Sinon, Hoaks dan Pandemi

Oleh Mario F Lawi (Penggemar bahasa dan sastra Latin)

VERGILIUS, penyair Romawi dari era Augustus, lahir pada 15 Oktober 70 SM di Andes dekat Mantua, dan wafat di Brundisium pada 21 September 19 SM. Ia dimakamkan di Napoli. Ia adalah penyair populer dan sangat dihormati pada zamannya karena menulis tiga karya heksameter. Satu puisi pastoral berjudul Bucolica, satu puisi didaktik berjudul Georgica, dan puisi terbesarnya, epik berjudul Aeneis. Dalam tradisi Romawi, puisi heksameter adalah karya yang dianggap memiliki kualitas terbaik, dan karena itu dihormati. Anggapan ini misalnya direkam Martialis dalam salah satu epigramnya. Aeneis, karya terakhirnya, menjadi epik kanonik bangsa Romawi pada masa ia dipublikasikan. Jika status kanonik puisi-puisi lain membutuhkan pembacaan dan perdebatan seiring perkembangan zaman, Aeneis langsung diperbicangkan bahkan sebelum ia diterbitkan secara utuh.

Puisi sepanjang 9.895 baris (berdasarkan versi suntingan Gian Biagio Conte) yang dibagi dalam 12 buku itu mengisahkan perjalanan Aeneas, keturunan bagsawan Troia di Asia yang mengungsi ke Eropa untuk mendirikan bangsa Romawi. Di tengah perjalanannya, Aeneas dan armadanya terdampar di Pantai Libia, Karthago. Di Karthago, mereka disambut Ratu Dido. Dalam jamuan sambutan, Dido meminta Aeneas dan kelompoknya menceritakan pengalaman mereka. Aeneas pun memulai ceritanya tentang kehancuran Troia. Cerita Aeneas ditampilkan Vergilius di buku 2 epik Aeneis. Kisah Aeneas tentang Troia adalah sumber yang secara panjang menampilkan kisah tentang kuda kayu orang-orang Yunani, kematian Priamus di tangan Pyrrhus, dan peringatan arwah Hektor kepada orang-orang Troia. Kuda kayu, tempat para prajurit Yunani bersembunyi, dibawa masuk secara sukarela oleh orang-orang Troia ke dalam tembok kota mereka karena cerita meyakinkan seorang juru kisah sekaligus juru muslihat bernama Sinon.

Di masa-masa terakhir Perang Troia, orang-orang Troia menemukan kuda kayu di luar tembok mereka. Mereka bertanya-tanya, mengapa orang-orang Yunani meninggalkan benda tersebut. Laokoon, sepupu Aeneas dan pendeta Neptunus, meragukan peninggalan orang-orang Yunani tersebut. Ia meminta orang-orang Troia waspada terhadap kuda kayu tersebut. Laokoon juga menancapkan senjatanya ke tubuh kuda kayu tersebut untuk membuktikan ketidakpercayaannya. Dari keraguan Laokoon dalam epik Aeneis, kita peroleh satu ungkapan Latin terkenal. “Timeo Danaos et dona ferentis”, ujar Laokoon di baris 49 buku 2. “Aku takut pada orang-orang Yunani dan hadiah-hadiah yang mereka bawa,” bunyi kalimat tersebut jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Pada saat itulah, Sinon muncul. Dengan kelihaiannya bersilat lidah, Sinon meyakinkan orang-orang Troia bahwa ia adalah pihak yang ditinggalkan oleh para prajurit Yunani yang kembali ke negeri mereka. Sinon merasa dirinya tak lagi punya tempat untuk kembali. Ia pun meyakinkan orang-orang Troia bahwa kuda kayu tersebut adalah persembahan penebusan bagi Dewi Minerva yang marah. Sinon meyakinkan orang-orang Troia bahwa jika persembahan tersebut dirusak oleh orang-orang Troia, kerajaan mereka tak akan bertahan lama. Tak lama setelah Sinon selesai bercerita, dua ular laut datang dari laut, memangsa dua anak Laokoon, dan Laokoon yang sedang mempersembahkan kurban di altar. Cerita Sinon dan tragedi Laokoon meyakinkan orang-orang Troia untuk membawa masuk kuda kayu buatan Epeus itu ke dalam kota. Mereka menganggap Laokoon tertimpa musibah tersebut karena telah melukai kuda kayu persembahan tersebut. Pada malam hari ketika orang-orang Troia sedang terlelap, para prajurit Yunani yang bersembunyi di dalam perut kuda kayu itu pun keluar dan menyerang Troia. Prajurit lain membuka gerbang Troia agar para prajurit yang pura-pura berlayar dapat masuk dan menduduki Troia. Tembok Troia yang selama 10 tahun tak bisa ditembusi prajurit terhebat Yunani, Akhilleus, akhirnya dengan mudah diporak-porandakan para pejuangnya yang bersembunyi di dalam kuda kayu.

Dalam konteks Romawi, kisah yang disampaikan Sinon dapat dikategorikan sebagai “fama.” Dalam epik yang sama, kita temukan baris, “Fama crescit eundo,” “kabar berkembang seiring perjalanannya.” “Fama” adalah konsep Latin yang punya cakupan makna yang luas. Kamus Latin-Indonesia (Prent dkk, 1969) mengartikan “fama” sebagai: (1) desas-desus; percakapan; kabar angin; kabar; laporan; tradisi; (2) (a) (dalam arti netral) pendapat khalayak; penilaian umum; pikiran massa; nama; reputasi; (b) (dalam arti positif) nama baik; sebutan baik; kenamaan; keharuman; nama; kemasyhuran; (c) (dalam arti negatif) nama buruk; cela; (3) Dewi Fama. Gianni Guastella (2017) menyatakan bahwa umumnya konsep fama sendiri tidak memiliki konotasi positif maupun negatif. “Fama” juga biasanya tidak digunakan dalam bentuk jamak (famae). “Fama” awalnya berhubungan dengan aktivitas lisan manusia: disebarkan dari mulut ke mulut. Pohon semantik “fama” memiliki dua cabang utama: rumor/gosip dan reputasi/kemasyhuran.

Konteks “fama” tentang kuda kayu bagi orang-orang Troia masih ada pada tahap desas-desus. Sinon-lah yang meyakinkan mereka dengan ceritanya. Sinon adalah bagian dari struktur komunitas yang berfungsi menaklukkan komunitas melalui penyelewengan informasi. Ia dengan sukarela mengambil peran sebagai penyampai berita palsu kepada pihak lawan. Lebih penting lagi, perannya membuat pihak lawan akhirnya takluk karena penaklukan ikutannya berjalan lancar. Meski latar kisahnya adalah perang, informasi yang disebarkan Sinon dalam epik tersebut beroperasi seperti hoaks yang disebarkan di media sosial pada zaman kita. Karena peran Sinon, pertahananan bangsa Troia yang kokoh selama 10 tahun akhirnya berhasil diterobos orang-orang Yunani dalam waktu singkat. Sebaliknya, peran orang-orang Troia yang skeptis dan jujur seperti Laokoon dan Kassandra menjadi terpinggirkan. Pengabaian terhadap suara mereka menyebabkan Troia luluh lantak. Muslihat Sinon bisa bekerja dengan baik karena ada penerimaan Priamus, Raja Troia. Priamus adalah otoritas yang membuat kisah Sinon bisa diterima rakyat Troia, tetapi kemudian mati dibunuh setelah para prajurit Yunani menerobos kota.

Dalam konteks perang mengatasi pandemi COVID-19 yang masih terus berlangsung, hoaks kian memperparah penderitaan fisik dan mental kita, baik secara personal maupun secara kolektif. Kurva pandemi kita belum menurun, dan di sejumlah pemberitaan, fasilitas-fasilitas kesehatan di sejumlah tempat mulai kewalahan. Narasi anti-vaksin dan kepercayaan terhadap teori konspirasi adalah dua contoh hoaks yang beroperasi persis seperti kisah Sinon. Kedua narasi tersebut memecah belah kepercayaan warga terhadap informasi sebenarnya, membuat kerja-kerja medis berdasarkan pertimbangan ilmiah justru diragukan dengan landasan kabar burung.

Narasi-narasi semacam itu tidak akan bekerja dengan begitu meyakinkan jika tidak didukung oleh penggerusan otoritas. Peremehan terhadap dampak virus yang didengungkan sejumlah pejabat dari tingkat nasional sampai tingkat lokal di awal kemunculan, tarik-ulur kebijakan karantina yang diambil berdasarkan pertimbangan ekonomi-politik dan bukan berdasarkan pertimbangan medis-ilmiah, penggunaan alat tes dengan tingkat reliabilitas rendah, pelonggaran mobilitas warga, korupsi dana bantuan sosial, pemalsuan bukti tes, sampai komersialisasi tes kesehatan di masa pandemi adalah sejumlah kasus yang menunjukkan penyalahgunaan kekuasaan, ketidakmampuan dan ketidakseriusan para pemilik otoritas mengatasi pandemi.

Efek buruk pandemi ini memperjelas kekalahan yang telah dimulai sejak pengambilan keputusan, dan memperlihatkan dengan jelas korban-korban yang menderita dua kali. Selain berkorban mengatasi pandemi dengan segala keterbatasan, mereka juga dikorbankan sistem penanganan pandemi yang dikapitalisasi untuk keuntungan segelintir pihak. Bersama orang-orang seperti ini, yang mungkin juga adalah diri kita dan keluarga kita sendiri, kita tahu kepada siapa telunjuk kita arahkan untuk meminta pertanggungjawaban. Karena kita juga tahu, tidak seperti Priamus Raja Troia yang kekuasaannya berakhir karena kepercayaannya sendiri pada cerita Sinon, para pendukung penguasa kita justru mendorong terjadinya perpanjangan masa kekuasaan di tengah kekalahan bangsa.

Leave a Comment