Stimulant Institute Serahkan 4 Rekomendasi untuk Pemkab Sumba Timur

Pimpinan Save The Children, Stimulant Institute dan staf pose bersama dengan Asisten III Setda Kabupaten Sumba Timur, usai penyerahan laporan akhir tanggap darurat, Jumat (28/5). Foto: Jumal/VN
Pimpinan Save The Children, Stimulant Institute dan staf pose bersama dengan Asisten III Setda Kabupaten Sumba Timur, usai penyerahan laporan akhir tanggap darurat, Jumat (28/5). Foto: Jumal/VN

 

 

Jumal Hauteas

Stimulant Institute dan Save The Children menyeahkan empat rekomendasi kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Rekomendasi ini bisa dilanjutkan pemerintah daerah maupun pemerintah desa/kelurahan yang menjadi lokus program Water Sanitation and Hygiene (WASH) dan pendidikan pasca bencana banjir bandang dan Badai Siklon Tropis Seroja April lalu. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur mengapresiasi dan akan melihat peluang menindaklanjuti rekomendasi yang diterima.

Direktur Stimulant Institute Stepanus Makambombu menyampaikan hal ini dalam kegiatan penyerahan laporan akhir program tanggap darurat di aula lantai dua Universitas Kristen Wira Wacana (Unkriswina) Sumba, Jumat (28/5).

Stef menjelaskan empat rekomendasi yakni pertama menyediakan layanan belajar kepada anak-anak selama masa pandemi Covid-19 agar kemampuan literasi anak tidak terus mengalami penurunan. Kedua, mendukung percepatan literasi anak dengan melaksanakan kegiatan pos baca di tingkat komunitas. Ketiga, promosi kesehatan di tingkat komunitas melalui pemeriksaan kualitas air bersih dan sosialisasi pola hidup bersih. Keempat melakukan pemberdayaan masyarakat untuk mendukung keberlanjutan penghidupan masyarakat yang bisa menjamin pemenuhan kebutuhan gizi dan perbaikan ekonomi keluarga.

Empat rekomendasi lahir dari data yang pihaknya temukan di lapangan dimana kemampuan literasi anak-anak kelas rendah (1-3 S) makin menurun dampak pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sampai dengan saat ini. Bencana banjir bandang juga makin memperburuk situasi karena banyak anak-anak yang tidak dapat menyelamatkan buku-buku pelajaran mereka saat banjir bandang melanda Sumba Timur pada 4-5 April 2021 lalu.

“Anak-anak kehilangan buku-buku pelajaran saat banjir sehingga kami juga memberikan paket bantuan sekolah berupa buku-buku tulis dan juga tas dengan harapan anak-anak bisa masuk ke sekolah dengan kelengkapan sekolah yang baik saat situasi nya normal,” ungkapnya.

Menurutnya, program WASH dan pendidikan sudah dilaksanakan bagi 522 kepala keluarga (KK) dengan 225 jumlah anak sasaran kelas 1-3 SD. Mereka dibina dalam 13 pos belajar dan pembersihan 88 sarana air bersih yang terdiri dari sumur gali dan sumur bor.

“Kita memberikan layanan pendidikan dukungan psikososial kepada anak-anak melalui kegiatan pos belajar/training relawan,” jelasnya.

Kegiatan dilaksanakan selama 45 hari di Kelurahan Mauliru, Kecamatan Kambera dan Desa Watuhadang, Kecamatan Umalulu. Masyarakat terutama orang tua yang memiliki anak-anak yang duduk di SD memberikan respon positif atas kegiatan ini.

“Kampanye pentingnya pendidikan dan kesehatan terhadap anak juga kami lakukan dengan harapan bisa dilanjutkan pemerintah desa menggunakan dana desa. Jika tidak, kemampuan literasi anak-anak kelas bawah akan makin menurun, sementara pandemi Covid-19 ini kita semua belum tahu kapan akan berakhir,” ungkapnya.

Sementara itu untuk program WASH, pihaknya bekerja sama dengan Puskesmas setempat untuk melakukan pemeriksaan sampel air sumur warga pasca banjir karena adanya perubahan pada sumur-sumur warga mulai dari perubahan rasa, warna, hingga aroma lain yang muncul dari air sumur warga.

“Kita juga melakukan disinfeksi rumah-rumah warga sebanyak 522 rumah di dua desa/kelurahan ini,” jelasnya.

Tim Leader Emergency Responsive, Save The Children Sumba, Jems Alfreth Ly Ratu mengatalam pihaknya memiliki fokus kerja pada pemenuhan hak-hak anak khususnya pendidikan dan kesehatan dan sejak tahun 2018 pihaknya berada di Sumba Barat dan Sumba Tengah. Karena itu kehadiran Save The Children di Sumba Timur saat ini hanya karena untuk kepentingn anak-anak yang ikut menjadi korban dalam bencana banjir dan badai Siklon Tropis Seroja.

“Kami belum pernah memiliki pengalaman emergency response di Sumba Timur, sehingga Save The Children bekerjasama dengan Stimulant Institute untuk melakukan sesuatu bagi anak-anak Sumba Timur, khusus di bidang pendidikan dan kesehatan anak-anak yang menjadi korban bencana,” jelas Jems.

Untuk pos baca , pihaknya menerapkan protokol kesehatan ketat sehingga setiap pos baca hanya boleh melayani 15- 20 orang anak. Setiap pos ada 50-60 buku bacaan dan terpal sebagai alas arena bermain anak.

“Ada banyak anak-anak yang mau ikut dan bahkan menangis tetapi kami tetap membatasi karena kita sama-sama harus mematuhi protokol kesehatan,” ungkapnya.

Ia berharap yang disampaikan kepada pemerintah pasca program ini bisa memberikan nilai tambah bagi pemerintah dan nantinya dapat ditindaklanjuti dengan program-program yang lebih baik bagi anak-anak.

Sanitarian dari Puskesmas Kambaniru, Dominika Maria Bessu bersama rekannya Kristina Rambu Kahi mengungkapkan kondisi mayoritas sumur di wilayah pelayanan Puskesmas Kambaniru kondisinya memang masih jauh dari standar kelayakan sebuah sumur untuk konsumsi masyarakat.

Ia berharap ada perbaikan perbaikan sumur untuk menjamim kesehatan masyarakat.

Sementara Asisten III Setda Kabupaten Sumba Timur Lu Pelindima mengapresiasi kegiatan Save The Children dan Stimulant Institute.

Ia berjanji akan menyampaikan rekomendasi kepada Bupati untuk ditindaklanjuti

“Pemerintah sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan teman-teman dengan harapan ke depan Save The Children juga bisa masuk ke Sumba Timur, dan tidak tunggu saat ada bencana saja,” pintanya.(bev/ol)

Leave a Comment