Hadapi PTM, Sekolah Harus Siap Empat Hal Ini

Jumal Hauteas
Setiap sekolah harus mempersiapkan empat hal atau langkah dalam menghadapi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di era new normal saat tahun ajaran baru mendatang. Empat hal ini adalah pelaksanaan protokol kesehatan, antisipasi learning loss, model pembelajaran dan dukungan psikososial.

Konsultan program INOVASI Jakarta, Angi Andari menjelaskan hal ini dalam sosialisasi kebijakan PTM di tengah pandemi melalui zoom, Jumat (25/6).

Menurutnya, ada empat hal ini perlu diperhatikan dan dilakukan secara tepat dalam menghadapi tahun ajaran baru di era new normal saat ini. Pasalnya Pandemi Covid-19 masih belum dapat diprediksi kapan akan berakhir, sementara kondisi anak-anak tidak bisa dibiarkan terus berada dalam kondisi tanpa dukungan pembelajaran yang maksimal sebagaimana terjadi dalam hampir 1,5 tahun saat ini.

“Ada sekitar 1,5 miliar anak di dunia telah terganggu pendidikannya sejak Pandemi Covid-19 melanda dunia,” jelasnya.

Persiapan PTM di awal tahun ajaran baru mendatang, kata Angi, tidak hanya protokol kesehatan standar seperti ketertiban mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, hingga pengecekan suhu tubuh anak-anak dan tenaga kependidikan saat masuk sekolah. Namun, harus dilakukan langkah-langkah yang efektif untuk memantau kondisi anak-anak dalam aktivitasnya selama di luar sekolah.

“Bisa disediakan kartu skrining Covid-19 yang diisi setiap hari oleh anak dengan bantuan orang tua. Jadi kalau ada satu saja gejala Covid-19, anak diminta untuk ikut pembelajaran secara daring dan tidak perlu ke sekolah,” jelasnya.

Angi menambahkan, hal lain yang perlu dilakukan sekolah dalam menjaga protokol kesehatan adalah tidak hanya menjaga jarak duduk anak di kelas hanya dengan standar jarak 1,5 meter. Namun juga harus memperhitungkan luas ruangan, sistem ventilasi udara di ruangan kelas hingga pintu ruangan yang harus tetap dibuka selama pembelajaran berlangsung.

“Setiap kelompok belajar hanya boleh ada 10 sampai 15 anak dan hanya boleh dua jam pelajaran setiap hari di sekolah. Hindari adanya kegiatan makan di sekolah untuk meminimalisir penularan virus, karena makan pasti semua akan lepas masker,” ungkapnya.

Selanjutnya untuk learning loss atau kehilangan pembelajaran karena lebih dari satu tahun pembelajaran dilakukan dari rumah, Angi menjelaskan sekolah perlu melakukan test diagnostik agar mengetahui kemampuan anak-anak pasca belajar dari rumah dan sebelum masuk PTM.

“Diagnostik tes ini dilakukan agar bisa dilanjutkan dengan metode pembelajaran berbeda bagi anak-anak sesuai kemampuannya,” ungkapnya.

Sementara untuk model pembelajarannya, Angi mengungkapkan perlu diubah pola pembelajaran tradisional yang selalu memberikan tugas setelah kelas selesai ke pola Flipped Classrom atau bahan bacaan materi yang akan dibahas diberikan terlebih dahulu kepada siswa agar saat PTM yang singkat selama dua jam bisa dimanfaatkan untuk diskusi dan penjelasan tambahan bagi anak-anak.

“Kerja sama guru, kepala sekolah, orang tua, hingga volunteer juga penting untuk saling mendukung, karena banyaknya kelompok belajar yang akan terbentuk karena pembatasan jumlah anak dalam setiap kelas,” urainya.

Terakhir, dukungan psikososial juga perlu dilakukan kepada anak-anak sebelum PTM dimulai. Karena mungkim saja ada anak-anak yang masih mengalami trauma karena kehilangan orang tua atau sanak keluarga karena Pandemi Covid-19.

“Anak bisa diminta menulis surat untuk dirinya sendiri, menulis surat kepada teman, menggambar hati, menggambar apa yang disenangi, menulis apa yang ingin dilakukan anak, hingga menggambar pohon syukur,” tandasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur, Yunus B. Wulang kepada VN Minggu (27/6) menjelaskan proses PTM di Kabupaten Sumba Timur masih dipertimbangkan untuk dilakukan di satuan pendidikan yang ada di kecamatan maupun desa/kelurahan zona hijau. Namun masih tetap melihat perkembangan vaksinasi Covid-19 bagi tenaga kependidikan yang masih sedang berlangsung.

Selain itu, keputusan untuk melakukan PTM juga masih melihat kurva penularan Covid-19 di Kabupaten Sumba Timur, agar nantinya saat diputuskan untuk PTM atau tetap daring maupun luring, dapat dipastikan anak-anak tetap berada dalam keadaan aman dari ancaman paparan Covid-19.

“Kita masih melihat perkembangan yang ada, agar kita laporkan kepada bapak bupati sehingga pemerintah daerah dapat memutuskan apakah boleh PTM atau tetap daring dan luring,” tandasnya.(bev/ol)

Leave a Comment