Sekolah Online Picu Eksploitasi Anak di Daerah Perbatasan NTT

Mathias M. Beeh
Mathias M. Beeh

Putra Bali Mula

Pembelajaran jarak jauh atau sekolah online ternyata juga bisa membawa dampak negatif di wilayah NTT. Misalnya, anak putus sekolah meningkat karena ketiadaan biaya pendidikan. Untuk membiayai sekolah dengan tatap muka saja, orangtua sudah sangat sulit apalagi jika harus membeli gadget dan pulsa internet. Belum lagi jika wilayah tempat siswa berada tidak memiliki akses internet. Selain itu, di beberapa wilayah, anak juga menjadi pekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Persepsi orang tua yang salah juga menjadi masalah lain. Saat sekolah online pun, aktivitas belajar anak tidak terawasi dengan baik sementara orangtua sibuk bekerja karena harus memenuhi kebutuhan makan dan minum. Selain itu, aktivitas anak yang sebagian besar menghabiskan waktu di rumah membuat anak terjebak dalam kekerasan hingga eksploitasi.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT melalui Mathias M. Bee selaku Kepala Bidang Pendidikan Menengah menyampaikan hal ini dalam virtual meeting dengan Ombudsman RI Perwakilan NTT, Jumat (18/6).

Menurutnya, eksploitasi tidak saja soal pekerja anak tapi dimaksud juga dengan pernikahan dini hingga kehamilan di usia muda. Ia memiliki hasil survei mengenai ini dan yang tertinggi adalah di daerah perbatasan seperti Atambua.

“Tanpa sekolah anak terjebak di rumah dan peningkatan resiko eksploitasi, kehamilan, dan pernikahan dini. Cukup tinggi di Belu, Atambua,” kata dia.

Kasus ini masuk dalam klasifikasi kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga murid dan tidak terdeteksi oleh guru. Namu, Mathias tidak lebih lanjut menguraikan seberapa besar peningkatan kekerasan yang terjadi terhadap anak di wilayah itu selama sistem sekolah online berlaku.

Ia mengatakan, persepsi orang tua soal sekolah online juga menjadi masalah tersendiri. Ini menjadi salah satu faktor terjadinya kesenjangan capaian belajar di antara para murid. Di samping itu terdapat pengaruh faktor sosial dan ekonomi keluarga masing-masing yang berbeda-beda. Pembelajaran jarak jauh, kata dia, memang berpengaruh pada capaian akademik.

“Ini tidak lebih baik daripada sekolah tatap muka,” ungkapnya. (bev/ol)

Leave a Comment