Senyum Warga Miskin Kota Sambut ‘Istana’ Baru

Rafael L Pura

 

Di tengah himpitan ekonomi warga miskin perkotaan, impian memiliki rumah layak huni, bukan sesuatu yang gampang. Pemerintah Kota (Pemkot) lewat program bedah rumah bagi warga miskin, telah mewujudkan impian mereka. Walaupun sederhana, itu adalah berkah tak ternilai. Bagi mereka itu adalah ‘Istana’.

Elisabet Moneheme Tube (47), tengah memilih pakaian terbaiknya, di antara tumpukan barang- barang di halaman rumahnya, sabtu (19/6). Wajahnya berseri-seri, menunggu petugas dari Pemkot menjemputnya dan menginap di hotel selama 12 hari ke depan.

Elisabet merupakan salah satu dari 64 warga miskin Kota yang mendapatkan bedah rumah dari Pemerintah Kota. Selama proses pengerjaannya, Elisabet bersama keluarganya menginap di hotel yang dibiayai Pemkot Kupang.

Pemkot Kupang, menggelontorkan anggaran sebesar Rp 2,13 miliar untuk program bedah rumah di tahun 2021 ini. Sebanyak 64 rumah yang bakal dibangun, dengan biaya perunitnya sebesar Rp 55 juta.

Elisabet merupakan satu-satunya warga Kelurahan Oetete yang menerima program bedah rumah itu, sekaligus yang pertama di kelurahan setempat. Program yang kemudian diterima Elisabet dengan penuh syukur.

“Rumah saya mau dikerjakan. Kami sekeluarga mau tidur di hotel. Tentu saya sangat bahagia, rumah saya bisa dibedah pemerintah Kota,” kata Elisabet saat di ditemui halaman rumahnya, di RT 27, RW 08, Kelurahan Oetete, Kota Kupang.

Rumah Elisabet telah dibongkar. Material bangunan sudah diturunkan pemerintah. Sebentar lagi, ia bersama keluarganya menempati “istana” impian itu.

Elisabeth bersama suaminya, Antonio Fernando Moneheme (53) telah memendam impian bertahun-tahun memiliki rumah layak huni. Keterbatasan ekonomi serta beban biaya pendidikan anak-anaknya, membuat impiannya itu tak kunjung terwujud.

Elisabet memiliki empat anak, tiga laki-laki dan satu perempuan. Dua anak yang lebih besar, kini sudah tamat SMA dan tak bisa melanjutkan kuliah karena ketiadaan uang. Sementara anak perempuan satu-satunya, penyandang disabilitas, dan yang lebih kecil belum sekolah.

Suami Elisabet, merupakan staf biasa di sebuah perusahan ekspedisi di Kota Kupang, dengan gaji Rp 1,5 juta perbulan. Elisabet sempat membantu menopang ekonomi keluarga dengan berjualan gorengan, namun keburuh tutup.

Keluarga ini, menjalani hidup dibawah naungan rumah reyot sepeninggalan orang tua suaminya. Rumah itu hanya memiliki satu kamar tidur. Bagian dapur, juga digunakan sebagai kamar tidur anak-anaknya.

Badai Seroja kemarin, turut menambah penderitaan keluarga ini. Pohon besar dis samping rumah tumbang dan menindih rumah mereka. Alih-alih mengganti seng yang bocor, membayar tukang sensor pun mereka tak mampu. Pohon itu baru bisa disingkirkan bersamaan dengan dibongkarnya rumah itu.

Impian Terwujud

Impian Elisabet kini telah diwujudkan Pemerintah Kota. Hatinya kini lebih tenang. Siang itu, ia mengenang kembali memori pertemuan dengan Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore. Momen itu, dikenangnya sebagai pengalaman terharu, yang tak akan dilupakannya.

Elisabet menuturkan, pekan kemarin, Wali Kota meninjau rumahnya. Hatinya tergetar, bahagia, bercampur haru. Ia tak percaya, seorang pejabat besar kota ini, berkenan mengunjungi keluarganya yang miskin dengan rumah reyot yang hampir roboh.

Sampai-sampai, tangan dan kakinya gemetar, saat Wali Kota menghampirinya dan menanyakan kondisi keluarganya. Senyum ramah Wali Kota, kenang Elisabet, belum mampu menghilangkan ketegangan dalam dirinya. Namun saat Wali Kota merangkulnya, ia menangis.

“Saya gemetar. Masih belum sempat percaya, bapa (Walikota) bisa datang ke rumah saya. Saya sampai menangis,” kenangnya.

Air mata Elisabet, masih terus menetes, begitu Wali Kota pamit pulang dan perlahan meninggalkan rumahnya. Saat mobil Wali Kota menghilang diantara kepungan rumah-rumah, ia meraih tangan putrinya, menuntunnya ke bilik doa, berlutut dan melantunkan doa-doa, atas segara syukur dan kebaikan yang diterimanya.

“Segala puji dan syukur saya haturkan ke Tuhan Yesus, yang menggunakan tangan sesama, membantu saya,” desahnya.

Elisabet juga menyampaikan terima kasih kepada ketua RT 27, Nikson Radja dan Lurah Oetete, Dessy Lay. Dessy Lay sendiri baru menjabat sebagai Lurah Oetete sepekan belakangan.

Impian Elisabet itu terwujud, bermula dari keprihatinan Lurah Dessy Lay, saat meninjau jalan setapak yang baru dibangun melalui program Kotaku.

“Saat itu saya kaget, melihat rumah mama Elisabet yang sudah reyot. Saya kemudian memanggil ketua RT, dan mengusulkan untuk mendapat program itu,” kata Lurah Dessy Lay.

Dikerjakan 12 Hari

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (PRKP), Beny Sain mengatakan, pemkot menyiapkan anggaran sebesar Rp 2, 13 miliar untuk program bedah rumah, dengan target kinerja sebanyak 64 unit rumah. Sumber anggarannya dari DAU. 64 rumah itu tersebar di 51 kelurahan.

Program ini, kini tengah berjalan. Satu unit dikerjakan dalam tempo 12 hari. Tipe rumah yang dibangun berukuran 3X6. Pemkot menargetkan oktober mendatang, 64 unit rumah itu sudah rampung.

Penerima bantuan ini, kata Beni Sain, merupakan warga kota yang benar-benar tidak mampu, benar-benar menempati rumah yang tidak layak huni. Data itu diusulkan pihak kelurahan, kemudian dilakukan verifikasi. (Yan/ol)

Leave a Comment