Stunting Hambat Pendapatan Per Kapita

Putra Bali Mula

 

 

Bonus demografi yang diraih Indonesia dari komposisi penduduk saat ini jangan sampai akhirnya dilemahkan karena adanya generasi stunting.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo menyampaikan ini dalam workshop yang diadakan oleh Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa. Acara virtual ini diadakan Selasa (15/6).

Komposisi penduduk Indonesia saat ini mencapai 270.203.917 jiwa dan 70,72 persen dari total penduduk itu ialah usia produktif. Usia produktif menjadi keunggulan suatu daerah dalam mendorong ekonomi dan pembangunan.

“Bonus demografi saat ini menjadi kenyataan dan proporsi yang produktif jauh berlipat lebih banyak,” ungkapnya.

Demikian dengan adanya stunting, ujarnya, tidak boleh terjadi karena sangat berpengaruh pada bonus demografi. Generasi Indonesia yang sehat dan unggul menentukan kualitas Indonesia ke depannya.

“Remaja ini menjadi penanggung jawab utama atau determining factor untuk apakah bisa kita demographic deviden atau sebaliknya,” tambahnya.

Sehingga remaja yang nikah di usia muda, putus sekolah, hamil berkali-kali, ditambah kematian ibu yang tinggi dan pengaruh stunting berpengaruh besar terhadap pendapatan per kapita.

“Kesempatan naiknya pendapatan per kapita dengan bonus demografi ini karena melimpahnya pemuda ini gagal karena banyak generasi yang stunting menjadi beban negara,” kata dia.

Tentunya kita tidak ingin terjadi dan harus dicegah. Ia menyebut hampir seluruh remaja memiliki masalah seperti stunting 25 persen, mental disorder 9,8 persen dan difabel maupun autisme yaitu 4,1 persen. (Yan/ol)

Leave a Comment