Tak Hanya Stunting, Mental Emotional Disorder di Indonesia Meningkat

Kepala BKKBN Pusat Hasto Wardoyo
Kepala BKKBN Pusat Hasto Wardoyo

Beverly Rambu

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan pihaknya berkomitmen dan akan terus berupaya menciptakan generasi bebas stunting di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Hasto dalam webinar nasional 100 Profesor Bicara Stunting yang digelar secara virtual di Kupang,Selasa (6/7).

“Tantangan tidak hanya pada stunting sebetulnya untuk kualitas SDM, tetapi juga data menunjukkan mental emotional disorder itu meningkat dari tahun ke tahun,” ujarnya.

Bahkan peningkatannya kata Hasto cukup signifikan, di mana berdasarkan penelitian kesehatan dasar (Riskeda) lima tahun sebelumnya angkanya ada 6,1 di antara remaja mengalami mental emotional disorder.

“Yang sekarang ini mencapai 9,8, sehingga stunting yang 27,6 ditambah beban mental emotional disorder, ada difabel, ada autisme, ada napza,” ungkapnya.

Menurutnya, hal itu sangat memengaruhi kualitas SDM dalam rangka menuju target Indonesia Emas.

Hasto mengatakan webinar ini bertujuan mendapatkan masukan dan kahiak dari para ahli dari berbagai disiplin ilmu untuk bersama-sama menurunkan angka stunting.

Ia mengingatkan, bonus demografi tidak akan berjalan lama. Tahun 2025, dierkirakan celah bonus demografi sudah tutup.

“Kalau kita tidak memanfaatkan untuk kesejahteraan maka sulit mendapatkan bonus kesejahteraan dari bonus demografi sampai tahun 2025. Jangan sampai kita kemudian growing old before growing rich. Saat ini banyak data kita lihat bersama angka stunting di NTT dan Sulawesi Barat masih tinggi. Ini harus jadi perhatian kita,” ujarnya.

Ia menambahkan faktor komunitas dan sosial juga turut berpengaruh dalam masalah stunting.

“Seperti apa situasi dalam keluarga. Masalah adi kuat, cukup tidaknya complementeri feeding di dalam rumah tangga, kesadaran untuk menyusui juga dipengaruhi oleh komunitas atau dukungan dari lingkungan. Belum lagi ada infeksi, kebersihan lingkungan, dari situlah stunting berkembang. Karena itu stunting butuh kerja kolaborasi untuk menghasilkan generasi unggul dan bonus demografi bisa kita capai,” tambahnya. (bev/ol)

Leave a Comment