guru, peserta didik, maupun orang tua SD terutama di masa pandemi Covid-19, Direktorat SD juga menyelenggarakan sayembara-sayembara yang dimanfaatkan guru dan orang tua untuk memberikan penugasan yang mendidik dan menantang bagi anak-anaknya, mendorong masyarakat ikut ambil bagian meningkatkan pendampingan pembelajaran hingga pelibatan dunia usaha terlibat langsung melalui program CSR nya.

“Pendidikan tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja, harus bersama dengan semua mitra mulai dari orang tua, swasta dan pihak lain yang peduli dengan dunia pendidikan,” tegasnya.

Sri menambahkan hasil evaluasi mereka beberapa waktu lalu, banyak guru yang dalam menggunakan kurikulum kondisi khusus masih menggunakan pola pembelajaran tatap muka yakni dengan mengkopi bahan pelajarannya dan diberikan kepada anak-anak untuk mengerjakan dengan system pilihan ganda sehingga anak-anak tidak memiliki tantangan dan kreatifitas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

Padahal menurutnya guru harus mampu memberikan penugasan-penugasan kepada anak didik dalam nuansa bermain dan belajar, sehingga anak-anak tidak menyelesaikan tugasnya dengan bantuan orang tua dalam waktu singkat lalu proses pembelajaran yang diharapkan menjadi tidak tercapai.

“Berikanlah penugasan dalam bentuk prakarya atau keterampilan, dan tidak sekedar pilihan ganda sehingga anak-anak mampu berpikir dan bekerja dengan kreatif,” tandasnya.

Gender Officer INOVASI Jakarta, Pdt. Repelita Tambunan, dalam paparan materinya menegaskan bahan pelajaran untuk anak didik saat ini masih bias gender sehingga perlu dilakukan pembenahan yang lebih baik. Sebab masih ditemukan dalam bahan pembelajaran yang menggambarkan anak perempuan sebagai pribadi yang lemah dan selalu digambarkan sebagai pekerja domestik, dibandingkan dengan anak laki-laki yang digambarkan sebagai sosok yang tegas, kuat dan mampu bekerja pada bidang-bidang yang lebih luas.
Padahal menurutnya pendidikan di Indonesia sesuai dengan komitmen internasionalnya sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2030 mendatang semua anak perempuan dan laki-laku sudah harus menyelesaikan pendidikan primer dan sekunder secara gratis, setara dan berkualitas yang mengarah pada hasil belajar yang relevan dan efektif. Karenanya INOVASI mendukung pemerintah melalui Kemendikbudristek dan Kementerian Agama untuk dapat mewujudkan hal tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur, Yunus B Wulang pada sambutannya menegaskan walau dalam situasi Pandemi Covid-19 saat ini, proses pembelajaran harus tetap berjalan baik melalui PTM terbatas di wilayah zona hijau, maupun pembelajaran secara daring dan luring di zona kuning, orange dan merah, tetap harus dilakukan dengan maksimal dan efektif sehingga anak-anak sekolah khususnya kelas rendah bisa memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung.

“Keselamatan anak didik, guru dan tenaga kependidikan adalah yang terutama. Tetapi anak-anak juga minimal harus bisa membaca, menulis dan berhitung,” tegasnya. (Yan/ol)

Leave a Comment