Tersinggung, Tau Lele Tebas Empat Sanak Saudaranya

Jumal Hauteas

Diduga tersinggung ditegur untuk tidak memadamkan api, Tau Lele (30) menebas empat sanak saudaranya hingga satu orang meninggal dunia, dua orang luka berat dan satu anak luka ringan. Tau Lele saat ini masih dalam pengejaran polisi karena berhasil kabur setelah kejadian.

Kapolres Sumba Timur, AKBP Handrio Wicaksono menyampaikan hal ini kepada VN melalui pesan WhatsApp, Sabtu (31/7).

Ia menjelaskan kejadian ini terjadi di Dusun Paboting, Desa Laihau, Kecamatan Lewa Tidahu, Kabupaten Sumba Timur, Jumat (30/7) sekitar pukul 18.00 Wita.

Korban meninggal bernama Iwan Petrus Bili (50). Sedangkan korban luka berat adalah Oktaviana Bili (40) dengan luka tusukan di perut bagian kiri dan tangan kiri dan Paulina Ina (60) menderita luka tusukan di perut bagian kiri. Sementara korban luka ringan adalah Juantri Saputri (1) yang menderita luka di kaki kanan.

Handrio menjelaskan peristiwa ini bermula saat keempat korban sedang duduk di sekeliling perapian yang sedang menyala untuk menghangatkan tubuh mereka dari suhu udara yang cukup dingin di wilayah tersebut. Sementara, terduga pelaku Tau Lele yang juga masih memiliki hubungan keluarga dengan para korban duduk di bale-bale rumah para korban.

Tidak lama kemudian Tau Lele menghampiri para korban di perapian namun tidak ikut menghangatkan tubuhnya di perapian tersebut, tetapi berusaha memadamkan api sehingga salah satu korban, Paulina Ina menegur pelaku agar tidak memadamkan api karena masih sementara digunakan.

“Karena tersinggung saya (Paulina Ina) tegur, dia (Tau Lele) langsung tarik parang dan potong kami (keempat korban),” jelas Handrio mengutip penjelasan Paulina.

Usai melukai para korban dengan parangnya, Tau Lele melarikan diri lewat belakang rumah para korban. Sampai saat ini polisi dari Polsek Lewa dibantu warga masyarakat sekitar masih terus melakukan pencarian terhadap terduga pelaku.

“Terduga pelaku diduga melarikan diri ke kampungnya di Waijewa Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya,” jelas Handrio melalui pesan WhatsApp, Sabtu (31/7).

Informasi lain yang berhasil dihimpun VN Jumat (30/7) malam menjelaskan terduga pelaku adalah sanak saudara dari para korban yang sudah sekitar satu minggu menetap bersama dengan para korban karena Iwan Petrus Bili baru saja mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya patah.

“Mereka (korban dan pelaku) masih bersaudara dan pelaku baru sekitar satu minggu tinggal disini (rumah korban),” jelas sumber yang menolak namanya dikorankan.

Pdt. Naftali Djoru yang dikonfirmasi VN melalui pesan WhatsApp Jumat (30/7) malam menjelaskan ia mendapatkan informasi adanya kasus dugaan pembunuhan dan penganiayaan menggunakan senjata tajam, namun ia tidak tahu persis identitas para korban dan pelaku yang juga masih memiliki hubungan darah tersebut.

“Pastinya korban empat orang, satu meninggal dan tiga lainnya luka-luka, sedangkan pelaku berhasil melarikan diri,” urainya.

Mantan Ketua Umum Badan Pelaksana Majelis Sinode (BPMS) Gereja Kristen Sumba (GKS) ini juga menambahkan kampung tersebut termasuk cukup rawan karena hampor setiap tahun selalu terjadi kasus pembunuhan atau penganiayaan.

“Bulan lalu baru saja terjadi kasus pelecehan anak dibawah umur di wilayah itu,” jelasnya.(bev/ol)

Leave a Comment