Siswa Jadi Apatis, Gara-Gara Pandemi dan Persoalan di TTS

Viktor Manao sedang mengajar beberapa muridnya. Foto: Putra/VN
Viktor Manao sedang mengajar beberapa muridnya. Foto: Putra/VN

Putra Bali Mula

Viktor Manao, guru yang telah sebelas tahun mengajar Matematika di SMAN Ayotupas, Kabupaten TTS, Nusa Tenggara Timur menilai pandemi dengan pembatasan pembelajaran berpengaruh sangat-sangat buruk pada nilai dan sikap siswa.

Sekolah tanpa tatap muka di kelas, menurut dia, adalah wujud pendidikan terburuk selama ia mengajar apalagi untuk kondisi TTS yang terbatas dalam hal infrastruktur dan teknologi.

“Ini tahun-tahun yang terburuk,” sebut Viktor saat ditemui VN di Kupang awal Mei lalu.

Hal tersebut disimpulkannya dari pengamatan dan penilaian setiap mengajar keliling rumah siswa selama pandemi. Kualitas belajar murid turun drastis. Pembelajaran cara ini menjadi beban berat baik bagi orang tua, murid dan guru.

Orang tua murid-murid SMAN Ayotupas banyak yang merantau ke Kalimantan dan Malaysia.

“Ini adalah realita lain dalam masalah pendampingan belajar. Murid-muridnya kebanyakan tinggal dengan kakek nenek mereka. Ini membuat pengawasan belajar di rumah kemungkinan kecil terwujud,” ujarnya.

Ia mengatakan jaringan internet, telepon dan listrik adalah momok tak terselesaikan jauh hari sebelum pembelajaran jarak jauh diterapkan. Jaringan 4G hanya terdapat di beberapa titik. Badai Seroja yang juga datang kian memperparah keadaan. Biasanya dalam sehari listrik bisa beberapa kali padam tapi Seroja membuat jaringan dan listrik hilang beberapa lama termasuk di Kecamatan Amanatun Utara itu.

Dalam kondisi itu berbagai metode dicoba Viktor dan guru lainnya tapi tidak juga mendongkrak kualitas belajar murid. Cara belajar dengan pembagian foto maupun dengan variasi belajar lainnya tidak manjur.

Ia merambah 16 titik kumpul sehari-hari. Senin mengajar kelas 10, kelas 11 di hari Selasa dan kelas 12 hari Rabu. Ia mengajarlan matematika dari pukul 07.00 dan bisa selesai selalu titik itu pukul 16.00 Wita. Setiap titik diajarkan materi selama 20 menit. Itupun bila terjadi hujan deras maka tidak semua titik di rumah siswa tidak dapat dijangkau karena sulit diakses.

Dalam sehari siswa-siswi bisa mendapatkan 14 mata pelajaran selain matematika yang dibawakan Viktor. Namun, hanya dua atau tiga murid yang datang belajar dari satu kelompok yang sebenarnya beranggotakan tujuh hingga delapan orang itu.

Tidak hanya nilai yang anjlok tetapi juga sikap dan etika para murid. Viktor mencatat setelah belajar tanpa tatap muka di sekolah membuat murid-muridnya bersikap acuh, tidak santun.

Ia menilai siswa kian apatis setahun belakangan bahkan ogah-ogahan untuk sekedar menegur sapa atau menghormati orang yang lebih tua saat bertemu. Berbeda dengan masih bersekolah normal.

“Acuh. Apatisnya baik kepada guru maupun orang yang lebih berumur,” tukas guru yang mengajar 18 rombongan belajar (rombel) dari kelas 10 sampai kelas 12 itu.

Berapapun nilai akademik yang didapat tidak dipedulikan siswa karena sistem kelulusan seratus persen yang diterapkan pemerintah menanggapi situasi Covid-19. Menurut dia para murid akhirnya manja dan masa bodoh dengan pendidikan mereka.

“Karena bagaimanapun pasti mereka lulus,” tambahnya.

Ia tidak menafikkan masalah ekonomi menjadi gannguan bagi para orang tua atau wali murid terutama di masa pandemi ini. Demikian, menurutnya, kualitas pendidikan anak tidak lagi menjadi konsern utama keluarga berekonomi rendah apalagi karena para murid telah dijamin mendapatkan ijazah kelulusan. Viktor menyebut tahun ini lebih dari seratus lebih siswa SMA Ayotupas sudah dinyatakan lulus.

“Yang penting dapat ijazah. Hanya orang tua yang benar-benar tahu arti pendidikan pasti akan membantu anaknya,” sebut dia.

Secara pribadi Viktor mengaku terpukul dengan kondisi pendidikan yang ia dan murid-muridnya hadapi. Bukan soal tingkat kecerdasan, ia lebih menyayangkan perubahan sikap siswa-siswinya yang tidak sopan dan bermental manja. Alumni di tempatnya berkarya sebelas tahun itu setiap tahunnya ada yang berhasil lolos TNI. Kali ini tidak satupun dalam dua tahun terakhir.

Seluruh kendala tersebut membuat pihak sekolah akhirnya terpaksa berani mengambil risiko. Kepala sekolah dan para guru sepakat untuk kembali melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan sistem temu tiga kali dalam seminggu.

“Supaya dapat mengembalikan citra anak-anak,” kata dia.

Proses belajar di sekolah ini dimulai tiga minggu terakhir untuk kelas sepuluh dan sebelas. Tidak semua guru hadir terkecuali guru empat mata pelajaran yang dijadwalkan mengajar. Nantinya para guru mengajar mulai pukul 08.00 Wita hingga dengan 12.00 Wita. Tiap guru diberikan waktu 60 menit menjelaskan materi.

Ia menyebut strategi ini lumayan efektif dibandingkan harus menuju titik demi titik belajar yang tidak sepenuhnya murid-murid setiap kelompok itu hadir. Hal ini ia nilai dari jumlah kehadiran siswa yang makin meningkat setiap pertemuan. Satu rombel biasanya berjumlah 32 murid dan akhirnya hadir seluruhnya.

“Anak-anak sebenarnya rindu sekolah,” kata dia.

Pihak sekolah sendiri merencanakan menggunakan Dana BOS untuk membeli hand sanitizer untuk masing-masing siswa lengkap dengan isi ulangnya. Ini dilakukan menyiasati kekurangan air untuk mencuci tangan terlebih pada bulan Juni saat terjadi musim panas.

Pemenuhan kebutuhan air juga tidak mungkin dibebankan pihak sekolah kepada orang tua atau wali murid yang sehari-hari membeli air untuk kebutuhan di rumah maupun ladang.

“Karena air memang sulit sekali,” imbuhnya.

Pandemi juga memperburuk ekonomi sejak pasar tradisional yang ditutup hingga berbulan-bulan padahal pasar ini menjadi pemasukan masyarakat lokal untuk menjual hasil bumi.

 

Leave a Comment