Siswa Merindukan Pembelajaran Tatap Muka

Dua siswa SMA PGRI Waingapu sedang mengakses internet menggunakan smartphone mereka untuk mengerjakan tugas dari guru. Gambar diambil Jumat (23/7). Foto:Jumal Hauteas/vn.

Jumal Hauteas

PEMBELAJARAN daring mulai diberlakukan pemerintah secara nasional sejak kurva pandemi covid-19 mulai bergerak naik di Indonesia April 2020 lalu hingga saat ini. Bahkan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) yang rencananya dilakukan sejak awal tahun ajaran 2021-2022, Senin (12/7) lalu belum dapat dilaksanakan di Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.

Pasalnya berdasarkan data Posko Penanganan Covid-19 Sumba Timur hingga Kamis (22/7), Kecamatan Kota Waingapu masih masuk dalam zona merah penyebaran covid-19 dengan 259 kasus positif dan masih menjadi yang tertinggi dibanding kecamatan lain di Sumba Timur. Karenanya Kecamatan Kota Waingapu belum bisa menyelenggarakan PTMT, sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri tentang syarat pelaksanaan PTMT.

Dimana syarat utama penyelenggaraan PTMT adalah desa/kelurahan atau kecamatan tempat satuan pendidikan berada harus berada di wilayah zona hijau atau zona bebas penyebaran covid-19, dan semua guru, tenaga kependidikan dan peserta didik berasal dari desa/kelurahan atau kecamatan yang sama sehingga dipastikan tidak adanya keluar-masuk insan pendidikan antar wilayah beda zona dan penyebaran covid-19 dapat diminimalisir terjadi di satuan pendidikan.

Kondisi ini mengakibatkan semua satuan pendidikan di Kecamatan Kota Waingapu harus tetap melakukan pembelajaran daring maupun luring di tahun ajaran baru 2021-2022 saat ini.

Walau berada di wilayah perkotaan, ternyata tidak semua anak mampu mengakses pembelajaran daring menggunakan smartphone atau android milik mereka. Sebab paket data internet masih menjadi kendala tersendiri sehingga kuota belajar yang merupakan kerja sama antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi bersama PT Telkomsel menjadi tumpuan anak-anak dalam mengikuti pembelajaran daring.

Sayangnya dua minggu awal tahun ajaran baru 2021-2022 telah berlalu, dan kuota belajar yang disediakan pemerintah belum bisa diperoleh para siswa, sehingga untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru, para siswa harus mencari jaringan internet gratis di area publik, termasuk yang disediakan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur di Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumba Timur.

“Kami kos di depan Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, jadi kalau kami tidak ada paket data atau untuk sedikit hemat paket data, kami datang pakai wi-fi gratis di sini (Diskominfo Sumba Timur),” jelas Yulentia Kanora Ana (18) dan Rastiawati Dangu Leu (16) kepada VN Jumat (23/7).

Dua siswi SMA PGRI Waingapu ini menuturkan keduanya berada di depan Kantor Diskominfo Sumba Timur karena ingin mendownload tugas yang diberikan guru melalui grup WhatsApp, sekaligus mengerjakan tugas-tugas tersebut untuk dikirim kembali kepada guru.

Menurutnya pembelajaran daring yang mereka ikuti selama ini berjalan cukup baik, karena ada bantuan kuota belajar dari pemerintah. Namun sistem pembelajaran yang terjadi secara daring tidak cukup terbuka bagi mereka untuk memahami setiap materi pelajaran secara lebih lengkap sebagaimana pembelajaran tatap muka.

“Kalau kurang mengerti, kami tetap bisa kirim pertanyaan kepada guru melalui pesan WhatsApp. Tetapi memang lebih baik sekolah tatap muka dibanding daring,” ujar Rastiawati.

Kekurangan yang dirasakan keduanya dalam mengikuti pembelajaran secara daring adalah masih menggunakan pola satu arah dan belum pernah dilakukan pembelajaran tatap muka secara daring agar mereka dapat mendengarkan guru mengajar dan mengajukan pertanyaan secara langsung sebagaimana pembelajaran tatap muka.

“Tahun ajaran baru ini baru mau dilakukan pembelajaran pakai zoom, sehingga kami juga sekalian download aplikasi zoom sekarang,” tambah Rastiawati.

Keduanya berharap pandemi covid-19 bisa segera berlalu dari Sumba Timur, Provinsi NTT Indonesia dan dunia internasional secara umum sehingga kehidupan bisa kembali normal termasuk dengan pembelajaran tatap muka.

“Belajar di sekolah jelas lebih baik bagi kami untuk saling mengenal dengan teman dan juga komunikasi dengan guru,” tandas keduanya.

Kadis Pendidikan Kabupaten Sumba Timur, Yunus B Wulang kepada VN sebelumnya menegaskan Kecamatan Kota Waingapu sebagai ibukota Kabupaten Sumba Timur sampai dengan saat ini belum dapat melakukan PTMT karena masih masuk zona merah penyebaran covid-19. Sebab SKB empat menteri itu menegaskan satuan pendidikan yang boleh melaksanakan PTMT hanyalah yang berada di zona hijau atau zona bebas penyebaran covid-19. (ari/yan/ol)

Leave a Comment